
Universitas Indonesia (UI) resmi membuka Program Studi (Prodi) Sarjana Kecerdasan Artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang akan mulai menerima mahasiswa baru pada tahun akademik 2026/2027, menandai langkah strategis institusi pendidikan tinggi tersebut dalam merespons perkembangan pesat teknologi AI secara global dan nasional. Pengumuman ini disampaikan melalui akun Instagram resmi Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom UI) pada Selasa (6/1) lalu, setelah proposal pembukaan prodi disahkan oleh Senat Akademik UI pada 3 Oktober 2025. Pembukaan program ini menegaskan posisi UI dalam peta pendidikan teknologi nasional, meski bukan yang pertama di Indonesia yang menghadirkan pendidikan AI secara formal.
Langkah UI ini selaras dengan Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial Indonesia 2020-2045 yang bertujuan mendukung transformasi digital nasional. Kurikulum Prodi Kecerdasan Artifisial UI disusun mengacu pada standar nasional dan internasional, diperkaya melalui kolaborasi dengan industri, pemerintah, dan lembaga riset. Mahasiswa akan dibekali kompetensi dalam AI modeling, AI system engineering, serta pemahaman etika dalam pengembangan teknologi AI yang berpusat pada manusia (human-centric AI). Mata kuliah inti yang ditawarkan meliputi AI Product Design, Architecture, Engineering, and Operations of AI Applications (AI/MLOps), Foundations of Data Engineering, AI Ethics, Knowledge Representation & Reasoning, Search & Optimization, dan Generative AI. Mata kuliah lain seperti Pembelajaran Mesin (Machine Learning), Penambangan Data (Data Mining), Pengolahan Bahasa Manusia (Natural Language Processing), Pengolahan Citra dan Multimedia, serta Robotika juga menjadi bagian dari program studi ini.
Pembukaan prodi ini datang di tengah kebutuhan mendesak akan talenta digital di Indonesia. Data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memproyeksikan Indonesia membutuhkan total 9 juta talenta digital hingga tahun 2030, namun hingga Desember 2025, realisasi pemenuhan tenaga terampil baru mencapai sekitar 30% dari target tersebut. Sementara itu, data Bank Dunia menunjukkan bahwa Indonesia membutuhkan rata-rata 600.000 talenta digital setiap tahunnya dalam 15 tahun. Laporan Artificial Intelligence Index Report 2025 dari Stanford University juga menunjukkan bahwa Indonesia mencatatkan kenaikan konsentrasi talenta AI sebesar 191% dalam kurun waktu 2016 hingga 2024, menandakan semakin banyaknya profesional yang terjun di industri AI.
Peran UI dalam menyikapi kebutuhan ini tidak hanya terbatas pada pendidikan formal. Rektor UI, Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, yang dilantik pada Desember 2024 untuk periode 2024-2029, sebelumnya telah menekankan pentingnya pengembangan kecerdasan buatan yang tidak mengabaikan etika dan tanggung jawab akademik. Dalam pidato kuncinya pada World University President's Forum (WUPF) 2025, Heri memaparkan bagaimana UI telah menggunakan AI dalam pengajaran adaptif, deteksi kejujuran akademik, pemantauan kesehatan, hingga model-model riset. Pendekatan ini menegaskan posisi UI sebagai pelopor human-centred AI.
Meskipun UI bukan yang pertama, beberapa perguruan tinggi di Indonesia telah lebih dulu membuka program studi atau mengintegrasikan kecerdasan buatan. Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) misalnya, membuka Program Studi S1 Mekatronika dan Kecerdasan Buatan sejak 2021. Universitas Bunda Mulia (UBM) juga disebut sebagai salah satu kampus paling awal membuka Program Studi S1 Artificial Intelligence secara khusus pada November 2024. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menawarkan Sarjana Rekayasa Kecerdasan Artifisial, sementara Universitas Bina Nusantara (Binus) dan Universitas Pelita Harapan (UPH) memiliki program "Artificial Intelligence".
Kehadiran Prodi Kecerdasan Artifisial di UI diharapkan menjadi katalisator dalam melahirkan generasi inovator dan profesional AI yang mampu bersaing di tingkat internasional dan berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa. Hal ini juga berimplikasi pada ekosistem pendidikan tinggi di Indonesia, mendorong universitas lain untuk terus berinovasi dalam merespons perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar kerja masa depan. Pemerintah sendiri telah mengintegrasikan AI dan Coding sebagai mata pelajaran pilihan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah mulai tahun ajaran 2025/2026, meski masih menghadapi tantangan ketimpangan sarana dan prasarana. Tren ini menunjukkan bahwa AI bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan fondasi penting bagi kemajuan nasional yang memerlukan kesiapan sumber daya manusia dan infrastruktur digital yang memadai.