Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Misteri Fosil Terpecahkan: Sarang Lebah Purba 20 Milenium Tersembunyi dalam Tulang

2026-01-06 | 19:39 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-06T12:39:51Z
Ruang Iklan

Misteri Fosil Terpecahkan: Sarang Lebah Purba 20 Milenium Tersembunyi dalam Tulang

REPUBLIK DOMINIKA – Sebuah penemuan paleontologi yang mengejutkan di sebuah gua kapur di Republik Dominika telah mengungkap sarang lebah purba yang bersemayam di dalam tulang-tulang fosil mamalia, menawarkan wawasan baru tentang perilaku adaptif serangga 20.000 tahun yang lalu. Fosil unik ini, yang ditemukan di Gua Cueva de Mono di bagian selatan Hispaniola, merupakan bukti pertama yang tercatat tentang lebah yang membangun sarang dalam rongga tulang yang sudah ada sebelumnya.

Paleontolog Lazaro Viñola López, seorang peneliti di Field Museum Chicago yang memimpin studi tersebut, bersama rekan-rekannya, menemukan sarang-sarang berukuran kurang dari penghapus pensil ini selama eksplorasi gua. Hasil penelitian mereka secara rinci diterbitkan pada 16 Desember 2025, dalam jurnal Royal Society Open Science. Viñola López menjelaskan bahwa sebagian besar lebah adalah soliter, meletakkan telur di rongga kecil dan meninggalkan serbuk sari untuk larva, namun sarang lebah di dalam tulang merupakan hal yang baru bahkan bagi para peneliti berpengalaman.

Sarang-sarang kuno ini ditemukan di dalam rongga tulang punggung hutia yang telah punah—sejenis hewan pengerat Karibia berukuran besar—dan juga di gigi seekor sloth yang telah punah. Analisis pemindaian CT mengungkapkan bahwa sarang-sarang tersebut, yang disebut Osnidum almontei (dinamai sesuai penemu gua, Juan Almonte Milan), terbuat dari campuran tanah dan air liur lebah, yang membentuk lapisan halus di bagian dalam. Beberapa sarang bahkan masih mengandung butiran serbuk sari kuno, bekal makanan yang ditinggalkan oleh lebah induk untuk larva mereka.

Gua Cueva de Mono sendiri berfungsi sebagai kapsul waktu geologis. Selama ribuan tahun, gua ini diyakini menjadi tempat tinggal berbagai generasi burung hantu, termasuk burung hantu gudang raksasa. Burung-burung pemangsa ini akan kembali ke gua setelah berburu dan memuntahkan pelet yang berisi tulang-tulang mangsa mereka. Seiring waktu, lapisan-lapisan tulang ini terfosilisasi di atas satu sama lain di antara lapisan karbonat yang terbentuk selama periode hujan. Lingkungan gua yang unik ini, dikombinasikan dengan kemungkinan minimnya lapisan tanah di luar gua, mendorong lebah purba untuk mengadaptasi perilaku bersarang yang tidak biasa ini.

Penemuan ini memiliki implikasi signifikan terhadap pemahaman kita tentang ekologi dan evolusi serangga purba. Fosil-fosil lebah sebelumnya dari Karibia sebagian besar ditemukan dalam amber dan berusia sekitar 20 juta tahun, sehingga penemuan ini mengisi celah penting dalam catatan fosil regional yang berusia puluhan ribu tahun. Ini menunjukkan kemampuan adaptasi lebah yang luar biasa terhadap tekanan lingkungan. Viñola López menekankan bahwa penemuan ini menyoroti betapa anehnya lebah—mereka dapat mengejutkan—dan juga betapa hati-hatinya peneliti harus dalam memeriksa fosil. Meskipun spesies lebah yang membuat sarang ini belum dapat diidentifikasi karena tidak adanya sisa-sisa tubuh lebah, ada kemungkinan bahwa mereka adalah kerabat dari spesies lebah yang masih hidup hingga saat ini, mengingat minimnya pengetahuan tentang ekologi banyak lebah di kepulauan tersebut.