
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) berencana mengimplementasikan kolaborasi strategis guna merangkul periset kampus dan mahasiswa untuk melakukan riset secara gratis. Inisiatif yang diumumkan oleh Kepala BRIN, Arif Satria, pada Senin (22/12/2025) di Gedung BJ Habibie, Jakarta Pusat, ini bertujuan mengatasi ketimpangan jumlah periset di Indonesia dan mengintegrasikan riset dasar perguruan tinggi dengan riset terapan BRIN.
Langkah kolaboratif ini mencakup pembukaan jabatan fungsional periset bagi akademisi di kampus yang selama ini seringkali tidak memiliki jenjang karier riset meskipun aktif menghasilkan publikasi dan penelitian. Arif Satria menyoroti bahwa rasio periset di Indonesia masih sangat rendah, yakni kurang dari 300 per 1 juta penduduk, jauh di bawah negara seperti Korea Selatan yang mencapai lebih dari 4.000 periset per 1 juta penduduk. Dengan memungkinkan dosen bergelar S3 yang memiliki rekam jejak riset untuk diakui sebagai periset fungsional, BRIN berharap dapat meningkatkan jumlah talenta riset nasional secara signifikan tanpa harus menambah staf internal BRIN secara langsung.
Selain itu, kolaborasi ini juga membuka akses gratis bagi mahasiswa jenjang S1 hingga S3 untuk memanfaatkan fasilitas riset canggih yang dimiliki BRIN guna mendukung penelitian mandiri dan tugas akhir mereka. Program ini merupakan bagian dari upaya BRIN untuk menciptakan ekosistem riset yang lebih terbuka dan inklusif, mendorong interaksi antara periset kampus dengan peneliti BRIN, serta memfasilitasi pertukaran ilmu dan pengalaman. BRIN juga menyediakan skema bantuan pendanaan riset bagi mahasiswa yang membutuhkan untuk menyelesaikan skripsi, tesis, atau disertasi.
Latar Belakang dan Tantangan Ekosistem Riset Nasional
Sejak dibentuk melalui Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2021, BRIN mengemban mandat sebagai satu-satunya lembaga riset pemerintah yang mengintegrasikan berbagai lembaga litbang kementerian dan lembaga negara. Tujuannya adalah membangun ekosistem riset dan inovasi yang lebih terarah dan berdampak. Namun, ekosistem riset Indonesia menghadapi sejumlah tantangan fundamental. Kepala BRIN sebelumnya, Laksana Tri Handoko, pada 2021 mengidentifikasi tiga hambatan utama: rendahnya critical mass sumber daya manusia, infrastruktur, dan anggaran; dominasi anggaran riset oleh pemerintah (sekitar 80%); serta adanya ego sektoral yang meminimalkan kolaborasi.
Meskipun anggaran riset nasional telah menunjukkan peningkatan, dengan proyeksi mencapai Rp1,9 triliun untuk tahun 2026 yang disalurkan melalui skema Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM), ini masih dianggap belum optimal jika dibandingkan dengan negara maju. Pada 2023, anggaran BRIN sendiri sebesar Rp6,388 triliun. Dana RIIM, yang telah berjalan sejak 2022, hingga 2025 telah mendukung sekitar 200 perguruan tinggi, 90 institusi riset, dan 40 startup atau industri, menghasilkan lebih dari 2.600 publikasi ilmiah dan 1.210 kekayaan intelektual.
Kemdiktisaintek, yang bertanggung jawab atas pengembangan riset di perguruan tinggi, bersama BRIN, telah berupaya menanggapi isu tumpang tindih peran dengan memperjelas fokus masing-masing. Nadiem Makarim, saat masih menjabat Mendikbudristek, pada 2021 menyatakan bahwa Kemendikbudristek berfokus pada pengembangan riset di perguruan tinggi, sementara BRIN menjadi pelaksana utama strategi riset pemerintah dengan anggaran yang lebih besar dan otonomi untuk riset strategis dan berskala besar (big science). Kolaborasi semacam ini penting mengingat hanya sekitar 5 persen perguruan tinggi di Indonesia yang benar-benar bertransformasi menjadi universitas riset.
Implikasi Jangka Panjang
Kolaborasi BRIN-Kemdiktisaintek memiliki potensi implikasi jangka panjang yang signifikan bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Dengan membuka akses fasilitas dan peluang karier riset, inisiatif ini dapat mendorong peningkatan kuantitas dan kualitas periset, mempercepat laju inovasi, dan memastikan hasil riset lebih relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat. Kepala BRIN, Arif Satria, menyatakan harapannya agar Indonesia dapat naik ke peringkat 45 dalam Global Innovation Index (GII) pada tahun 2028-2029, dari posisi 55 pada 2025. Pada tahun 2024, Indonesia berada di peringkat 54 dari 133 negara, menunjukkan peningkatan namun masih di bawah beberapa negara Asia Tenggara lainnya.
Integrasi riset dasar kampus dengan riset terapan BRIN diharapkan menghasilkan inovasi yang tidak hanya berhenti di laboratorium tetapi juga dapat dihilirisasi dan diindustrialisasikan. Program seperti Magang Riset Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) telah menjadi jembatan bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dalam kegiatan litbangjirap BRIN, mendapatkan pengalaman kerja yang setara dengan 20 SKS.
Namun, keberhasilan kolaborasi ini juga bergantung pada kemampuan kedua lembaga untuk mengatasi tantangan klasik seperti birokrasi, penyelarasan prioritas riset, serta memastikan pemerataan akses dan kualitas di seluruh perguruan tinggi. Pentingnya sinergi antara akademisi, pemerintah, dan industri (pendekatan triple helix atau pentahelix) menjadi kunci untuk membangun ekosistem inovasi yang berkelanjutan. BRIN dan Kemdiktisaintek berkomitmen untuk memperkuat ekosistem riset yang terbuka dan kolaboratif, memastikan setiap riset memiliki dampak nyata terhadap industri dan masyarakat.