
Pelarangan penggunaan telepon seluler di sekolah-sekolah New York City sejak awal semester tahun ajaran ini telah mengungkap fenomena mengejutkan: banyak siswa remaja kini kesulitan membaca jam dinding analog. Temuan ini menyoroti dampak ketergantungan masif pada perangkat digital terhadap keterampilan fundamental yang sebelumnya dianggap mendasar.
Tiana Milner, Wakil Kepala Sekolah Cardozo High School di Queens, New York, mengungkapkan bahwa sejak larangan ponsel diberlakukan, semakin banyak remaja kesulitan membaca jam tradisional. "Ini adalah keterampilan penting yang sama sekali sudah tidak mereka biasakan lagi," ujarnya. Di sebuah SMA di Manhattan, guru Bahasa Inggris Madi Mornhinweg mengalami situasi serupa, kerap ditanya muridnya mengenai waktu tanpa bisa menginterpretasikan jam analog di kelas. "Ini cukup membuat frustrasi. Setiap kali saya harus mengarahkan mereka lagi: jarum panjang di mana, jarum pendek di mana," kata Mornhinweg. Beberapa siswa mengaku diajarkan membaca jam analog saat sekolah dasar, tetapi kemampuan itu memudar karena dianggap usang di lingkungan yang mengutamakan digital.
Kebijakan larangan ponsel di sekolah-sekolah New York City, yang mulai berlaku pada 4 September untuk tahun ajaran 2025-2026, dirancang untuk meminimalkan distraksi selama proses belajar-mengajar, merespons kekhawatiran terhadap kesehatan mental pelajar, dan menekan praktik perundungan siber. Langkah serupa juga telah diterapkan atau dipertimbangkan di berbagai negara. Singapura, misalnya, memperketat aturan penggunaan gawai di sekolah menengah mulai Januari 2026, melarang ponsel dan jam tangan pintar di luar jam pelajaran, termasuk saat istirahat dan kegiatan ekstrakurikuler. Kementerian Pendidikan Malaysia (KPM) juga mempertahankan larangan penggunaan perangkat pribadi di sekolah untuk menjamin keselamatan dan lingkungan belajar yang kondusif, bahkan akan mengeluarkan garis panduan baru terkait larangan penggunaan ponsel pintar bagi murid di bawah 16 tahun. Di Indonesia, kebijakan pelarangan ponsel juga telah disuarakan sejak lama, seperti pada 2015 oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise untuk anak SD, serta diterapkan secara regional seperti di Jawa Barat untuk siswa SD hingga SMP pada Mei 2025.
Fenomena ini menggarisbawahi pergeseran kognitif di era digital. Ketergantungan anak-anak pada jam digital di ponsel dan jam tangan pintar mengurangi eksposur mereka terhadap jam analog. Sebuah penelitian di Oklahoma pada tahun 2017 menemukan hanya sekitar seperlima dari anak-anak usia 6 hingga 12 tahun yang mampu membaca jam analog. Sementara itu, di Inggris, banyak sekolah sejak 2018 mengganti jam jarum dengan jam digital karena siswa kesulitan membaca jam tradisional. Di Indonesia, penggunaan ponsel pintar sangat tinggi; Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 menyebut penetrasi smartphone mencapai 92,5% dari total penduduk, dengan 39,71% anak usia dini telah menggunakan telepon seluler pada 2024. Riset juga menunjukkan bahwa 86% siswa di salah satu Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Kabupaten Malang berada pada tingkat sedang dalam penggunaan ponsel, dengan dampak kurang fokus saat belajar dan sulit diajak berkomunikasi.
Analis pendidikan, Ina Liem, menilai bahwa di usia SD dan SMP, anak-anak masih rentan terhadap distraksi dan belum cukup matang mengelola gawai secara bijak, sehingga membutuhkan pembiasaan untuk fokus dan berinteraksi langsung. Juru bicara Departemen Pendidikan New York, Isla Gessin, menegaskan pentingnya kemampuan membaca jam analog maupun digital. "Ketika anak-anak tumbuh di dunia yang semakin digital, keterampilan membaca waktu secara tradisional tidak boleh sampai dilupakan," katanya.
Dampak jangka panjang dari hilangnya keterampilan dasar ini melampaui sekadar kemampuan membaca waktu. Membaca jam analog melatih pemikiran logis dan kemampuan memetakan konsep matematika ke dunia nyata. Ketergantungan pada teknologi juga dilaporkan berdampak pada menurunnya keterampilan dasar lain seperti tulisan tangan dan kemampuan konsentrasi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan holistik. Di sekolah, guru dapat menggunakan jam analog besar di kelas untuk latihan harian, mengajak siswa membuat jam analog dari kertas, dan menghubungkan konsep waktu dengan aktivitas nyata. Di rumah, orang tua perlu menyediakan jam dinding analog dan melatih anak membaca waktu setiap pagi, serta mengurangi ketergantungan anak pada ponsel untuk melihat jam. Pemerintah juga dapat memperkuat program numerasi nasional dengan menyediakan pelatihan guru dan modul pembelajaran berbasis aktivitas. Keseimbangan antara penguasaan teknologi dan penguatan kompetensi dasar menjadi krusial untuk mempersiapkan generasi yang mampu berpikir kritis dan adaptif di masa depan.