Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Ancaman Hujan Ekstrem 20-26 Januari: Bibit Siklon 97 S Mengintai Wilayah Terdampak

2026-01-21 | 05:33 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-20T22:33:18Z
Ruang Iklan

Ancaman Hujan Ekstrem 20-26 Januari: Bibit Siklon 97 S Mengintai Wilayah Terdampak

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi pembentukan Bibit Siklon Tropis 97S di Laut Timor yang berpotensi memicu hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi di sejumlah wilayah Indonesia selama periode 20 hingga 26 Januari 2026. Sistem ini meningkatkan pola konvergensi atmosfer, khususnya di wilayah selatan Indonesia, yang mendukung pertumbuhan awan hujan intensif. Peringatan dini telah dikeluarkan BMKG, dengan Nusa Tenggara Timur (NTT) berada pada status Awas untuk hujan sangat lebat hingga ekstrem pada 20 Januari 2026. Sementara itu, wilayah seperti Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan berstatus Siaga menghadapi hujan lebat hingga sangat lebat.

Bibit Siklon Tropis 97S, yang mulai terpantau sejak 16 Januari 2026 pukul 07.00 WIB di dalam wilayah monitoring Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta, awalnya berada di sekitar Pesisir Utara Australia. Meskipun pada 20 Januari 2026, analisis BMKG menunjukkan pusat sirkulasi berada di Teluk Joseph Bonaparte, Australia bagian utara, dengan kecepatan angin maksimum 15 knot (28 km per jam) dan tekanan udara minimum 1001 hPa, pengaruhnya tetap signifikan terhadap cuaca Indonesia. Pergerakan sistem 97S ke arah barat dapat memicu penguatan pertemuan serta belokan angin dari pesisir barat Sumatra hingga Nusa Tenggara, meningkatkan pembentukan awan hujan di wilayah selatan Indonesia.

Fenomena cuaca ekstrem ini merupakan hasil kombinasi beberapa faktor dinamika atmosfer. Selain Bibit Siklon Tropis 97S, penguatan Monsun Asia yang membawa suplai massa udara lembap dari Laut Cina Selatan, Madden-Julian Oscillation (MJO) yang aktif di Samudra Hindia hingga selatan NTT, serta Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuator, semuanya berkontribusi pada peningkatan aktivitas konvektif dan potensi hujan di kawasan tersebut. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, sebelumnya telah menekankan bahwa Indonesia memasuki puncak musim hujan pada Januari 2026, dengan potensi hujan tinggi hingga sangat tinggi di Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Papua bagian selatan, serta sebagian Sulawesi Selatan, bahkan curah hujan dapat melampaui 500 milimeter per bulan.

Dampak yang diwaspadai meliputi bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang, dan genangan air. BMKG juga memprediksi potensi peningkatan tinggi gelombang laut, khususnya di perairan NTT, yang dapat mencapai kategori sangat tinggi (2.5 – 4.0 meter) di Selat Lombok bagian selatan, Selat Alas bagian selatan, Selat Sape bagian selatan, dan perairan Samudera Hindia Selatan NTB pada 20-22 Januari 2026, mengancam aktivitas pelayaran. Pada periode 23-26 Januari 2026, hujan intensitas sedang diprakirakan meluas ke sejumlah provinsi di Sumatra Selatan, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, hingga wilayah Papua.

Secara historis, Indonesia rentan terhadap dampak siklon tropis meskipun umumnya terbentuk di luar wilayah daratannya. TCWC Jakarta, yang dibentuk BMKG pada 28 Maret 2008, bertugas memantau dan memprakirakan intensitas serta pergerakan siklon tropis di wilayah tanggung jawabnya. Sejak 2008, tercatat 11 siklon tropis yang tumbuh di wilayah pemantauan TCWC Jakarta dan berdampak signifikan pada kondisi cuaca ekstrem di Indonesia, termasuk Siklon Tropis Cempaka dan Dahlia pada 2017 serta Seroja pada 2021. Intensifikasi sistem cuaca saat ini menunjukkan bahwa fenomena ini bukan kejadian tunggal, melainkan bagian dari pola cuaca yang lebih besar yang memerlukan kewaspadaan berkelanjutan dari masyarakat dan pemerintah daerah. Mengingat dinamika atmosfer yang cepat berubah, BMKG secara konsisten mengimbau masyarakat untuk memantau pembaruan informasi cuaca melalui kanal resmi dan mempersiapkan langkah mitigasi dini untuk meminimalkan dampak bencana.