:strip_icc()/kly-media-production/medias/5080366/original/098387100_1736160174-1736156793388_caption-quotes-islami-singkat.jpg)
Fenomena kelelahan spiritual dan perasaan terasing dari koneksi Ilahi semakin nyata di kalangan umat Muslim global, memicu peningkatan pencarian akan 'tadzkirah' atau pengingat berbasis ajaran Islam sebagai mekanisme koping. Ahli kesehatan mental dan ulama menyoroti peran sentral kutipan-kutipan Islami yang menyentuh hati dalam membimbing individu melalui periode kesulitan iman dan stres modern. Kajian menunjukkan bahwa integrasi spiritualitas dalam psikologi menawarkan pendekatan holistik untuk kesehatan mental, mengatasi keterbatasan metode sekuler yang seringkali gagal menyentuh dimensi keagamaan mendalam.
Sebuah penelitian oleh Dr. Alia Ahmed pada tahun 2022 tentang Ramadan Fatigue Syndrome, misalnya, menemukan bahwa 65% partisipan melaporkan penurunan motivasi spiritual di minggu ketiga puasa, dipicu oleh akumulasi kelelahan fisik, rutinitas ibadah repetitif, dan tekanan untuk "menjadi sempurna" selama Ramadan. Kondisi ini, yang dikenal sebagai "kelelahan spiritual" atau spiritual burnout, ditandai dengan hilangnya gairah, energi, atau makna dalam aktivitas spiritual. Gejalanya mencakup penurunan semangat dalam salat malam atau tarawih, kesulitan konsentrasi saat membaca Al-Qur'an, perasaan hampa, dan emosi tidak stabil. Konteks ini menegaskan urgensi tadzkirah sebagai intervensi.
Secara historis, tadzkirah, atau pengingat, telah menjadi pilar dalam tradisi Islam untuk menguatkan iman dan membimbing jiwa. Konsep-konsep seperti dzikir (mengingat Allah), sabar, tawakal (berserah diri), dan ikhlas, yang banyak terkandung dalam kutipan Islami, tidak hanya merupakan nilai teologis tetapi juga strategi psikologis yang efektif. Penelitian interdisipliner menunjukkan bahwa spiritualitas Islam memiliki potensi signifikan sebagai intervensi preventif dan kuratif dalam menghadapi krisis kesehatan mental di komunitas Muslim. Al-Qur'an dan Hadis secara konsisten menekankan bahwa setiap kesulitan mengandung kemudahan (QS. Al-Insyirah), dan bahwa mengingat Allah dapat menenteramkan hati (QS. Ar-Ra'd: 28).
Di era digital, penyebaran kutipan Islami yang menyentuh hati kian masif melalui platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Facebook. Ini memungkinkan akses informasi keagamaan yang cepat dan luas, serta memfasilitasi diskusi dan pembentukan komunitas online. Namun, arus informasi yang deras ini juga membawa tantangan, seperti penyebaran disinformasi dan konten negatif yang bertentangan dengan nilai Islami, serta potensi gangguan terhadap ibadah dan konsistensi semangat beragama. Ustadz M. Nurrudin, Lc, MA, dalam kajiannya, menguraikan pentingnya "hijrah digital" untuk menjaga iman dari gelombang digital yang menjauhkan dari akidah.
Para psikolog Islam menekankan pentingnya konsep seperti tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), tawakkal (penyerahan diri kepada Tuhan), sabar, dan syukur sebagai fondasi intervensi psikologis yang efektif. Misalnya, praktik zikir dan doa dapat menjadi alat koping yang kuat, sementara konsep takdir membantu individu menerima dan beradaptasi dengan kesulitan. Studi dari Case Western Reserve University pada tahun 2018 menemukan bahwa strategi koping positif dalam Islam, yang dikenal sebagai "jihad spiritual" (jihad akbar), berkorelasi dengan pertumbuhan pasca-trauma dan pengurangan kecemasan serta depresi. Seyma Saritoprak, mahasiswa doktoral di Case Western Reserve dan penulis utama studi tersebut, menyatakan bahwa "penelitian kami menunjukkan bahwa merangkul perjuangan spiritual melalui konsep jihad spiritual Islam bisa menjadi strategi koping yang baik secara psikologis."
Implikasi jangka panjang dari fenomena ini adalah kebutuhan akan pendekatan terpadu antara ajaran agama dan kesehatan mental modern. Integrasi nilai-nilai Islam ke dalam program kesehatan mental menjadi solusi strategis untuk meningkatkan kesejahteraan mental komunitas Muslim secara komprehensif. Hal ini tidak hanya memperkaya diskursus psikologi global dengan dimensi spiritual yang sering terabaikan, tetapi juga menyediakan layanan kesehatan mental yang lebih relevan dan efektif. Pendidikan literasi digital agama dan bimbingan penggunaan media sosial yang bijak juga krusial untuk membentengi umat dari dampak negatif sekaligus memaksimalkan manfaat konten Islami yang inspiratif.