
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta kembali mendeteksi keberadaan Bibit Siklon Tropis 91S di Samudra Hindia barat daya Lampung pada 3 Januari 2026 pukul 01.00 WIB, dengan pembaruan data per 4 Januari 2026 pukul 07.00 WIB. Sistem ini, yang menunjukkan kecepatan angin maksimum mencapai 35 knot (65 km/jam) dan tekanan udara minimum 1.002 hektopascal (hPa), diprediksi memiliki peluang sedang untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan, meskipun pergerakannya terpantau menuju timur-tenggara menjauhi wilayah Indonesia.
Deteksi ulang Bibit Siklon Tropis 91S ini memicu peringatan dini terhadap potensi dampak tidak langsung berupa angin kencang dan gelombang tinggi di sejumlah perairan Indonesia hingga setidaknya Senin, 5 Januari 2026 pukul 07.00 WIB. Wilayah Bengkulu dan Lampung diperkirakan akan mengalami angin kencang. Sementara itu, perairan barat Kepulauan Nias hingga Lampung, perairan selatan Pulau Jawa, serta Selat Sunda bagian selatan berpotensi menghadapi gelombang laut setinggi 1,25 hingga 2,5 meter (kategori Moderate Sea). Kondisi perairan yang lebih ekstrem, dengan gelombang mencapai 2,5 hingga 4,0 meter (kategori Rough Sea), diantisipasi terjadi di Samudra Hindia barat Bengkulu hingga Lampung serta Samudra Hindia selatan Pulau Jawa.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menekankan bahwa meskipun bibit siklon ini bergerak menjauhi wilayah Indonesia, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap dampak tidak langsung yang ditimbulkan. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani sebelumnya telah berulang kali mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap fenomena bibit siklon tropis, yang kendati jarang berkembang menjadi siklon tropis utuh yang masuk daratan Indonesia, tetap dapat memicu cuaca ekstrem dan gelombang tinggi di perairan sekitarnya.
Fenomena Bibit Siklon Tropis 91S bukanlah hal baru. Sistem serupa telah terdeteksi sebelumnya, seperti pada Desember 2025, di mana Bibit Siklon Tropis 91S di Samudra Hindia barat daya Lampung bahkan sempat menguat menjadi Siklon Tropis Bakung pada 12 Desember 2025 dengan kecepatan angin maksimum 35 knot (65 km/jam). Meskipun Siklon Tropis Bakung bergerak menjauhi Indonesia, dampaknya masih dirasakan dalam bentuk peningkatan curah hujan dan gelombang tinggi. Ini menunjukkan pola bahwa bibit siklon tropis di Samudra Hindia, terutama di selatan ekuator, memiliki potensi signifikan memengaruhi kondisi cuaca dan kelautan di Indonesia bagian barat dan selatan.
Secara historis, wilayah Samudra Hindia selatan Indonesia merupakan salah satu basin pembentukan siklon tropis, dengan puncaknya antara bulan November hingga April. Dampak tidak langsung dari siklon tropis, atau bibitnya, terhadap Indonesia meliputi terbentuknya daerah pumpunan dan belokan angin, serta daerah defisit kelembaban, yang semuanya berkontribusi pada peningkatan curah hujan dan kecepatan angin. Para ahli meteorologi terus memantau dinamika atmosfer secara intensif. Koordinasi antara BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan pemerintah daerah juga dilakukan untuk memastikan langkah mitigasi berjalan optimal dalam menghadapi potensi risiko bencana hidrometeorologi. Peningkatan frekuensi dan intensitas fenomena cuaca ekstrem seperti bibit siklon tropis ini juga menjadi sorotan dalam konteks perubahan iklim global, yang menuntut adaptasi dan kesiapsiagaan jangka panjang dari masyarakat dan pemerintah.