Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Mengungkap Sang Juara Mungil: Mamalia Terkecil Dunia Bersembunyi di Tetangga Indonesia

2026-01-23 | 06:37 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-22T23:37:40Z
Ruang Iklan

Mengungkap Sang Juara Mungil: Mamalia Terkecil Dunia Bersembunyi di Tetangga Indonesia

Celurut Etruska (Suncus etruscus), mamalia terkecil di dunia berdasarkan massa tubuhnya, berbobot rata-rata hanya sekitar 1,8 gram atau setara dengan klip kertas, menempati beragam habitat termasuk di sebagian Malaysia, negara tetangga Indonesia. Keberadaan makhluk mungil ini menyoroti kerentanan ekosistem tropis di Asia Tenggara di tengah laju pembangunan yang pesat.

Dengan panjang tubuh antara 3 hingga 5,2 sentimeter, tidak termasuk ekornya, celurut ini memiliki metabolisme yang sangat cepat, menuntutnya mengonsumsi makanan 1,5 hingga 2 kali lipat berat badannya setiap hari. Jantungnya berdetak hingga 1.511 kali per menit, menjadikannya salah satu mamalia dengan detak jantung tercepat di Bumi. Pola makan utamanya meliputi berbagai invertebrata seperti serangga, larva, dan cacing tanah, bahkan kadang-kadang amfibi kecil atau kadal, menjadikannya predator mikro yang vital dalam menjaga keseimbangan populasi serangga.

Secara historis, distribusi Celurut Etruska sangat luas, membentang di sabuk lintang 10° hingga 45°N dari Eropa Selatan dan Afrika Utara hingga ke Timur Tengah dan sebagian Asia, termasuk dilaporkan di Semenanjung Malaysia dan bagian Malaysia di Pulau Kalimantan. Meskipun secara global Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) mengklasifikasikannya dalam kategori "Risiko Rendah" (Least Concern), kepadatan populasinya umumnya lebih rendah dibanding jenis celurut lain di wilayah jelajahnya, dan terancam punah di beberapa negara.

Ancaman terbesar terhadap spesies ini berasal dari aktivitas manusia, terutama hilangnya habitat akibat praktik pertanian intensif dan urbanisasi. Meskipun Celurut Etruska dapat beradaptasi dengan lingkungan yang dimodifikasi manusia, seperti kebun dan ladang yang ditinggalkan, mereka menghindari area yang sangat padat dan hutan lebat. Perubahan iklim dan periode kekeringan juga menjadi ancaman signifikan bagi kelangsungan hidup mereka yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Para ilmuwan mencatat bahwa beberapa bekas subspesies dari Suncus etruscus, seperti Suncus hosei yang ditemukan di hutan dipterocarp Asia, kini telah dinaikkan statusnya menjadi spesies penuh dan dikategorikan rentan. Demikian pula, spesies celurut kerdil lain yang berkerabat dekat, Suncus malayanus, ditemukan di dataran tinggi tropis Malaysia, menunjukkan keanekaragaman dan kompleksitas taksonomi celurut kecil di kawasan tersebut.

Keberadaan mamalia sekecil Celurut Etruska di dekat Indonesia menggarisbawahi pentingnya upaya konservasi habitat yang terfragmentasi. Perannya sebagai pengontrol hama serangga berkontribusi pada kesehatan ekosistem pertanian dan hutan. Hilangnya spesies ini, sekalipun kecil, dapat memicu dampak berjenjang pada rantai makanan dan keseimbangan ekologi yang lebih luas, memberikan pelajaran berharga tentang betapa rapuhnya keanekaragaman hayati di tengah tekanan pembangunan regional.