
Sungai Mahakam di Kalimantan Timur kembali mengungkap kekayaan hayatinya dengan penemuan spesies ikan air tawar endemik baru berukuran mini, Desmopuntius mahakamensis. Deskripsi ilmiah ini dipublikasikan pada akhir Oktober 2025 dalam jurnal ZooKeys, menyoroti urgensi konservasi ekosistem sungai vital di tengah tekanan lingkungan yang masif.
Penemuan signifikan ini dilakukan oleh tim peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang terdiri dari Tonisman Harefa, Haryono, Rudhy Gustiano, dan Gema Wahyudewantoro, berkolaborasi dengan Tedjo Sukmono dari Jurusan Biologi Universitas Jambi. Spesies berukuran kurang dari sembilan sentimeter ini, dengan lima hingga enam garis hitam horizontal di sisi tubuhnya, teridentifikasi hanya di cekungan Sungai Mahakam, termasuk Danau Wis, Danau Jempang, dan beberapa anak sungainya.
Desmopuntius mahakamensis memperkaya genus Desmopuntius menjadi total sembilan spesies yang diakui secara ilmiah, sebelumnya delapan spesies telah ditemukan di Sumatera dan Kalimantan. Perbedaan jumlah sisik, bentuk sirip, dan jarak anatomi yang konsisten pada individu dewasa, serta analisis DNA menunjukkan jarak genetik yang signifikan sebesar 7 hingga 13 persen dari kerabat terdekatnya, D. gemellus.
Penemuan ini menjadi pengingat bahwa Sungai Mahakam, salah satu jalur air terpanjang di Borneo, memiliki keanekaragaman hayati air tawar yang unik namun rentan. Sebelumnya, pada tahun 2019, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga mengumumkan penemuan spesies ikan lele endemik Leiocassis rudicula di hulu sungai ini.
Namun, kabar gembira ini datang bersamaan dengan realitas ekologi Sungai Mahakam yang tidak stabil dan menghadapi krisis serius. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq pada Juli 2025 menyatakan bahwa degradasi sungai terlihat dari penurunan populasi pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) menjadi sekitar 62 individu. "Ini indikator kuat degradasi ekosistem," ujarnya.
Tekanan ekologis ini berasal dari deforestasi di hulu, ekspansi pertambangan batu bara, polusi, serta pembangunan infrastruktur. Spesies air tawar berukuran kecil, dengan toleransi lingkungan yang sempit seperti D. mahakamensis, menjadi kelompok paling rentan terhadap perubahan ini, berpotensi mengalami penurunan populasi sebelum ancaman terdeteksi.
Tonisman Harefa, penulis utama studi tersebut, menegaskan bahwa penemuan ini terjadi di saat keanekaragaman hayati air tawar Mahakam terancam oleh aktivitas manusia. Ko-penulis, Haryono, menambahkan bahwa metode taksonomi integratif yang menggabungkan morfologi detail dengan analisis molekuler sangat krusial. "Tanpa data DNA dan kerja morfometrik yang cermat, kami bisa saja salah mengira ikan ini sebagai varian dari spesies yang sudah dikenal," jelasnya.
Deskripsi resmi D. mahakamensis ini menggarisbawahi pentingnya upaya pelestarian holistik di Mahakam. Konservasi tidak hanya harus menargetkan spesies ikonik seperti pesut, tetapi juga ikan kecil endemik yang kurang terlihat, demi menjaga keseimbangan seluruh ekosistem dan keberlanjutan hidup manusia yang bergantung pada sungai ini.