
Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, terinspirasi oleh model pendidikan unggulan yang diterapkan di SMA Unggulan CT Arsa Foundation saat mematangkan rencana pendirian Sekolah Rakyat. Kunjungan Gus Ipul bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono ke SMA Unggulan CT Arsa Foundation di Sukoharjo, Jawa Tengah, pada Maret 2025, bertujuan untuk mempelajari konsep yang berhasil mencetak siswa berkualitas, banyak di antaranya diterima di perguruan tinggi ternama di dalam maupun luar negeri, meskipun berasal dari keluarga kurang mampu.
Visi CT ARSA Foundation, yang didirikan oleh Chairul Tanjung dan Anita Ratnasari Tanjung pada tahun 2005, adalah memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan berkualitas dan kesehatan optimal bagi masyarakat kurang mampu. SMA Unggulan CT Arsa, yang merupakan salah satu pilar pendidikan yayasan, menyeleksi siswa berprestasi dari keluarga prasejahtera dan menyediakan pendidikan gratis sepenuhnya, fasilitas asrama, serta makan tiga kali sehari. Kurikulumnya berfokus pada pengembangan akademik, pembangunan karakter, serta persiapan intensif untuk ujian masuk universitas sejak kelas X, termasuk penguatan literasi verbal dan numerik. Tingkat kelulusan siswa SMA Unggulan CT Arsa Foundation yang diterima di universitas ternama mencapai lebih dari 92 persen. Gus Ipul menyatakan kekagumannya terhadap kepercayaan diri dan kemampuan para siswa CT Arsa.
Program Sekolah Rakyat, yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto, dirancang untuk memberikan akses pendidikan gratis dan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga miskin dengan tingkat kesejahteraan terendah (Desil 1–4). Inisiatif ini merupakan model pengentasan kemiskinan terpadu, tidak hanya menyediakan pendidikan bagi siswa, tetapi juga program pemberdayaan ekonomi bagi keluarga mereka. Kementerian Sosial telah mendirikan 166 titik Sekolah Rakyat rintisan pada tahun ajaran 2025-2026, menampung lebih dari 15.000 siswa. Untuk tahun 2026, direncanakan pembangunan 104 gedung permanen Sekolah Rakyat di berbagai provinsi, termasuk wilayah 3T, dengan target tambahan 100 titik lagi. Setiap sekolah permanen diperkirakan dapat menampung sekitar 1.000 siswa, dengan kapasitas 300 siswa baru per tahun untuk jenjang SD, SMP, dan SMA.
Kesenjangan pendidikan di Indonesia masih menjadi tantangan signifikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2023 menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas baru menamatkan pendidikan setara SMP, dengan rata-rata lama pendidikan nasional hanya 8,3 tahun dari target 12 tahun. Ketimpangan akses pendidikan juga terlihat jelas antara wilayah perkotaan dan perdesaan, di mana persentase penduduk desa yang tidak/belum pernah sekolah mencapai 5,11% dan yang tidak menamatkan SD sebesar 12,39%, jauh lebih tinggi dibandingkan di perkotaan. Selain itu, fasilitas dan infrastruktur pendidikan di pedesaan seringkali tidak memadai, serta kualitas guru masih menjadi masalah serius. Pada tahun 2024, hanya 38.835 desa yang memiliki fasilitas SMP dan 18.131 desa yang memiliki SMA, menunjukkan tantangan besar pada pendidikan menengah.
Inisiatif Sekolah Rakyat yang terinspirasi dari keberhasilan SMA Unggulan CT Arsa Foundation merupakan langkah strategis dalam mengatasi disparitas pendidikan dan kemiskinan struktural. Dengan menargetkan keluarga prasejahtera dan memadukan pendidikan berkualitas dengan pemberdayaan ekonomi keluarga, program ini berpotensi menciptakan mobilitas sosial vertikal yang signifikan. Tantangan ke depan melibatkan replikasi standar kualitas yang ketat dari model CT Arsa, termasuk pengembangan kurikulum, rekrutmen dan pelatihan guru, serta memastikan keberlanjutan dukungan finansial dan operasional di ratusan titik baru yang tersebar di seluruh Indonesia. Keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada evaluasi berkelanjutan dan adaptasi terhadap konteks lokal yang beragam, sembari menjaga integritas model pendidikan yang telah terbukti efektif.