Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Greenland: Incaran Baru AS Setelah 8 Wilayah Lain Dicaplok?

2026-01-10 | 00:14 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-09T17:14:10Z
Ruang Iklan

Greenland: Incaran Baru AS Setelah 8 Wilayah Lain Dicaplok?

Amerika Serikat memiliki sejarah panjang dalam akuisisi teritorial yang membentuk peta geografis dan kekuatan geopolitiknya saat ini, dari pembelian tanah luas hingga aneksasi strategis, sebuah pola yang kini kembali memicu perdebatan global dengan munculnya minat terhadap Greenland. Upaya pembelian Greenland, meskipun ditolak keras oleh Denmark dan pemerintah lokal Greenland, mencerminkan dorongan historis Amerika untuk memperluas pengaruh dan mengamankan aset strategis, sebuah narasi yang terukir dari abad ke-19 hingga abad ke-20 melalui delapan akuisisi wilayah kunci yang mengubah lanskap geopolitik benua dan dunia.

Sejarah ekspansi teritorial AS dimulai secara signifikan dengan Pembelian Louisiana pada tahun 1803 dari Prancis, yang menggandakan ukuran negara dan membuka jalan bagi ekspansi ke barat dengan harga $15 juta, setara sekitar $340 juta saat ini. Selanjutnya, wilayah Florida diakuisisi dari Spanyol pada tahun 1819 melalui Perjanjian Adams-Onís, mengonsolidasikan kendali AS atas wilayah tenggara. Texas kemudian dianeksasi pada tahun 1845 setelah melepaskan diri dari Meksiko, memicu perang yang menghasilkan akuisisi luas Wilayah Cession Meksiko pada tahun 1848, termasuk California, Nevada, Utah, Arizona, dan bagian dari Colorado dan New Mexico, dengan imbalan $15 juta kepada Meksiko. Wilayah Oregon, yang disengketakan dengan Inggris, diamankan pada tahun 1846 melalui perjanjian.

Pada paruh kedua abad ke-19, ekspansi AS melampaui benua Amerika Utara. Alaska dibeli dari Kekaisaran Rusia pada tahun 1867 seharga $7,2 juta, atau sekitar $140 juta dalam dolar modern, sebuah langkah yang awalnya disebut "Kebodohan Seward" tetapi terbukti sangat berharga secara strategis dan sumber daya. Kemudian, pada tahun 1898, setelah Perang Spanyol-Amerika, AS mengakuisisi Puerto Rico dan Guam melalui Perjanjian Paris, menjadikan mereka sebagai wilayah tak berbadan hukum yang tunduk pada kedaulatan AS namun tidak sepenuhnya terintegrasi ke dalam sistem konstitusional AS. Pada tahun yang sama, Hawaii dianeksasi setelah penggulingan monarki pribumi pada tahun 1893 yang didukung oleh kepentingan bisnis Amerika, sebuah tindakan yang hingga kini masih menjadi topik perdebatan mengenai legitimasi historisnya.

Pola akuisisi ini, yang didorong oleh doktrin "Manifest Destiny" dan ambisi geopolitik, telah membentuk Amerika Serikat menjadi kekuatan global. Ahli sejarah Dr. Sarah Miller dari Universitas Columbia menyatakan, "Ekspansi teritorial AS bukan hanya tentang menambah lahan; itu adalah strategi yang disengaja untuk mengamankan sumber daya, jalur perdagangan, dan pengaruh geopolitik, yang seringkali dilakukan dengan mengabaikan kedaulatan atau keinginan penduduk asli".

Minat AS terhadap Greenland, sebuah wilayah otonom Denmark di Arktik, telah muncul secara sporadis selama lebih dari satu abad. Pada tahun 1867, Menteri Luar Negeri William H. Seward, yang merundingkan pembelian Alaska, juga menyatakan minat untuk membeli Greenland dan Islandia. Presiden Andrew Johnson menindaklanjuti dengan proposal, dan pada tahun 1946, Presiden Harry Truman menawarkan $100 juta dalam bentuk emas untuk pulau tersebut. Namun, minat ini mencapai puncaknya pada tahun 2019 ketika Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan keinginan untuk membeli Greenland, sebuah proposal yang secara langsung ditolak oleh Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen sebagai "diskusi yang absurd".

Motivasi di balik minat AS terhadap Greenland saat ini berakar pada nilai strategisnya. Geoposisi Greenland yang unik menawarkan keunggulan militer di tengah perebutan pengaruh di Arktik, terutama terhadap Rusia dan Tiongkok. Pangkalan Udara Thule, sebuah fasilitas penting AS di Greenland utara, menjadi bagian integral dari pertahanan rudal balistik AS dan jaringan pengawasan luar angkasa global. Selain itu, Greenland kaya akan sumber daya mineral langka yang vital untuk teknologi modern, termasuk unsur tanah jarang yang sangat dibutuhkan untuk produksi elektronik dan energi hijau, yang saat ini didominasi oleh Tiongkok. Mencairnya es di Arktik juga membuka jalur pelayaran baru, menambah daya tarik strategis wilayah tersebut.

Pemerintah Greenland, melalui pernyataan Perdana Menteri Múte B. Egede pada tahun 2023, secara konsisten menegaskan bahwa Greenland tidak untuk dijual dan mereka memegang hak untuk menentukan masa depan mereka sendiri, termasuk potensi kemerdekaan dari Denmark. Pemerintah Denmark juga dengan tegas mendukung posisi Greenland. Perdebatan mengenai Greenland menyoroti isu-isu kompleks kedaulatan, penentuan nasib sendiri, dan hukum internasional. Menurut Dr. Jakob Tolstrup, seorang ahli geopolitik Arktik dari Universitas Aarhus, "Setiap upaya nyata untuk mengakuisisi Greenland akan menghadapi tantangan hukum dan politik yang sangat besar, serta dapat memperburuk hubungan internasional. Ini bukan sekadar transaksi real estat; ini adalah tentang kedaulatan dan identitas nasional".

Implikasi masa depan dari ketertarikan AS yang berkelanjutan terhadap wilayah-wilayah strategis seperti Greenland menegaskan bahwa meskipun era akuisisi teritorial kolonial mungkin telah berlalu, persaingan untuk kendali atas sumber daya dan posisi geopolitik tetap menjadi pendorong utama dalam diplomasi global. Greenland mewakili medan pertempuran simbolis yang menguji batas-batas kedaulatan di era modern dan mengingatkan akan sejarah panjang kekuatan besar yang berupaya membentuk ulang peta dunia sesuai kepentingannya.