Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Isra Mi'raj: Melacak Jejak Perjalanan Spiritual Nabi Muhammad ke Sidratul Muntaha

2026-01-11 | 10:48 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-11T03:48:49Z
Ruang Iklan

Isra Mi'raj: Melacak Jejak Perjalanan Spiritual Nabi Muhammad ke Sidratul Muntaha

Perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW yang dikenal sebagai Isra Mi'raj, sebuah peristiwa monumental dalam sejarah Islam, terus menjadi rujukan utama bagi miliaran umat Muslim di seluruh dunia, menegaskan pilar keimanan dan membentuk praktik ibadah fundamental. Kejadian luar biasa ini, yang umumnya diyakini terjadi pada malam ke-27 bulan Rajab tahun ke-10 kenabian atau sekitar tahun 620-621 Masehi sebelum hijrah ke Madinah, melibatkan dua fase: Isra, perjalanan malam dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, dan Mi'raj, kenaikan dari Yerusalem menembus lapisan langit tertinggi hingga Sidratul Muntaha.

Peristiwa Isra Mi'raj bukan sekadar deskripsi perjalanan fisik atau pengalaman mistis semata, melainkan manifestasi langsung kekuasaan ilahi yang kaya akan makna teologis dan praktis. Mayoritas ulama berpendapat bahwa perjalanan ini dialami Nabi Muhammad SAW secara fisik dan spiritual, sebuah mukjizat yang melampaui nalar manusia biasa pada masanya, dan tetap relevan hingga kini. Perdebatan mengenai sifat perjalanan – apakah hanya ruh atau fisik bersama ruh – telah ada sejak awal, namun pandangan jumhur ulama, kaum sufi, dan mayoritas kaum Muslim meyakini bahwa perjalanan Isra dilakukan Nabi dengan jasadnya.

Latar belakang peristiwa ini terjadi pada periode yang disebut 'Am al-Huzn (Tahun Kesedihan), ketika Nabi Muhammad SAW kehilangan paman sekaligus pelindungnya, Abu Thalib, dan istri tercintanya, Khadijah. Dalam konteks kesulitan dakwah dan penindasan dari kaum Quraisy, Isra Mi'raj menjadi bentuk penghiburan ilahi dan penguatan spiritual bagi Nabi untuk melanjutkan misinya. Peristiwa ini menjadi penanda kekuasaan Allah dan kemuliaan Nabi Muhammad SAW di hadapan-Nya, sekaligus menegaskan kenabian beliau di luar batas pemahaman manusia.

Dalam perjalanan Isra, Nabi Muhammad SAW diberangkatkan menggunakan Buraq, makhluk berkecepatan luar biasa. Setibanya di Masjidil Aqsa, beliau memimpin para nabi terdahulu dalam shalat, sebuah simbol persatuan risalah kenabian dan kesinambungan ajaran tauhid. Kemudian, dalam fase Mi'raj, beliau naik ke tujuh lapisan langit, bertemu dengan Nabi Adam, Nabi Isa, Nabi Yahya, Nabi Yusuf, Nabi Idris, Nabi Harun, Nabi Musa, dan Nabi Ibrahim di setiap tingkatan. Puncak dari perjalanan ini adalah di Sidratul Muntaha, tempat tertinggi yang tak dapat dijangkau makhluk lain, di mana Nabi Muhammad SAW menerima perintah langsung dari Allah SWT mengenai shalat lima waktu sehari semalam. Awalnya diperintahkan lima puluh waktu, melalui dialog dan konsultasi dengan Nabi Musa yang kemudian diusulkan untuk meminta keringanan kepada Allah, jumlah shalat akhirnya ditetapkan menjadi lima waktu, sebuah anugerah dan rahmat bagi umat Islam.

Implikasi Isra Mi'raj melampaui narasi historisnya. Bagi umat Islam modern, peristiwa ini menawarkan pelajaran mendalam tentang keteguhan akidah, pentingnya shalat sebagai tiang agama dan "Mi'rajnya" seorang mukmin, serta nilai kesabaran dan tawakal dalam menghadapi cobaan hidup. Perintah shalat lima waktu secara langsung dari Allah tanpa perantara menunjukkan kedudukannya yang istimewa sebagai ibadah sentral dan sarana komunikasi langsung antara hamba dengan Penciptanya.

Selain itu, Isra Mi'raj mengajarkan tentang kerendahan hati dan status manusia sebagai hamba ('abdun), sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Isra' ayat 1. Peristiwa ini juga menekankan pentingnya ilmu pengetahuan dan kebersihan lingkungan, dengan Masjidil Aqsa sebagai salah satu tempat suci yang diberkahi. Dalam era modernisasi dan globalisasi, hikmah Isra Mi'raj relevan untuk memperkuat spiritualitas, disiplin, dan etika, menjadi landasan iman yang kokoh di tengah godaan dunia. Perjalanan ini menginspirasi umat untuk terus memperkuat hubungan spiritual dengan Allah, berpegang teguh pada prinsip agama, dan menyebarkan nilai-nilai kasih sayang serta kebijaksanaan yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.