
Fenomena kilatan cahaya merah menyertai dentuman keras yang menggegerkan warga di sejumlah wilayah utara Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada Senin, 5 Januari 2026, sekitar pukul 22.15 WIB, kini sedang diselidiki oleh berbagai pihak. Sonni Setiawan, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, menduga kuat kejadian tersebut merupakan fenomena bolide atau bola api. Warga di Kecamatan Cipanas, Pacet, dan Sukaresmi melaporkan suara gemuruh disusul dentuman kencang yang membuat mereka berhamburan keluar rumah, lalu melihat kilatan cahaya kemerahan di langit.
Pakar dari IPB University, Sonni Setiawan, menjelaskan bahwa analisis data cuaca saat kejadian tidak menunjukkan aktivitas badai petir atau cuaca ekstrem. Pemantauan seismograf juga tidak mencatat adanya aktivitas seismik maupun vulkanik di kawasan Gunung Gede Pangrango, yang sebelumnya dipastikan oleh Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) berada dalam kondisi normal (Level I). Dalam pernyataannya pada Jumat, 9 Januari 2026, Setiawan menegaskan bahwa bolide adalah peristiwa masuknya meteoroid berukuran relatif besar ke atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi. Gesekan meteoroid dengan atmosfer bumi menyebabkan material tersebut terbakar cepat dan menghasilkan kilatan cahaya yang sangat terang. Jika ukurannya cukup besar, meteoroid dapat meledak di atmosfer, menimbulkan gelombang kejut sonik yang terdengar sebagai dentuman keras di permukaan. Kilatan cahaya yang terlihat juga merupakan hasil dari proses ablasi dan ionisasi atmosfer yang memicu pelepasan energi elektromagnetik.
Dugaan Sonni Setiawan ini memberikan titik terang di tengah beragam spekulasi awal. Sebelumnya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), melalui Penyelidik Bumi Utama Supartoyo, menduga fenomena tersebut berkaitan dengan energi elektromagnetik sebagai bagian dari fenomena atmosfer dan geofisika, namun belum menemukan pemicu pastinya karena tidak ada aktivitas kegempaan. Di sisi lain, Kepala BMKG Jawa Barat, Teguh Rahayu, sempat memiliki dugaan berbeda, yakni fenomena itu berasal dari aktivitas manusia, karena alat pemantau BMKG Bandung tidak mendeteksi aktivitas kegempaan maupun badai petir saat kejadian. Pakar ancaman geologi dari Universitas Padjadjaran, Nana Sulaksana, juga menyimpulkan kejadian tersebut bukan dari faktor alam seperti gempa atau petir, berdasarkan nihilnya data pendukung. Kepala BPBD Cianjur, Iwan Karyadi, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan waspada sembari pihaknya mengumpulkan informasi lebih lanjut mengenai penyebab pasti peristiwa tersebut.
Fenomena bolide, meskipun jarang terjadi dengan dampak signifikan, memiliki preseden ilmiah global. Obyek antariksa yang memasuki atmosfer Bumi dapat menciptakan spektakel cahaya dan suara, tergantung pada ukuran, komposisi, dan kecepatan masuknya. Penjelasan ini menjauhkan insiden Cianjur dari interpretasi mistis yang sering muncul dalam masyarakat, seperti "Banaspati" yang dalam kajian ilmiah dikenal sebagai "Ignis Fatuus" atau "Will-o'-the-Wisp" (cahaya alami dari gas metana atau fosfin di rawa) atau bola petir. Peristiwa kilatan cahaya yang diidentifikasi sebagai bolide ini menunjukkan pentingnya sistem pemantauan atmosfer dan geofisika yang terintegrasi untuk memberikan informasi akurat dan edukasi publik. Investigasi lebih lanjut dari pihak-pihak berwenang akan krusial untuk memastikan penyebab definitif dan memahami potensi implikasi jangka panjang dari kejadian serupa di masa depan, termasuk perlunya sosialisasi mitigasi bencana terkait objek antariksa yang dapat memasuki atmosfer Bumi.