
Pemerintah Korea Selatan secara resmi membuka kembali program beasiswa bagi siswa sekolah menengah atas (SMA) internasional untuk tahun akademik 2027 melalui Korea Science Academy (KSA) di bawah naungan Korea Advanced Institute of Science & Technology (KAIST), sebuah institusi yang menduduki peringkat ke-53 dunia. Beasiswa ini menawarkan kuota sangat terbatas, yakni hanya 15 siswa dari berbagai negara, menggarisbawahi persaingan ketat untuk mengakses pendidikan sains dan teknologi elit di negara tersebut. Pengumuman ini datang di tengah upaya agresif Korea Selatan untuk menarik talenta global, dengan target 300.000 mahasiswa internasional pada tahun 2027 di semua jenjang pendidikan.
Program KSA, yang dikenal dengan kurikulum fokus pada sains, teknologi, dan matematika, bertujuan untuk mengembangkan siswa-siswa berbakat. Tingkat penerimaan KSA sangat kompetitif, dengan hanya sekitar 10% dari total pendaftar yang berhasil pada tahun 2025. Lulusan KSA mayoritas melanjutkan studi di perguruan tinggi terkemuka di Korea Selatan atau luar negeri. Cakupan beasiswa ini sangat komprehensif, meliputi biaya pendidikan penuh, program pelatihan luar negeri, program aktivitas penelitian kreatif, aktivitas kepemimpinan, hingga program penelitian di KAIST, akomodasi, makan, serta asuransi kesehatan. Ini mencerminkan investasi signifikan Korea Selatan dalam menarik dan membina calon pemimpin di bidang STEM.
Pembukaan beasiswa dengan kuota terbatas ini terjadi di tengah strategi besar pemerintah Korea Selatan, yang dikenal sebagai "Study Korea 300K Project," untuk mengatasi penurunan populasi usia sekolah dan memperkuat daya saing universitas lokal yang menghadapi kekurangan pendaftaran. Pada paruh pertama tahun 2024, Korea Selatan mencatat rekor kedatangan lebih dari 200.000 mahasiswa internasional, meningkat 50,6% dari periode yang sama tahun sebelumnya, dengan mayoritas berasal dari Tiongkok, Vietnam, dan Jepang. Meskipun sebagian besar program beasiswa pemerintah, seperti Global Korea Scholarship (GKS), berfokus pada jenjang sarjana dan pascasarjana, yang menargetkan 280 mahasiswa sarjana pada tahun 2026, termasuk 150 melalui jalur kedutaan dan 130 melalui jalur universitas, beasiswa KSA ini secara khusus menyasar pendidikan menengah.
Implikasi dari kuota yang sangat terbatas ini adalah peningkatan kompetisi yang ekstrem di antara para pelamar internasional yang bercita-cita untuk mengakses sistem pendidikan Korea Selatan yang sangat dihargai. Sistem pendidikan Korea dikenal karena kualitasnya yang tinggi, kurikulum yang ketat, dan fokus pada kecepatan serta akurasi, terutama dalam matematika. Universitas-universitas Korea Selatan juga menempati peringkat global yang tinggi, dengan enam di antaranya masuk dalam 100 teratas dunia. Namun, lingkungan akademis di Korea Selatan juga ditandai oleh tekanan yang intens, dengan siswa menghabiskan waktu belajar lebih banyak dibandingkan rekan-rekan mereka di negara-negara OECD. Professor Soo-yong Byun, peneliti pendidikan dari Penn State, menyoroti bahwa meskipun sistem ini menghasilkan prestasi akademik yang tinggi, terdapat isu ketidaksetaraan dan tingkat kepercayaan diri serta kesejahteraan akademik yang rendah di kalangan siswa.
Selain tekanan akademik, siswa internasional juga menghadapi tantangan seperti biaya hidup yang tinggi, perbedaan budaya, dan hambatan bahasa. Meskipun pemerintah telah mengambil langkah untuk mengurangi persyaratan bahasa dan finansial untuk visa pelajar D-2, kemampuan berbahasa Korea tetap menjadi faktor krusial untuk adaptasi dan kesempatan kerja pasca-studi. Kebijakan pemerintah yang bertujuan menarik talenta asing ke industri berteknologi tinggi dan mengatasi kekurangan tenaga kerja melalui jalur pendidikan juga menunjukkan bahwa beasiswa seperti KSA memiliki peran strategis dalam visi jangka panjang Korea Selatan untuk memposisikan diri sebagai pusat inovasi global. Namun, hanya dengan 15 kursi yang tersedia, dampak langsung dari beasiswa ini terhadap target makro penarikan talenta mungkin terbatas, meskipun nilai prestise dan pembinaan bakat khusus tetap signifikan.