
Tren preferensi bidang studi di antara berbagai generasi di Indonesia, seperti yang diindikasikan oleh sejumlah laporan riset pasar global yang relevan, menunjukkan pergeseran signifikan dalam minat akademik dan profesional. Generasi Z dan Milenial menunjukkan kecenderungan kuat terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, teknik, dan matematika (STEM), sementara Generasi Baby Boomer lebih menaruh minat pada sejarah dan isu-isu masa lalu. Perbedaan ini mencerminkan dinamika sosial, ekonomi, dan pendidikan yang membentuk pandangan setiap kelompok umur terhadap dunia.
Laporan "3M State of Science Index" tahun 2022, yang dilakukan oleh Ipsos, menemukan bahwa generasi muda lebih cenderung menganggap sains sangat penting dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sebanyak 61% dari Generasi Z dan Milenial setuju dengan pernyataan ini, dibandingkan dengan 53% dari Generasi X dan Baby Boomer. Temuan ini menyoroti bagaimana kaum muda memandang sains sebagai kunci untuk mengatasi tantangan global dan meningkatkan kehidupan, sebuah perspektif yang mungkin didorong oleh paparan berkelanjutan terhadap kemajuan teknologi dan urgensi isu-isu seperti perubahan iklim dan kesehatan global. Sebuah studi terpisah oleh Gallup dan Walton Family Foundation pada Desember 2023 juga menemukan bahwa 75% generasi Z memiliki ketertarikan pada pekerjaan di bidang STEM, meskipun hanya 29% yang menjadikannya pilihan karier utama. Data dari British Science Association (BSA) pada September 2023 turut menguatkan bahwa kaum muda memiliki minat terhadap sains, namun juga menunjukkan adanya peningkatan kecemasan terkait perolehan pengetahuan ilmiah dan polarisasi koneksi mereka terhadap sains seiring bertambahnya usia.
Di sisi lain spektrum usia, minat terhadap masa lalu atau sejarah tampak lebih menonjol di kalangan generasi yang lebih tua. Laporan Ipsos "Is Life Getting Better?" yang dirilis pada November 2025 menunjukkan adanya nostalgia luas terhadap masa lalu, dengan banyak responden merasa bahwa keadaan lebih baik pada tahun 1975 dibandingkan dengan tahun 2025. Rata-rata 44% responden di 30 negara lebih memilih lahir pada tahun 1975, jauh di atas 24% yang lebih menyukai masa kini. Sentimen ini, meskipun tidak secara langsung merujuk pada preferensi studi sejarah, mengindikasikan apresiasi yang lebih besar terhadap konteks historis dan pengalaman masa lalu di kalangan populasi yang lebih tua, termasuk Baby Boomer. Laporan "Ipsos Generations Report 2025" sendiri, yang diterbitkan pada Mei 2025, secara umum mengeksplorasi kesenjangan dalam sikap antar generasi, termasuk pemahaman yang berkembang tentang 'usia tua' dan bagaimana orang dewasa yang lebih tua membentuk masa depan, serta peran Generasi X. Laporan tersebut juga mencatat bahwa generasi yang lebih tua, terutama Baby Boomer, memiliki keyakinan yang lebih kuat bahwa masyarakat berfungsi berdasarkan meritokrasi dibandingkan generasi yang lebih muda.
Perbedaan minat ini memiliki implikasi mendalam bagi sistem pendidikan, pasar kerja, dan kebijakan publik. Fokus generasi muda pada sains dan teknologi dapat mendorong inovasi dan mempersiapkan tenaga kerja untuk ekonomi digital yang semakin maju. Namun, tantangannya adalah bagaimana menjaga minat ini tetap tinggi dan mengubah ketertarikan menjadi pilihan karier konkret, mengingat data menunjukkan kesenjangan antara minat dan pilihan karier utama di bidang STEM. Associate Headmaster John Ashton dari ReMarker pada Oktober 2025 menyatakan bahwa tekanan untuk mengejar STEM seringkali berasal dari pola pikir kelangkaan, di mana mahasiswa menganggap pekerjaan STEM sulit didapatkan sehingga mendorong mereka mengabaikan aspek lain dalam hidup.
Sebaliknya, ketertarikan Baby Boomer pada sejarah dan humaniora dapat menjadi aset berharga dalam menjaga konteks budaya, pemahaman etika, dan perspektif kritis dalam masyarakat. Penekanan yang berlebihan pada STEM tanpa menyeimbangkan dengan humaniora dapat mengakibatkan hilangnya kedalaman pemahaman sosial dan budaya. Analisis dari ResearchGate pada tahun 2019 menyoroti pentingnya keselarasan antara minat individu dan jurusan atau karier, dengan menunjukkan bahwa kecocokan minat lebih penting untuk kepuasan kerja dan kehidupan daripada bidang studi STEM atau humaniora itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa baik sains maupun sejarah memiliki nilai inheren dan bahwa preferensi generasi harus diakui dan didukung untuk menciptakan masyarakat yang seimbang dan produktif.
Pendidik dan pembuat kebijakan menghadapi tugas untuk menjembatani kesenjangan minat ini, menciptakan kurikulum yang relevan untuk setiap generasi, dan memfasilitasi dialog lintas generasi. Mengintegrasikan elemen-elemen sejarah dan konteks sosial ke dalam pendidikan STEM, atau menggunakan teknologi modern untuk membuat sejarah lebih menarik, dapat menjadi pendekatan yang efektif. Dengan memahami preferensi unik setiap generasi, masyarakat dapat lebih baik dalam mengarahkan sumber daya pendidikan dan mengembangkan strategi yang mendukung pertumbuhan intelektual dan profesional semua warganya.