
Peminatan terhadap studi kriminologi di Indonesia menunjukkan tren peningkatan, seiring kompleksitas dinamika kejahatan dan kebutuhan akan analisis mendalam dalam penegakan hukum serta kebijakan publik. Beberapa perguruan tinggi terkemuka di Indonesia kini menawarkan program studi kriminologi, membuka jalan bagi para profesional untuk memahami dan mengatasi fenomena kriminalitas dari berbagai perspektif ilmiah.
Universitas Indonesia (UI) merupakan pelopor dengan Departemen Kriminologi di bawah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) yang telah berdiri sejak tahun 1980-an, menawarkan jenjang S1, S2, dan S3. Selain UI, Universitas Budi Luhur (UBL) juga memiliki Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dengan program studi Kriminologi jenjang S1. Kedua institusi ini menjadi rujukan utama bagi calon mahasiswa yang ingin mendalami ilmu kejahatan dan sistem peradilan pidana di Indonesia. Kurikulum yang diajarkan mencakup teori-teori kriminologi, metode penelitian kejahatan, sosiologi hukum, psikologi forensik, victimologi, serta studi tentang berbagai bentuk kejahatan seperti kejahatan transnasional, kejahatan siber, dan terorisme.
Sejarah perkembangan kriminologi di Indonesia tidak lepas dari kebutuhan untuk mengadaptasi teori-teori Barat dengan konteks sosial-budaya lokal. Ilmu ini mulai mendapatkan pijakan kuat di era pasca-kemerdekaan, ketika pemerintah menyadari pentingnya pendekatan ilmiah dalam memahami dan menangani masalah kejahatan yang terus berkembang. Pada awalnya, studi kriminologi seringkali terintegrasi dalam disiplin ilmu hukum atau sosiologi, sebelum akhirnya berkembang menjadi program studi mandiri. Profesor E. Utrecht adalah salah satu tokoh awal yang memperkenalkan pemikiran kriminologis di Indonesia. Perkembangan ini juga didorong oleh kasus-kasus kejahatan besar yang menarik perhatian publik, mendorong pemerintah dan akademisi untuk mencari solusi yang lebih komprehensif.
Lulusan kriminologi memiliki prospek karier yang beragam dan krusial di berbagai sektor. Salah satu jalur utama adalah di lembaga penegak hukum, seperti Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), di mana mereka dapat bekerja sebagai analis kejahatan, penyidik, atau peneliti untuk mengembangkan strategi pencegahan dan penanganan kejahatan yang lebih efektif. Misalnya, lulusan kriminologi dapat berkontribusi dalam menganalisis pola kejahatan siber yang meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa jumlah kejahatan siber yang dilaporkan mencapai 15.656 kasus pada tahun 2022, menunjukkan peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Analisis mendalam dari seorang kriminolog sangat dibutuhkan untuk memahami modus operandi dan motif di balik angka-angka tersebut.
Selain itu, kesempatan kerja juga terbuka di lembaga pemasyarakatan dan rehabilitasi, di mana lulusan dapat berperan dalam pembinaan narapidana dan program resosialisasi. Di sektor swasta, mereka bisa bekerja sebagai konsultan keamanan, analis risiko, atau penyelidik forensik bagi perusahaan yang menghadapi ancaman kejahatan ekonomi atau siber. Organisasi non-pemerintah (NGO) yang berfokus pada hak asasi manusia, reformasi peradilan pidana, atau perlindungan korban kejahatan juga seringkali membutuhkan keahlian kriminolog.
Menurut Dr. Iqrak Sulhin, seorang kriminolog dari Universitas Indonesia, "Kriminologi tidak hanya mempelajari kejahatan, tetapi juga sistem respons terhadap kejahatan, termasuk peran masyarakat dalam pencegahan. Lulusan kriminologi saat ini dituntut untuk memiliki kemampuan analitis yang tajam serta pemahaman multidisipliner untuk menghadapi tantangan kejahatan kontemporer." Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya lulusan kriminologi dalam tidak hanya menganalisis kejahatan, tetapi juga merancang dan mengevaluasi kebijakan pencegahan kejahatan yang berbasis bukti.
Masa depan karier kriminologi di Indonesia semakin menjanjikan mengingat kompleksitas dan dinamika kejahatan yang terus berkembang, mulai dari kejahatan konvensional hingga kejahatan lintas batas negara dan kejahatan digital. Kebutuhan akan tenaga ahli yang mampu melakukan riset, analisis, dan memberikan rekomendasi kebijakan yang tepat akan terus meningkat. Peningkatan investasi dalam teknologi informasi oleh pemerintah dan sektor swasta juga membuka peluang baru bagi kriminolog yang memiliki keahlian dalam keamanan siber dan analisis data kejahatan. Dengan fondasi akademik yang kuat dan relevansi yang terus meningkat, studi kriminologi di Indonesia menawarkan jalur karier yang tidak hanya menantang tetapi juga berdampak signifikan terhadap upaya mewujudkan keadilan dan keamanan masyarakat.