
Puluhan ribu profesional di Inggris, yang secara kolektif dikenal sebagai "mahasiswa senior" atau "mature students" (individu berusia 21 tahun ke atas saat memulai program sarjana atau 25 tahun ke atas untuk pascasarjana), semakin meninggalkan jalur karier mereka untuk kembali ke bangku kuliah, sebuah tren yang mencerminkan respons terhadap dinamika pasar kerja yang berubah, kebutuhan reskilling, dan dorongan personal untuk pengembangan diri. Fenomena ini, meskipun menghadapi tantangan pembiayaan dan adaptasi, didorong oleh reformasi kebijakan pemerintah yang menyoroti pembelajaran seumur hidup, serta pengakuan terhadap kontribusi unik yang dibawa oleh kelompok usia ini ke lingkungan akademik.
Pada tahun akademik 2019/2020, terdapat sekitar 254.000 mahasiswa sarjana 'mature' di universitas-universitas Inggris, yang mencakup 37% dari total mahasiswa sarjana, dan 202.000 mahasiswa pascasarjana 'mature', atau 50% dari total mahasiswa pascasarjana. Meskipun jumlah total mahasiswa 'mature' mengalami penurunan signifikan sebesar 40% antara 2010/11 dan 2017/18, mencapai titik terendah 240.000, terjadi peningkatan kembali menjadi 254.000 pada 2019/2020. Terlebih, data aplikasi awal UCAS untuk tahun 2026 menunjukkan peningkatan 11% aplikasi dari individu berusia 21 tahun ke atas untuk program kedokteran, kedokteran gigi, kedokteran hewan, serta di universitas Cambridge dan Oxford. Peningkatan ini merupakan yang pertama kali dalam empat tahun untuk kelompok mahasiswa sarjana awal ini.
Pendorong utama di balik keputusan untuk kembali ke kampus meliputi kebutuhan untuk meningkatkan prospek karier dan penghasilan, memulai karier baru, memperoleh keterampilan modern yang relevan dengan tuntutan pasar kerja digital yang terus berkembang, serta untuk kepuasan pribadi dan kecintaan terhadap pembelajaran. Ekonomi Inggris yang melambat juga disinyalir menjadi faktor pendorong "negatif" bagi banyak orang dewasa untuk kembali ke pendidikan formal, karena meningkatnya ketidakpastian pekerjaan dan kesulitan dalam kemajuan karier. Catherine Lido, profesor psikologi dan pembelajaran dewasa di University of Glasgow, mengungkapkan kekhawatirannya bahwa pendorong negatif saat ini lebih besar daripada pendorong positif dalam keputusan banyak orang dewasa untuk kembali ke pendidikan formal.
Pemerintah Inggris tengah berupaya mendukung tren ini melalui inisiatif seperti Lifelong Learning Entitlement (LLE), yang akan menggantikan sistem pembiayaan mahasiswa pasca-18 saat ini mulai Januari 2027. LLE akan menyediakan pinjaman biaya kuliah hingga £38.140, setara dengan empat tahun studi penuh waktu, yang dapat digunakan secara fleksibel sepanjang masa kerja untuk membiayai kursus pendek, modul, atau program penuh. Kebijakan ini bertujuan untuk memungkinkan individu mengembangkan keterampilan baru dan memperoleh kualifikasi pada waktu yang tepat bagi mereka.
Meskipun demikian, mahasiswa 'mature' menghadapi serangkaian tantangan yang berbeda dari rekan-rekan mereka yang lebih muda. Tantangan ini mencakup masalah pendanaan karena kewajiban keuangan lainnya, ketakutan untuk beradaptasi kembali dengan lingkungan belajar, stigma terkait usia, menyeimbangkan tanggung jawab keluarga dan pekerjaan, serta kurangnya kesadaran tentang proses aplikasi dan pendanaan. Data menunjukkan bahwa mahasiswa 'mature' memiliki tingkat putus kuliah yang lebih tinggi, dengan 15,2% tidak melanjutkan studi setelah tahun pertama pada 2016-17, dibandingkan dengan 7,8% mahasiswa muda. Mereka juga cenderung kurang berhasil meraih gelar kelas satu atau kelas dua atas dibandingkan mahasiswa muda. Namun, lulusan 'mature' lebih mungkin mendapatkan pekerjaan berketerampilan tinggi; pada 2015-16, 77% lulusan 'mature' berhasil dalam pekerjaan tersebut, dibandingkan 73% lulusan muda.
Implikasi dari tren ini meluas. Bagi individu, kembali ke pendidikan dapat meningkatkan kepercayaan diri, memperluas jaringan profesional, dan menawarkan kepuasan pribadi yang signifikan. Bagi pasar kerja, inisiatif reskilling dan upskilling sangat penting karena sekitar 30,5 juta pekerja Inggris, atau 94% dari angkatan kerja saat ini, diperkirakan akan kekurangan rangkaian keterampilan penuh yang mereka butuhkan pada tahun 2030. CIPD menyerukan "era reskilling" baru untuk membantu pekerja yang lebih tua tetap bekerja, membangun ketahanan finansial jangka panjang, dan tetap beradaptasi serta kompetitif di pasar kerja yang berubah akibat kemajuan AI dan transisi menuju ekonomi nol bersih.
Dari perspektif institusi pendidikan tinggi, mahasiswa 'mature' membawa pengalaman hidup yang kaya, motivasi tinggi, dan komitmen untuk unggul, yang dapat memperkaya dan mendiversifikasi komunitas mahasiswa. Namun, universitas dan perguruan tinggi perlu menyesuaikan sistem dukungan dan penawaran kursus mereka untuk memenuhi kebutuhan spesifik kelompok ini, seperti fleksibilitas studi paruh waktu atau pembelajaran jarak jauh. Dukungan keuangan, layanan konseling, dan program pembangunan kepercayaan diri terbukti penting dalam membantu mereka berhasil.
Ke depannya, keberhasilan kebijakan seperti LLE akan bergantung pada kemampuannya mengatasi hambatan finansial dan non-finansial yang dihadapi mahasiswa 'mature'. Memastikan akses yang setara terhadap pendidikan berkualitas tinggi dan terjangkau bagi semua adalah target utama agenda pembangunan berkelanjutan PBB. Dengan angkatan kerja yang menua dan kebutuhan akan keterampilan baru yang terus meningkat, kemampuan Inggris untuk mendukung pembelajaran seumur hidup akan menjadi krusial bagi pertumbuhan ekonomi dan mobilitas sosial.