Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Mendikdasmen Targetkan Revitalisasi Hampir Seluruh Sekolah Rusak Rampung Januari

2026-01-10 | 07:45 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-10T00:45:18Z
Ruang Iklan

Mendikdasmen Targetkan Revitalisasi Hampir Seluruh Sekolah Rusak Rampung Januari

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan 95 persen dari 16.171 sekolah yang masuk dalam program revitalisasi tahun 2025 telah rampung, menargetkan seluruh proyek selesai 100 persen pada akhir Januari 2026. Pengumuman ini disampaikan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, yang berharap lingkungan belajar yang lebih layak dapat segera dimanfaatkan secara optimal. Program revitalisasi ini merupakan respons terhadap kondisi infrastruktur pendidikan yang memprihatinkan di Indonesia selama bertahun-tahun.

Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukkan, pada tahun ajaran 2024/2025, sekitar 60 persen dari 1,18 juta ruang kelas sekolah dasar (SD) di Indonesia berada dalam kondisi rusak, dengan 10,81 persen di antaranya rusak berat. Di jenjang sekolah menengah pertama (SMP), hampir 50 persen ruang kelas dilaporkan rusak. Kondisi ini diperparah dengan tren peningkatan jumlah ruang kelas rusak sedang hingga berat di jenjang SD, SMP, dan SMA antara tahun 2022 dan 2024, sementara ruang kelas dalam kondisi baik justru menurun. Kerusakan ini tidak hanya mengganggu proses belajar mengajar, tetapi juga membahayakan keselamatan siswa dan guru, terutama di daerah pelosok.

Untuk mengatasi masalah kronis ini, pemerintah melalui Kemendikdasmen mengalokasikan anggaran sekitar Rp16,9 triliun hingga Rp17,15 triliun untuk program revitalisasi pada tahun 2025. Program ini awalnya menargetkan 10.440 sekolah, namun kemudian dioptimalkan menjadi 16.139 hingga 16.171 satuan pendidikan di seluruh jenjang, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga pendidikan nonformal. Menteri Abdul Mu'ti menjelaskan, pelaksanaan revitalisasi dilakukan dengan skema swakelola, yang tidak hanya mempercepat pembangunan, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar dan mendorong pembelian bahan bangunan dari lingkungan setempat. Pendekatan ini diperkirakan telah menyerap hampir 500.000 tenaga kerja.

Di Sumatra Utara, misalnya, sebanyak 897 sekolah direvitalisasi dengan anggaran Rp852 miliar, ditargetkan rampung sepenuhnya pada akhir Januari 2026. Hingga awal Januari 2026, 349 sekolah telah menyelesaikan revitalisasi secara penuh, 117 sekolah mencapai progres 95-99 persen, dan 431 lainnya masih dalam tahap pembangunan di bawah 95 persen. Selain perbaikan fisik, Kemendikdasmen juga memperkuat pembelajaran berbasis teknologi dengan menyalurkan ribuan panel interaktif digital (PID) ke berbagai satuan pendidikan.

Program revitalisasi ini mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat. Survei menunjukkan 78,4 persen masyarakat menilai baik Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) kategori revitalisasi satuan pendidikan, dengan 29,3 persen merasa program ini berdampak pada lingkungan belajar yang lebih baik dan 19,8 persen merasakan peningkatan kualitas pendidikan. Persepsi publik terhadap implementasi program ini berkisar antara 96,0 persen hingga 98,7 persen telah berjalan dengan baik atau sangat baik berdasarkan riset P3M Universitas Indonesia.

Melihat skala permasalahan yang masih besar, dengan lebih dari 100.000 sekolah secara nasional masih membutuhkan penanganan fisik, pemerintah telah menyiapkan kelanjutan program pada tahun 2026. Anggaran sebesar Rp14 triliun lebih dialokasikan untuk 11.000 satuan pendidikan, dan Presiden Prabowo Subianto berkomitmen menambah target revitalisasi sebanyak 60.000 sekolah, sehingga total mencapai sekitar 71.000 satuan pendidikan. Prioritas utama revitalisasi pada tahun 2026 tetap difokuskan pada pembangunan dan perbaikan fisik gedung sekolah, terutama bagi sekolah-sekolah yang rusak akibat bencana alam. Kemendikdasmen juga mempermudah mekanisme pengusulan program revitalisasi untuk tahun anggaran 2026 melalui aplikasi revit.kemendikdasmen.go.id, yang berfungsi sebagai pusat kendali perencanaan dan monitoring. Menteri Abdul Mu'ti optimistis program revitalisasi sekolah rusak dapat diselesaikan sebelum 2029.