Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Kapan Musim Hujan 2026 Berakhir? Simak Prediksi Resmi BMKG

2026-01-23 | 22:40 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-23T15:40:36Z
Ruang Iklan

Kapan Musim Hujan 2026 Berakhir? Simak Prediksi Resmi BMKG

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan puncak musim hujan 2025/2026 secara bertahap akan berakhir, dengan mayoritas wilayah Indonesia memasuki transisi menuju musim kemarau pada pertengahan Maret 2026. Prediksi ini vital bagi perencanaan berbagai sektor, terutama pertanian dan mitigasi bencana hidrometeorologi.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menyatakan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki fase transisi dari musim hujan ke musim kemarau sejak akhir Februari hingga awal Maret 2026. Secara lebih spesifik, Guswanto mengungkapkan bahwa sekitar pertengahan Maret 2026, mayoritas wilayah Indonesia sudah beralih dari musim hujan ke musim kemarau. Namun, BMKG menekankan bahwa akhir musim hujan tidak akan serentak di seluruh Indonesia, dengan beberapa daerah masih berpotensi mengalami curah hujan hingga akhir Maret, bahkan awal April 2026, terutama di wilayah seperti sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatra bagian selatan, serta sebagian Kalimantan bagian selatan akan lebih awal memasuki musim kemarau. Sementara itu, puncak musim hujan sendiri telah berlangsung bervariasi, dengan Sumatra dan Kalimantan mencapai puncaknya pada November-Desember 2025, sedangkan Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Papua diperkirakan mencapai puncaknya pada Januari-Februari 2026.

Dinamika atmosfer global dan regional menjadi faktor penentu utama di balik pola musim hujan ini. Fenomena La Niña lemah (-0,77) yang teridentifikasi pada November 2025 diprediksi akan bertahan hingga awal tahun 2026, sebelum berangsur menuju fase netral pada periode Maret-April dan akan berlanjut hingga akhir tahun 2026. La Niña secara tradisional berkontribusi pada peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia. Bersamaan dengan itu, Indian Ocean Dipole (IOD) yang berada pada fase negatif (-0,83) hingga Desember 2025 juga mendukung potensi hujan lebih sering, khususnya di wilayah barat Indonesia, sebelum memasuki fase netral sepanjang tahun 2026. Penguatan Monsun Asia yang membawa pasokan massa udara lembap dari Laut Cina Selatan serta adanya seruakan dingin (cold surge) dari Siberia yang mencapai Pulau Jawa, juga turut meningkatkan pertumbuhan awan hujan secara masif, terutama di wilayah selatan Indonesia. Selain itu, BMKG juga memantau keberadaan bibit siklon tropis, seperti 91S dan 92P di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat dan Teluk Carpentaria, serta 97S di Samudra Hindia selatan Indonesia, yang memperkuat daerah konvergensi dan pembentukan awan hujan intensif.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan bahwa informasi iklim ini merupakan komitmen BMKG dalam memberikan gambaran komprehensif dinamika atmosfer-laut global, mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan informasi ini sebagai referensi utama dalam perencanaan kebijakan dan optimalisasi potensi iklim di berbagai sektor pembangunan. Fenomena La Niña lemah pada awal musim hujan tahun ini memerlukan perhatian serius untuk mengantisipasi potensi dampak hidrometeorologi ekstrem seperti banjir dan tanah longsor. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, merekomendasikan optimalisasi informasi iklim untuk mendukung penguatan berbagai sektor yang terdampak, khususnya sumber daya air, pertanian, perkebunan, kesehatan, dan energi.

Bagi sektor pertanian, meskipun curah hujan yang lebih tinggi dapat menjadi berkah untuk mempercepat musim tanam, terutama di lahan sawah irigasi dan tadah hujan, namun hujan ekstrem juga berpotensi menimbulkan ancaman serius seperti banjir dan tanah longsor yang merusak lahan dan hasil panen. Pengelolaan sumber daya air yang efektif dan antisipatif sangat dibutuhkan untuk mengurangi risiko kekeringan pasca-musim hujan. Curah hujan yang melimpah selama periode ini dapat menjadi fondasi penting bagi peningkatan produktivitas pertanian jika dikelola dengan tepat, mengisi waduk dan saluran irigasi, serta menjamin keberlanjutan sawah tadah hujan.

Secara keseluruhan, BMKG memprediksi iklim Indonesia 2026 cenderung normal dan stabil, dengan 94,7% wilayah Indonesia mengalami curah hujan normal (1.500-4.000 mm/tahun). Namun, suhu udara rata-rata tahunan diprediksi lebih hangat, berkisar antara 25-29°C. Masyarakat diimbau untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca dan iklim dari BMKG melalui saluran resmi untuk kesiapsiagaan yang optimal.