Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Mata Hiu Greenland: Kualitas Unik Berpotensi Revolusi Medis Manusia

2026-01-12 | 01:35 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-11T18:35:03Z
Ruang Iklan

Mata Hiu Greenland: Kualitas Unik Berpotensi Revolusi Medis Manusia

Para jurnalis investigatif senior, sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications telah mengungkapkan bahwa mata hiu Greenland, vertebrata berumur panjang yang dapat hidup hingga 400 tahun atau lebih, memiliki mekanisme perbaikan DNA yang kuat, menawarkan wawasan signifikan terhadap potensi pengembangan terapi untuk penyakit mata manusia seperti glaukoma dan degenerasi makula. Penemuan ini menantang asumsi lama bahwa hiu Greenland, yang hidup di perairan Arktik yang gelap dan sering kali memiliki parasit pada korneanya, memiliki penglihatan yang buruk atau tidak berfungsi.

Penelitian yang dipimpin oleh Associate Professor Dorota Skowronska-Krawczyk dari University of California, Irvine, menunjukkan bahwa jaringan retina pada hiu-hiu ini tidak menunjukkan tanda-tanda degenerasi seluler atau kematian sel, bahkan pada spesimen yang diperkirakan berusia sekitar 200 tahun. Fenomena ini sangat kontras dengan proses penuaan pada retina vertebrata, termasuk manusia, yang secara progresif mengalami kehilangan fotoreseptor dan kerusakan DNA seiring waktu. Misalnya, manusia yang hidup hingga 400 tahun diperkirakan akan kehilangan lebih dari 50-90% fotoreseptor batang mereka. Tim peneliti mengidentifikasi adanya mekanisme perbaikan DNA yang kuat, khususnya menyoroti kompleks perbaikan ERCC1-XPF, yang diyakini berkontribusi pada kemampuan retina hiu untuk mempertahankan integritasnya selama berabad-abad.

Hiu Greenland (Somniosus microcephalus) dikenal sebagai vertebrata dengan umur terpanjang di dunia, dengan beberapa individu diperkirakan hidup hingga hampir lima abad. Habitat mereka yang berada di kedalaman laut Arktik yang minim cahaya, ditambah dengan prevalensi parasit copepod (Ommatokoita elongata) yang menempel pada kornea mereka, sebelumnya membuat para ilmuwan beranggapan bahwa penglihatan mungkin bukan indra vital bagi spesies ini. Namun, pengamatan terbaru oleh Profesor Skowronska-Krawczyk terhadap rekaman video hiu menunjukkan gerakan mata yang aktif dalam menanggapi cahaya, memicu penyelidikan lebih lanjut mengenai fungsi visual mereka. Menurut Skowronska-Krawczyk, secara evolusi, suatu organ tidak akan dipertahankan jika tidak memiliki fungsi.

Retina hiu Greenland didapati beradaptasi secara optimal untuk kondisi cahaya redup, menampilkan retina "murni-batang" dengan fotoreseptor batang yang padat dan memanjang. Rhodopsin, protein penting untuk penglihatan dalam cahaya redup, tetap aktif dan disetel untuk mendeteksi panjang gelombang cahaya biru, yang merupakan spektrum cahaya paling dominan di perairan dalam Arktik. Transmisi kornea hiu, bahkan dengan parasit yang menempel, juga terbukti memadai untuk memungkinkan cahaya mencapai retina.

Penelitian ini dibangun di atas fondasi studi tahun 2016 yang diterbitkan di Science oleh ahli biologi kelautan Profesor John Fleng Steffensen, yang menggunakan penanggalan radiokarbon inti lensa mata untuk secara akurat menentukan usia hiu Greenland, mengkonfirmasi umur panjangnya yang luar biasa. Untuk studi terbaru, tim internasional, termasuk ahli biologi kelautan dari University of Copenhagen, mengumpulkan spesimen hiu Greenland antara tahun 2020 dan 2024 di lepas pantai Pulau Disko, Greenland. Emily Tom, seorang mahasiswa Ph.D. dan ilmuwan-dokter dalam pelatihan di laboratorium Skowronska-Krawczyk di UC Irvine, bertanggung jawab atas analisis jaringan mata. Tom menggambarkan pengalaman bekerja dengan "bola mata raksasa berusia 200 tahun" yang dikirim dalam es kering, menyoroti tantangan dan keunikan penelitian ini.

Implikasi dari penemuan ini sangat luas bagi kesehatan manusia. Dengan memahami bagaimana hiu Greenland secara efektif mencegah degenerasi retina selama berabad-abad, para ilmuwan berharap dapat membuka jalan bagi strategi baru untuk mencegah hilangnya penglihatan terkait usia dan mengembangkan pengobatan inovatif untuk kondisi seperti degenerasi makula dan glaukoma. Profesor Skowronska-Krawczyk menyatakan bahwa penelitian semacam ini sangat penting untuk mengungkap mekanisme dasar yang menjaga kesehatan jaringan sepanjang hidup, memberikan landasan bagi kemajuan medis di masa depan.