
Lautan di seluruh dunia menyerap jumlah panas tertinggi sepanjang sejarah pada tahun 2025, memecahkan rekor selama sembilan tahun berturut-turut dan memperkuat ancaman badai yang makin dahsyat, banjir ekstrem, serta kenaikan muka laut. Temuan ini diungkapkan dalam analisis internasional terbaru yang dipublikasikan pada 9 Januari 2026 di jurnal Advances in Atmospheric Sciences.
Studi yang melibatkan lebih dari 50 ilmuwan dari 31 lembaga riset global tersebut menunjukkan bahwa akumulasi panas di lautan pada tahun lalu meningkat sebesar 23 zettajoule. Jumlah energi tersebut setara dengan hampir empat dekade konsumsi energi primer global berdasarkan data tahun 2023. Karina von Schuckmann, oseanografer dari Mercator Ocean International dan salah satu penulis analisis, menegaskan bahwa pengukuran panas di laut dalam memberikan gambaran yang lebih akurat dibandingkan fluktuasi suhu permukaan yang bersifat sementara. Menurutnya, lautan, yang menyerap lebih dari 90 persen panas berlebih akibat emisi gas rumah kaca, menjadi indikator paling andal untuk menelusuri pemanasan global jangka panjang.
Meskipun kandungan panas laut global mencapai rekor tertinggi, suhu permukaan laut rata-rata pada tahun 2025 tercatat sebagai yang terpanas ketiga, sedikit di bawah puncak tahun 2023 dan 2024. Penurunan sementara suhu permukaan ini dipengaruhi oleh peralihan fenomena El Niño ke La Niña di Pasifik tropis. Namun, para ilmuwan menekankan bahwa penurunan suhu permukaan tidak bertentangan dengan rekor kandungan panas laut keseluruhan karena panas dapat berpindah secara vertikal dan geografis, sementara total panas yang tersimpan di laut tetap meningkat secara signifikan.
Pemanasan laut secara langsung berdampak pada peningkatan penguapan, yang memperkuat hujan ekstrem dan siklon tropis. Kondisi ini berpotensi menciptakan badai yang lebih kuat, lebih sulit diprediksi, dan curah hujan yang lebih lebat. Data historis menunjukkan bahwa suhu permukaan laut yang tinggi merupakan salah satu pemicu utama terbentuknya siklon tropis dan dapat meningkatkan intensitasnya. Penelitian sebelumnya, seperti yang dikutip oleh Knutson et al. (2010), memproyeksikan kenaikan intensitas siklon tropis global sebesar 2-11 persen pada abad ke-21.
Selain badai, panas berlebih di lautan mendorong kenaikan muka air laut melalui pemuaian termal air laut itu sendiri, bahkan tanpa tambahan air dari pencairan es. Kondisi ini memperbesar risiko cuaca ekstrem lainnya dan memperpanjang gelombang panas laut yang mengancam ekosistem. Laporan tersebut mengaitkan laut yang lebih hangat dengan berbagai bencana pada tahun 2025, termasuk banjir besar di Asia Tenggara dan Meksiko, serta kekeringan di Timur Tengah. Wilayah-wilayah dengan pemanasan tertinggi pada tahun lalu meliputi lautan tropis, Atlantik Selatan, Pasifik Utara, Samudra Selatan, dan Samudra Hindia bagian utara. Sekitar 16 persen wilayah lautan dunia mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarahnya pada 2025, sementara sepertiga wilayah lain berada di ambang kondisi ekstrem.
Pemanasan laut juga berdampak buruk pada terumbu karang tropis, menyebabkan kematian massal saat gelombang panas laut berlangsung terlalu lama, mengancam keanekaragaman hayati yang bergantung padanya. Para ilmuwan memperingatkan bahwa selama Bumi terus mengakumulasi panas, kandungan panas lautan akan terus meningkat, permukaan laut akan naik, dan rekor baru akan terus tercipta. Ketidakpastian terbesar dalam sistem iklim saat ini bukan lagi terletak pada fisika, melainkan pada pilihan yang diambil oleh manusia. Pengurangan emisi gas rumah kaca secara cepat masih menjadi kunci untuk membatasi dampak di masa depan dan membantu menjaga iklim yang memungkinkan masyarakat dan ekosistem untuk bertahan.