
Calon-calon doktor asal Indonesia masih dihadapkan pada serangkaian mitos yang membuat mereka enggan melanjutkan pendidikan strata tiga (S3) di Amerika Serikat, meskipun peluang pendanaan dan prospek karier terbuka lebar. Kekhawatiran "pulang habis duit" menjadi salah satu hambatan psikologis utama, padahal faktanya, sebagian besar program PhD di AS, khususnya di bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM), menawarkan pembiayaan penuh.
Data menunjukkan, Indonesia baru mengirimkan 8.348 pelajar ke Amerika Serikat pada tahun akademik 2023-2024, menempatkannya di posisi ke-23 secara global dan kedua di Asia Tenggara setelah Vietnam. Meskipun terjadi peningkatan 10% pada jumlah pelajar pascasarjana dan PhD Indonesia di AS, kontribusi lulusan PhD masih sangat rendah. Pada tahun 2018, Indonesia hanya meluluskan 82 mahasiswa PhD dari AS, jauh tertinggal dari Tiongkok (6.182), India (2.040), dan Korea Selatan (1.035). Fenomena ini disinyalir kuat dipengaruhi oleh setidaknya lima mitos yang berkembang di kalangan mahasiswa Indonesia.
Haryadi Gunawi, seorang Profesor asal Indonesia di The University of Chicago, Amerika Serikat, secara lugas membantah narasi "kuliah PhD mahal dan harus pakai uang pribadi". Ia menegaskan, "uang tidak pernah menjadi masalah" bagi mayoritas mahasiswa PhD di AS. Sebanyak 80% mahasiswa internasional yang mengejar PhD di bidang STEM di AS mendapatkan beasiswa langsung dari universitas tujuan melalui peran sebagai asisten pengajar (teaching assistantship) atau asisten riset (research assistantship). Pendanaan ini mencakup biaya kuliah penuh dan gaji bulanan, bahkan sering kali sudah termasuk tunjangan kesehatan. Beasiswa Fulbright juga merupakan program pendanaan penuh yang menanggung biaya kuliah, biaya hidup, tiket pesawat, dan asuransi kesehatan bagi mahasiswa S2 dan S3 di AS. Biaya hidup rata-rata di AS memang berkisar USD $1.504 hingga USD $1.850 per bulan, namun beasiswa kerap mengkompensasi pengeluaran ini.
Mitos kedua adalah anggapan bahwa lulusan PhD pasti akan menjadi profesor atau dosen. Profesor Gunawi memaparkan bahwa data studi menunjukkan hanya sekitar 30% lulusan PhD yang berkarier di dunia akademis. Sebaliknya, 60-70% lulusan PhD, terutama di bidang ilmu komputer dan sains, terserap oleh industri. Di Amerika Serikat, perusahaan teknologi besar seperti Google bahkan memiliki 16% insinyur dengan gelar PhD, menunjukkan permintaan tinggi terhadap keahlian tingkat doktoral di sektor swasta. Ekosistem teknologi di Indonesia, menurut Gunawi, mungkin belum sepenuhnya menyerap keahlian tingkat advanced engineering dan science, yang menimbulkan persepsi sempit mengenai prospek karier PhD. Namun, peluang karier bagi lulusan S3 mencakup posisi strategis di lembaga penelitian dan pengembangan (R&D), serta berbagai industri yang membutuhkan pemikiran analitis tingkat tinggi dan kemampuan riset kompleks.
Mitos ketiga yang membatasi minat adalah keyakinan bahwa pendaftaran program PhD di AS mutlak membutuhkan gelar master (S2). Berbeda dengan sistem di banyak negara lain seperti Eropa atau Asia, program PhD di AS seringkali bersifat "kombo" S2 dan S3, memungkinkan lulusan sarjana (S1) untuk langsung mendaftar. Program ini umumnya berlangsung selama 5-6 tahun, dan mahasiswa memiliki opsi untuk "mastering out", yaitu keluar dengan gelar S2 setelah sekitar dua tahun studi, jika mereka memilih untuk tidak melanjutkan hingga PhD.
Mitos keempat, terkait langsung dengan kekhawatiran finansial, adalah anggapan bahwa prospek kerja lulusan PhD di Indonesia tidak jelas. Meskipun pasar kerja di Indonesia mungkin belum sekompetitif AS dalam menyerap talenta PhD di bidang riset dan pengembangan industri tingkat lanjut, lulusan doktoral tetap memiliki spektrum karier yang luas. Selain menjadi dosen dan peneliti di perguruan tinggi, mereka dibutuhkan di lembaga penelitian pemerintah maupun swasta, serta posisi strategis di berbagai sektor industri yang memerlukan keahlian spesifik dan kemampuan riset yang kuat. Peningkatan potensi penghasilan juga menjadi salah satu manfaat jangka panjang, karena keahlian mendalam yang dimiliki lulusan S3 dihargai lebih tinggi di pasar kerja.
Terakhir, mitos kelima berpusat pada kesulitan tinggal di Amerika Serikat. Persepsi tentang biaya hidup yang mahal dan kesulitan beradaptasi seringkali menjadi momok. Namun, banyak kota di AS menawarkan biaya hidup yang lebih terjangkau dibanding kota metropolitan besar. Selain itu, Amerika Serikat dikenal dengan sistem pendidikan yang fleksibel, memungkinkan mahasiswa menyesuaikan pengalaman akademik mereka dengan minat dan tujuan karier. Duta Besar AS untuk Indonesia, Kamala Shirin Lakhdhir, menegaskan komitmen AS dalam membuka peluang bagi pelajar Indonesia di semua jenjang studi. Berbagai mitos lain seperti harus jenius atau memiliki skor TOEFL tinggi untuk kuliah di AS juga telah dibantah, mengingat banyak kampus menawarkan kelas persiapan bahasa dan syarat skor yang fleksibel.
Rendahnya jumlah lulusan PhD dari AS memiliki implikasi jangka panjang terhadap kapasitas riset dan inovasi Indonesia. Pemerintah Indonesia, melalui berbagai program beasiswa seperti LPDP, telah berupaya mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia di tingkat doktoral. Total penerima beasiswa LPDP sejak 2013 hingga 2024 mencapai 49.813 orang, dengan 4.475 di antaranya mengambil jenjang S3. Namun, ada tantangan terkait komitmen kembali ke tanah air, dengan ratusan alumni LPDP yang belum kembali setelah studi, meskipun ada kewajiban pengabdian setelah menyelesaikan pendidikan. Fenomena "survivorship bias" di media sosial juga turut memperkuat mitos tentang kemudahan menetap di luar negeri setelah lulus, padahal banyak yang juga menghadapi kesulitan dan akhirnya kembali ke Indonesia. Mengikis mitos-mitos ini dan memberikan informasi yang akurat mengenai realitas studi PhD di AS menjadi krusial untuk mendorong lebih banyak talenta Indonesia menimba ilmu di pusat-pusat keunggulan global dan kembali berkontribusi bagi kemajuan bangsa.