
Jumlah mahasiswa pascasarjana (S2 dan S3) asal Tiongkok yang berhasil meraih gelar dari universitas-universitas di Amerika Serikat masih menjadi yang terbanyak dibandingkan negara lain, mencapai 6.756 lulusan PhD pada tahun 2024, menurut data terbaru dari National Science Foundation (NSF) AS. Angka ini jauh melampaui India yang berada di posisi kedua dengan 2.649 lulusan PhD, dan Korea Selatan dengan 1.061 lulusan PhD. Indonesia, di sisi lain, masih tertinggal jauh dengan hanya 82 lulusan PhD dari AS pada periode yang sama.
Dominasi Tiongkok di level pascasarjana, terutama pada program doktoral yang seringkali menggabungkan studi S2 dan S3 selama 5-6 tahun di AS, menyoroti persaingan global dalam pengembangan talenta tingkat tinggi. Profesor Haryadi Gunawi dari The University of Chicago, AS, menekankan bahwa sekitar 35-40% mahasiswa PhD di bidang sains dan teknik di AS adalah mahasiswa internasional. Jika pada tahun 2018 terdapat 6.000 mahasiswa Tiongkok yang lulus PhD, jumlah mahasiswa PhD Tiongkok yang aktif dalam program S2-S3 saat ini bisa mencapai 37.000 hingga 40.000 orang, belum termasuk program profesional master.
Secara keseluruhan, jumlah mahasiswa internasional di AS mencapai rekor 1,17 juta orang pada tahun akademik 2024/2025, meningkat 5% dari tahun sebelumnya. Mahasiswa internasional memberikan kontribusi signifikan, sekitar $55 miliar bagi perekonomian AS pada tahun 2024 dan mendukung lebih dari 355.000 lapangan kerja. Namun, tren pendaftaran mahasiswa pascasarjana baru menunjukkan penurunan 15% pada musim gugur 2024 dan 12% pada musim gugur 2025, sementara total mahasiswa pascasarjana internasional mengalami penurunan 3% di tahun akademik 2024/2025 setelah tiga tahun pertumbuhan. Penurunan ini sebagian diakibatkan oleh pemotongan dana penelitian federal dan kekhawatiran terkait visa, dengan 96% institusi menyebutkan masalah visa sebagai faktor utama dalam penurunan pendaftaran baru.
Meskipun Tiongkok mendominasi jumlah lulusan PhD, India kini menjadi negara pengirim mahasiswa internasional terbesar ke AS secara keseluruhan, dengan 363.019 mahasiswa pada 2024/2025, meningkat 10%. Tiongkok menempati posisi kedua dengan 265.919 mahasiswa, mengalami penurunan 4%. Pergeseran ini mencerminkan tren yang telah terjadi beberapa tahun terakhir seiring menurunnya pendaftaran dari Tiongkok. Sebanyak 57% mahasiswa internasional di berbagai jenjang studi memilih bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika).
Sementara itu, Indonesia menunjukkan peningkatan jumlah mahasiswa secara keseluruhan di AS. Pada tahun akademik 2023-2024, Indonesia mengirimkan 8.348 mahasiswa ke Amerika Serikat, menjadikannya kontributor terbesar kedua dari Asia Tenggara dan menduduki peringkat ke-23 di dunia. Namun, angka 82 lulusan PhD pada tahun 2024 menunjukkan tantangan besar bagi Indonesia dalam membangun kapasitas sumber daya manusia tingkat lanjut. Program beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) berperan penting dalam menyiapkan pemimpin dan profesional masa depan Indonesia melalui beasiswa dan mendorong inovasi penelitian.
Persaingan talenta global, khususnya di bidang sains dan teknologi, menjadi semakin intens di tengah rivalitas geopolitik antara AS dan Tiongkok. Tiongkok melalui "Next Generation Artificial Intelligence Development Plan" yang dirilis pada 2017 telah mendorongnya menuju posisi pemimpin global dalam AI, memicu AS untuk menerapkan kebijakan proteksionisme, termasuk larangan ekspor chip dan semikonduktor, serta pembatasan investasi AS di sektor AI Tiongkok. Rivalitas ini tidak hanya berdampak pada sektor teknologi, tetapi juga memengaruhi stabilitas keamanan global dan aliran talenta.
Jason Czyz, Presiden dan CEO Institute of International Education (IIE), menyatakan bahwa mahasiswa internasional datang ke Amerika Serikat untuk memajukan pendidikan mereka dan berkontribusi pada perguruan tinggi dan komunitas AS. Data ini menyoroti dampak mahasiswa internasional dalam mendorong inovasi, memajukan beasiswa, dan memperkuat pemahaman lintas budaya. Di sisi lain, Dr. Mirka Martel, Kepala Riset, Evaluasi & Pembelajaran IIE, mencatat bahwa perubahan dalam pendaftaran baru mungkin terkait dengan faktor-faktor terbaru yang memengaruhi mahasiswa internasional, termasuk kekhawatiran visa dan pembatasan perjalanan.
Marty Bennet, Direktur Perekrutan dan Keterlibatan Internasional The University of Akron, Ohio, AS, menggarisbawahi bahwa keputusan untuk belajar di luar negeri dipengaruhi oleh akses ke universitas unggulan, peluang beasiswa, kemudahan akses bahasa, serta kondisi negara tujuan yang stabil dan aman. Sementara itu, Indonesia juga mulai melihat peningkatan jumlah mahasiswa yang melanjutkan studi ke Tiongkok, didorong oleh kualitas pendidikan yang baik, biaya yang relatif rendah, dan jarak geografis yang lebih dekat.
Di tengah lanskap pendidikan tinggi global yang dinamis ini, kebijakan AS terhadap mahasiswa internasional, terutama di jenjang pascasarjana, akan terus menjadi titik fokus. Penurunan pendaftaran mahasiswa pascasarjana baru menunjukkan perlunya perhatian terhadap faktor-faktor penghambat, sementara negara-negara seperti Tiongkok terus memanfaatkan celah untuk memperkuat kapasitas talenta domestik mereka. Bagi Indonesia, peningkatan jumlah lulusan PhD dari institusi global menjadi krusial untuk bersaing dalam ekonomi pengetahuan abad ke-21.