Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Kampus Terbaik Non-Jawa: Tiga Ranking Global Jadi Penentu

2026-01-21 | 01:55 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-20T18:55:36Z
Ruang Iklan

Kampus Terbaik Non-Jawa: Tiga Ranking Global Jadi Penentu

Beberapa universitas di luar Pulau Jawa mulai menunjukkan eksistensinya dalam tiga pemeringkatan global terkemuka, menantang dominasi historis institusi pendidikan tinggi yang terpusat di Jawa. Universitas Hasanuddin (Unhas) di Makassar, Universitas Sumatera Utara (USU) di Medan, dan Universitas Andalas (Unand) di Padang, adalah beberapa di antaranya yang konsisten menempati posisi dalam Quacquarelli Symonds World University Rankings (QS WUR) 2024/2026, Times Higher Education (THE) World University Rankings 2025/2026, dan THE Impact Rankings 2025, mencerminkan peningkatan kualitas akademik dan dampak riset regional yang signifikan.

Pencapaian ini hadir di tengah upaya berkelanjutan pemerintah untuk mempersempit kesenjangan kualitas pendidikan tinggi antardaerah. Dalam QS WUR 2026, Unhas berada di peringkat 951-1000, sementara USU dan Unand masuk dalam band 1001-1200 dan 1401+ secara berturut-turut. Universitas Negeri Padang (UNP) dan Universitas Syiah Kuala (USK) juga tercatat dalam peringkat 1401+ QS WUR 2026. Dalam edisi QS WUR 2024, Unhas berada di 1001-1200, USU di 1201-1400, dan Unand, Universitas Udayana (Unud), Universitas Lampung (Unila), serta Universitas Mataram (Unram) masuk dalam kategori 1400+. Untuk THE World University Rankings 2025, Hasanuddin University, Universitas Andalas, dan Universitas Negeri Padang masuk dalam kategori 1501+. Sementara itu, THE Impact Rankings 2025 menunjukkan performa kuat dari beberapa institusi non-Jawa, dengan Unhas di posisi 401-600, serta Unand, Universitas Sriwijaya (Unsri), dan Universitas Syiah Kuala (USK) di peringkat 601-800. Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) juga masuk dalam band 801-1000. Perguruan tinggi di luar Jawa belum secara eksplisit disebutkan dalam daftar teratas Academic Ranking of World Universities (ARWU) atau Shanghai Ranking yang umumnya mempublikasikan 500 hingga 1000 universitas terbaik dunia.

Secara historis, perguruan tinggi di Pulau Jawa telah mendominasi lanskap pendidikan tinggi Indonesia, seringkali diuntungkan oleh konsentrasi sumber daya ekonomi, infrastruktur riset, dan jaringan internasional yang lebih mapan. Data Badan Pusat Statistik tahun 2019 menunjukkan Pulau Jawa menyumbang 59 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, sebuah indikator kondisi ekonomi yang lebih unggul dan berdampak pada ketersediaan sarana prasarana penunjang kualitas pendidikan. Hal ini berdampak pada terbatasnya akses dana, jaringan internasional, dan infrastruktur riset bagi kampus-kampus di luar Jawa, yang seringkali berhadapan langsung dengan tantangan keberlanjutan di tingkat daerah. Sebuah kajian juga menyoroti bahwa hanya sekitar 10 persen perguruan tinggi swasta (PTS) di luar Jawa yang memenuhi standar kualifikasi minimum, jauh lebih rendah dibandingkan 30 persen di Jawa. Selain itu, mayoritas universitas negeri dengan akreditasi A terkonsentrasi di Jawa, sementara banyak di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara masih terakreditasi B.

Menyikapi ketimpangan ini, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menegaskan bahwa kualitas pendidikan tinggi di Indonesia sudah sejajar dengan standar global, dengan sejumlah universitas masuk dalam 500 besar QS WUR by Subject. Ia menekankan bahwa peringkat bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari kemajuan pendidikan dan riset yang berfungsi sebagai magnet untuk kolaborasi internasional dan berkontribusi pada pembangunan nasional. Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat juga menyerukan peningkatan kualitas pendidikan tinggi yang merata untuk memastikan akses layanan pendidikan berkualitas bagi seluruh masyarakat, serta menyoroti tantangan finansial yang dihadapi banyak PTS. Senada, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemendikbudristek Abdul Haris, mengidentifikasi tiga masalah utama: ketimpangan akses, kesenjangan kualitas, dan kurangnya relevansi dengan kebutuhan industri. Ia mendorong transformasi digital dan pengajaran berbasis riset sebagai solusi. Presiden Joko Widodo pada 2019 secara khusus menginstruksikan Menteri Pendidikan untuk memperhatikan kualitas pendidikan secara merata dan efisien di seluruh wilayah Indonesia, termasuk di luar Pulau Jawa.

Peningkatan visibilitas universitas-universitas di luar Jawa dalam pemeringkatan global memiliki implikasi jangka panjang yang signifikan. Ini tidak hanya meningkatkan reputasi institusi tersebut dan menarik minat mahasiswa dari berbagai daerah, tetapi juga berpotensi memperkuat riset lokal yang relevan dengan kebutuhan regional, serta mendorong pemerataan pembangunan sumber daya manusia di seluruh Indonesia. Untuk mewujudkan hal ini secara berkelanjutan, diperlukan kebijakan afirmasi yang lebih kuat, termasuk dukungan pendanaan riset, akses teknologi, dan peluang kolaborasi internasional yang lebih merata untuk kampus-kampus di daerah. Peningkatan kualitas ini akan membantu Indonesia mempertahankan talenta terbaik dan menarik investasi asing yang berbasis teknologi maju. Anggaran riset nasional yang saat ini masih 0,08 persen dari PDB, jauh di bawah negara ASEAN lainnya seperti Singapura (2,18 persen) dan Malaysia (1,26 persen), menjadi pekerjaan rumah besar yang harus diatasi untuk mendongkrak daya saing global secara keseluruhan.