Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Isra Miraj: Menyingkap Kedalaman Kisah Nabi Muhammad SAW yang Tak Terlupakan

2026-01-12 | 08:42 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-12T01:42:34Z
Ruang Iklan

Isra Miraj: Menyingkap Kedalaman Kisah Nabi Muhammad SAW yang Tak Terlupakan

Perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW yang luar biasa, dikenal sebagai Isra Miraj, tetap menjadi fondasi teologis dan sumber inspirasi moral bagi lebih dari dua miliar Muslim di seluruh dunia, membentuk inti praktik keagamaan dan pandangan kosmik mereka. Peristiwa ini, yang diyakini terjadi pada malam ke-27 bulan Rajab, melibatkan perjalanan malam Rasulullah dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, diikuti dengan kenaikan ke Sidratul Muntaha di langit ketujuh untuk menerima perintah salat lima waktu secara langsung dari Allah SWT.

Secara historis, Isra Miraj terjadi pada sekitar tahun ke-10 kenabian, yang dikenal sebagai 'Aam al-Huzn' atau Tahun Kesedihan, menyusul wafatnya istri tercinta Nabi, Khadijah, dan pamannya, Abu Thalib, yang merupakan pelindung utamanya. Peristiwa ini berfungsi sebagai penghiburan ilahi dan penguatan spiritual bagi Nabi Muhammad SAW di tengah tekanan berat dan penolakan yang dihadapinya dari kaum Quraisy di Mekkah. Tafsiran ulama seperti Syekh Muhammad Khudori dalam Nur Al Yaqin fi Sirati Sayyidil Mursalin menegaskan bahwa Isra Miraj adalah bentuk "tasliyah" (hiburan) dari Allah SWT.

Aspek "Isra" melibatkan perjalanan fisik Nabi Muhammad SAW menggunakan Buraq, makhluk yang lebih kecil dari kuda namun lebih besar dari keledai, dari Mekkah ke Yerusalem. Di Masjid Al-Aqsa, beliau memimpin salat bersama para nabi terdahulu, sebuah simbol persatuan risalah kenabian dan penegasan status Muhammad sebagai penyempurna syariat. Setelah itu, "Miraj" mengacu pada kenaikan spiritualnya melalui tujuh lapis langit, bertemu dengan nabi-nabi seperti Adam, Isa, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim, hingga mencapai Sidratul Muntaha, batas terjauh di alam semesta. Puncaknya adalah dialog langsung dengan Allah SWT, di mana perintah salat lima puluh waktu sehari semalam diturunkan, yang kemudian diringankan menjadi lima waktu atas saran Nabi Musa AS, menunjukkan rahmat dan kasih sayang Allah SWT kepada umat-Nya.

Ustadz Dr. H. Muhammad Ridwan Jalil, M.Pd.I, seorang ulama kontemporer, menyatakan bahwa Isra Miraj bukan sekadar perjalanan luar biasa, melainkan sarat hikmah yang relevan sepanjang zaman, terutama dalam menegaskan bahwa kekuasaan Allah SWT tidak dibatasi ruang dan waktu. Mayoritas ulama, baik dari kalangan salaf maupun muta'akhkhirin, sepakat bahwa Isra Miraj terjadi dengan ruh dan jasad Nabi Muhammad SAW, bukan hanya dalam mimpi, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar dan lainnya. Keyakinan ini diperkuat oleh penggunaan kata "abdun" (hamba) dalam Surah Al-Isra ayat 1, yang merujuk pada gabungan ruh dan jasad.

Implikasi utama Isra Miraj terletak pada penetapan salat lima waktu sebagai rukun Islam yang fundamental. Salat dianggap sebagai "mi'rajnya orang-orang mukmin", sebuah sarana komunikasi langsung dengan Allah SWT yang melatih kedisiplinan, ketenangan hati, dan menjadi tiang agama. Wakil Wali Kota Mataram, TGH Mujiburrahman, pada peringatan Isra Miraj 2025, menekankan pentingnya salat tepat waktu sebagai wujud ketaatan. Selain itu, peristiwa ini mengajarkan umat Islam tentang pentingnya keimanan pada hal gaib, ketabahan dalam menghadapi ujian, tawadhu (rendah hati), dan keteguhan dalam menyampaikan kebenaran, bahkan ketika dihadapkan pada keraguan, seperti yang ditunjukkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq yang tanpa ragu membenarkan kisah Nabi.

Di era modern yang serba cepat dan penuh tantangan globalisasi, hikmah Isra Miraj tetap relevan. Ust. Hamdi Mahdi, Ketua Fatwa MUI TOUNa, menekankan bahwa di tengah godaan duniawi, peristiwa ini mengingatkan umat Muslim untuk tetap istiqamah dalam beribadah dan menjaga keimanan. Nilai-nilai seperti keteguhan pada prinsip agama, kedisiplinan dalam mengelola waktu melalui salat, dan penguatan hubungan spiritual dengan Allah SWT, menjadi krusial untuk menghadapi tantangan materialisme dan kesibukan hidup. Berbagai komunitas Muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, Amerika Serikat, dan Kanada, memperingati Isra Miraj melalui salat malam, ceramah, konferensi, dan tradisi lokal seperti "Ambengan" di Jawa Timur, yang mencerminkan upaya kolektif untuk memahami dan menghidupkan kembali ajaran agung ini. Perayaan ini menjadi momentum tahunan bagi umat Islam untuk muhasabah diri, memperkuat keimanan, dan mengaplikasikan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.