:strip_icc()/kly-media-production/medias/3321115/original/044920000_1607656345-zac-durant-_6HzPU9Hyfg-unsplash.jpg)
Prevalensi gangguan kesehatan mental yang meningkat di Indonesia telah menyoroti pentingnya pendekatan spiritual, dengan ajaran dan praktik Islami kian diakui sebagai sumber signifikan kekuatan batin dan ketahanan psikologis. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2023 mengungkapkan bahwa 20% penduduk Indonesia, setara dengan 54 juta orang, mengalami gangguan mental emosional. Krisis ini semakin akut di kalangan generasi muda, di mana Survei Nasional Kesehatan Mental Remaja Indonesia (I-NAMHS) tahun 2022 menunjukkan satu dari tiga remaja Indonesia, atau sekitar 15,5 juta orang, menghadapi masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir, dengan 2,45 juta remaja didiagnosis mengalami gangguan mental seperti kecemasan dan depresi mayor. Namun, hanya 8% penderita yang mendapatkan penanganan profesional, dan hanya 2,6% remaja yang memiliki masalah kesehatan mental memanfaatkan fasilitas konseling atau layanan kesehatan mental. Kesenjangan ini menciptakan kebutuhan mendesak akan solusi yang relevan secara budaya dan spiritual.
Dalam perspektif Islam, stres dipandang sebagai kondisi batin yang terganggu akibat ketidakseimbangan antara aspek kognitif, emosional, dan spiritual dalam diri seseorang. Para ulama dan cendekiawan Muslim menjelaskan bahwa ketegangan psikologis erat kaitannya dengan kondisi hati (qalb) dan kualitas hubungan spiritual dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ketika hati jauh dari ketenangan, kurang dipenuhi dzikir, atau keimanan melemah, kecenderungan munculnya stres dan kecemasan akan semakin besar. Menjaga kesehatan mental dalam Islam melibatkan proses mendalam yang mencakup penguatan hubungan dengan Allah, penerapan nilai-nilai tauhid, dan pelaksanaan ibadah sebagai bentuk pendekatan spiritual.
Dzikir, sebagai salah satu praktik spiritual utama, telah terbukti memberikan ketenangan batin, mengurangi kecemasan, dan mengatasi stres. Praktik ini juga meningkatkan rasa percaya diri, ketenteraman, kebahagiaan, dan optimisme. Sebuah penelitian mengkaji peran dzikir sebagai psikoterapi dalam mengatasi gangguan mental, mengungkapkan bagaimana dzikir memengaruhi kesejahteraan psikologis, termasuk pengurangan gejala depresi, ansietas, dan stres. Studi lain di Universitas Muhammadiyah Makassar menunjukkan bahwa dzikir terbukti efektif menurunkan tingkat kecemasan dan stres, serta meningkatkan perasaan tenang dan kedamaian batin pada dewasa awal. Ustadz Adi Hidayat juga menekankan dzikir sebagai obat penenang pertama dalam mengusir pikiran berat dan kecemasan, merujuk pada Surah Ar-Ra'd ayat 28 yang menyatakan bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenteram. Selain dzikir, shalat lima waktu juga berfungsi sebagai "titik jangkar" untuk melepaskan stres dan kecemasan.
Konsep-konsep Islami seperti sabar dan tawakal (berserah diri kepada Allah) menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan mental. Ajaran tentang tawakal membantu individu merasa lebih tenang dan tidak terlalu terbebani oleh tekanan hidup. Bersyukur tidak hanya dipahami sebagai ucapan, tetapi sebagai sikap batin yang signifikan dalam menjaga kesehatan psikologis, berkorelasi positif dengan tingkat kebahagiaan dan harapan hidup yang lebih tinggi, serta berperan dalam membangun ketahanan emosional. Al-Qur'an, sebagai kitab suci, menawarkan panduan komprehensif untuk menjaga kesehatan mental, tidak hanya mengajarkan aspek spiritual, tetapi juga menyentuh sisi emosional dan mental manusia. Ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadis Nabi Muhammad SAW dipenuhi dengan petunjuk untuk merawat, membersihkan, dan menenangkan jiwa.
Integrasi antara psikoterapi modern dan spiritualitas Islam dipandang sebagai pendekatan yang paling efektif. Psikologi Islam, sebagai disiplin ilmu, memadukan prinsip psikologi dengan ajaran Islam, menawarkan pandangan holistik tentang kesehatan jiwa yang menekankan hubungan manusia dengan Tuhan, diri sendiri, dan sesama sebagai pondasi kesejahteraan. Dalam konteks ini, seorang profesional kesehatan mental yang beragama Islam memiliki keuntungan ganda: ia memahami prinsip-prinsip psikologi modern sekaligus memiliki sensitivitas terhadap nilai-nilai dan keyakinan kliennya. Hal ini memungkinkan penggunaan doa, ayat Al-Qur'an, atau kisah para Nabi sebagai bagian dari proses terapi tanpa mengesampingkan protokol ilmiah yang berlaku. Studi menunjukkan bahwa penerapan dzikir, sabar, tawakal, dan ikhlas dalam terapi psikologi dapat meningkatkan kesejahteraan emosional dan mental secara signifikan. Model-model terapi mental dalam Islam, yang sering berbentuk ibadah, berfungsi sebagai upaya preventif dan kuratif terhadap gangguan mental.
Di tengah tantangan kesehatan mental yang kompleks, pendekatan spiritual Islami menawarkan dimensi penyembuhan yang komprehensif. Implementasi intervensi spiritual Islami di lingkungan rumah sakit, misalnya, telah menunjukkan penurunan tingkat kecemasan dan depresi, peningkatan optimisme, harapan hidup, kepatuhan terhadap pengobatan, serta ketenangan spiritual. Hal ini sejalan dengan prinsip "rahmatan lil 'alamin" yang menempatkan penyembuhan sebagai proses menuju kesejahteraan total manusia, baik fisik, psikologis, sosial, maupun transendental. Ke depan, penguatan peran komunitas dan keluarga sebagai "safe haven" serta edukasi tentang pentingnya kesehatan mental dari para pemimpin agama menjadi krusial untuk menciptakan lingkungan yang mendukung dan empatik, di mana masalah kesehatan mental tidak lagi distigmatisasi.