:strip_icc()/kly-media-production/medias/5461174/original/007498100_1767343320-unnamed_-_2026-01-02T153810.375.jpg)
Umat Muslim di seluruh dunia, khususnya di Indonesia, bersiap menyambut pelaksanaan ibadah puasa Ayyamul Bidh untuk bulan Januari 2026. Puasa sunah yang jatuh pada pertengahan bulan Rajab 1447 Hijriah ini diperkirakan akan dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut, yakni pada Jumat, 2 Januari; Sabtu, 3 Januari; dan Minggu, 4 Januari 2026. Amalan ini, yang dikenal memiliki keutamaan pahala setara berpuasa setahun penuh, menjadi momentum spiritual penting bagi jutaan Muslim mengawali tahun Masehi sekaligus memanfaatkan berkah bulan haram Rajab.
Puasa Ayyamul Bidh, yang secara harfiah berarti "hari-hari putih", merujuk pada tiga hari dalam kalender Hijriah (tanggal 13, 14, dan 15) ketika bulan purnama bersinar paling terang di malam hari, menerangi bumi seolah menjadikannya putih. Amalan ini merupakan sunah muakkad atau sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dalil keutamaan puasa ini bersandar pada sejumlah hadis, salah satunya riwayat Abu Dzar RA yang menyatakan, "Barangsiapa berpuasa tiga hari dari setiap bulan, maka dia seperti berpuasa sepanjang masa." Rasulullah SAW juga mewasiatkan kepada sahabat Abu Hurairah RA untuk tidak meninggalkan tiga amalan sepanjang hidup, yakni puasa tiga hari setiap bulan, salat duha, dan salat witir sebelum tidur.
Signifikansi pahala setara setahun penuh ini didasarkan pada prinsip dalam Islam bahwa setiap satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Dengan berpuasa tiga hari setiap bulan, seorang Muslim akan mendapatkan pahala yang setara dengan 30 hari puasa. Jika dilakukan secara rutin selama 12 bulan dalam setahun, pahalanya akan serupa dengan berpuasa selama 360 hari, atau kurang lebih satu tahun penuh. Selain itu, puasa ini juga dipercaya dapat membersihkan "wahr" di dada, yang dalam tafsir An Nihayah dimaknai sebagai tipu daya, dengki, dendam, dan waswas, sehingga mendorong kesucian hati.
Niat puasa Ayyamul Bidh dapat dilafalkan dengan bacaan "Nawaitu shauma ayyâmil bîdl lilâhi ta'âlâ," yang berarti "Saya niat puasa Ayyamul Bidl (hari-hari yang malamnya cerah), karena Allah ta'âlâ." Para ulama juga memperbolehkan pembacaan niat di siang hari asalkan individu yang berpuasa belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar. Pelaksanaan puasa Ayyamul Bidh pada Januari 2026 ini bertepatan dengan bulan Rajab, salah satu dari empat bulan haram (Asyhurul Hurum) dalam kalender Islam yang dimuliakan. Momen ini memberikan lapisan keistimewaan tambahan, mendorong umat Muslim untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Praktik puasa sunah ini tidak hanya memberikan ganjaran pahala yang besar, tetapi juga berfungsi sebagai medium untuk melatih kedisiplinan diri, meningkatkan ketakwaan, serta memperkuat ikatan spiritual dengan Sang Pencipta. Penentuan tanggal pelaksanaan puasa Ayyamul Bidh ini mengikuti kalender Hijriah yang berbasis pada peredaran bulan, yang berbeda dengan kalender Masehi. Oleh karena itu, otoritas keagamaan di setiap negara, seperti Kementerian Agama di Indonesia, kerap melakukan konversi dan penetapan resmi berdasarkan hasil hisab atau rukyah. Kesadaran akan jadwal yang tepat menjadi kunci bagi umat Muslim untuk menjalankan ibadah ini sesuai syariat dan meraih keberkahan yang dijanjikan.