:strip_icc()/kly-media-production/medias/5455511/original/051581900_1766670481-WhatsApp_Image_2025-12-25_at_20.29.10.jpeg)
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui inisiatif K.H. Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah bersama Irfan Asy'ari Sudirman Wahid (Gus Ipang Wahid) akan menyelenggarakan "Doa Untuk Negeri" pada Jumat, 26 Desember 2025, di Masjid Raya KH Hasyim Asy'ari, Daan Mogot, Jakarta Barat. Acara ini digagas sebagai respons terhadap serangkaian bencana alam yang melanda tiga provinsi di Sumatra, bertujuan untuk memohon kemudahan dalam menghadapi musibah, perlindungan dari marabahaya, serta menjaga persatuan bangsa Indonesia.
Gus Miftah, pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji, Sleman, Yogyakarta, menyatakan bahwa kegiatan doa bersama ini merupakan ikhtiar PBNU untuk menyuarakan kepedulian terhadap para korban bencana. "Ketika langkah manusia melambat, doa kami melangit," ujarnya, menekankan bahwa musibah adalah pengingat pentingnya solidaritas, empati, dan gotong royong seluruh elemen bangsa. Ia menambahkan, "Di tengah banyaknya musibah yang menimpa saudara-saudara kita, doa adalah kekuatan yang menyatukan. Melalui Doa untuk Negeri ini, kita mengetuk pintu langit agar Indonesia diberi perlindungan, para korban dikuatkan, dan bangsa ini tetap rukun serta saling peduli."
Doa Untuk Negeri akan dihadiri oleh sejumlah tokoh sentral Nahdlatul Ulama, termasuk Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf. Kehadiran kedua pemimpin utama PBNU ini menjadi sorotan, mengingat keduanya dikabarkan memiliki "perbedaan pandangan" terkait kepengurusan PBNU. Selain itu, pimpinan Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri, Jawa Timur, Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar (Gus Kautsar), Wakil Rais Aam KH Anwar Iskandar, Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa, dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Habib Zaidan, serta KH Imam Jazuli juga dijadwalkan hadir. Penyelenggara menegaskan bahwa acara ini murni gerakan moral dan kemanusiaan, tidak terkait dengan dinamika internal organisasi yang sedang berlangsung.
Inisiatif PBNU ini konsisten dengan komitmen historis organisasi dalam menjaga keutuhan bangsa dan merespons tantangan sosial. Sejak didirikan pada tahun 1926, Nahdlatul Ulama secara konsisten memainkan peran sebagai pilar penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, mengusung pendekatan keagamaan yang moderat (wasathiyah) serta menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama. Sebuah survei Litbang Kompas pada Januari 2025 menunjukkan apresiasi publik yang tinggi terhadap kiprah NU, khususnya dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan dan keislaman yang moderat, dengan 81,2% responden menilai NU berkontribusi besar dalam menjaga Pancasila dan persatuan Indonesia.
Dalam konteks yang lebih luas, "Doa Untuk Negeri" oleh PBNU menggarisbawahi upaya organisasi Islam terbesar di Indonesia ini untuk meneguhkan otoritas moralnya di tengah masyarakat. Partisipasi beragam tokoh NU, termasuk mereka yang memiliki perbedaan pandangan, berpotensi menjadi simbol rekonsiliasi dan soliditas internal yang krusial. Peran Gus Miftah dalam menggagas acara ini juga merefleksikan upayanya untuk terus berkontribusi dalam ranah kebangsaan dan kemanusiaan, di samping rekam jejaknya dalam pengajian kebangsaan sebelumnya. Acara semacam ini tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai platform untuk memperkuat kesadaran kolektif akan pentingnya persatuan dan gotong royong dalam menghadapi krisis nasional, sekaligus menegaskan kembali posisi NU sebagai penjaga nilai-nilai kebangsaan.