
Pendaftaran Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) secara nasional akan dibuka mulai Senin, 19 Januari 2026, menandai perubahan signifikan dalam sistem evaluasi pendidikan yang bertujuan untuk mengukur capaian akademik siswa secara lebih objektif dan terstandar. Kebijakan ini, yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), mengharuskan siswa kelas enam SD dan kelas sembilan SMP mempersiapkan diri untuk serangkaian tahapan mulai dari pendaftaran hingga pelaksanaan tes pada bulan April 2026.
TKA merupakan instrumen evaluasi akademik baru yang diberlakukan pasca penghapusan Ujian Nasional (UN) sejak tahun 2021 dan diatur dalam Peraturan Mendikdasmen Nomor 9 Tahun 2025. Tes ini dirancang untuk melengkapi Asesmen Nasional (AN), yang berfokus pada pemetaan mutu pendidikan secara sistemik, dengan memberikan laporan capaian akademik individu siswa. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menegaskan bahwa TKA adalah kelanjutan dari pelaksanaan TKA jenjang SMA/SMK pada tahun 2025, dengan tujuan utama untuk memulihkan motivasi belajar dan capaian akademis siswa yang mengalami penurunan atau "learning loss". TKA juga bersifat tidak wajib dan diselenggarakan tanpa pungutan biaya, memastikan akses setara bagi setiap murid.
Pendaftaran TKA bagi murid kelas VI SD dan kelas IX SMP dijadwalkan berlangsung dari 19 Januari hingga 28 Februari 2026. Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Toni Toharudin, mengungkapkan bahwa Kemendikdasmen akan melaksanakan rangkaian simulasi TKA, dengan simulasi SMP pada 23 Februari hingga 1 Maret 2026, dan simulasi SD pada 2 Maret hingga 8 Maret 2026. Tahap persiapan final atau gladi bersih akan dilaksanakan pada 9 Maret hingga 17 Maret 2026. Pelaksanaan utama TKA SMP dijadwalkan pada 6 April hingga 16 April 2026, sementara TKA SD akan berlangsung pada 20 April hingga 30 April 2026. Hasil TKA akan diumumkan pada 24 Mei 2026.
Toni Toharudin menambahkan bahwa TKA dirancang sebagai alat diagnosis nasional untuk membaca kemampuan akademik murid secara lebih adil, kontekstual, dan berkelanjutan. "Data TKA menjadi titik awal untuk perbaikan, bukan titik akhir. Hasilnya akan digunakan untuk memperkuat pembelajaran mendalam, penyempurnaan kurikulum, serta peningkatan kualitas proses belajar-mengajar," kata Toni. Tes ini diharapkan dapat mendorong satuan pendidikan memperbaiki proses pembelajaran dan penilaian, serta menjadi salah satu sumber informasi untuk pemetaan mutu pendidikan dan masukan penyusunan kebijakan.
Materi TKA untuk jenjang SD dan SMP akan berfokus pada dua mata pelajaran inti: Bahasa Indonesia dan Matematika. Soal-soal TKA disusun dengan variasi yang tidak hanya menguji hafalan, tetapi juga pemahaman dan keterampilan berpikir kritis. Tes berbasis komputer ini mencakup soal tunggal yang berdiri sendiri dan soal grup yang mengacu pada stimulus yang sama, seperti teks bacaan atau grafik. Psikolog dari Komunitas Ruang Gembira Belajar, Wilda Kumala Sari, M.Psi., menyatakan bahwa TKA dapat menjadi momen evaluasi kapasitas diri siswa dengan mengukur literasi dan numerasi, namun tetap memerlukan pendampingan guru agar proses belajar optimal.
Bagi siswa dan orang tua, persiapan pendaftaran TKA memerlukan beberapa langkah penting. Murid harus mendaftarkan keikutsertaan TKA pada satuan pendidikan masing-masing dengan mengisi dan menyerahkan Surat Pernyataan Keikutsertaan TKA yang telah ditandatangani oleh orang tua/wali murid. Selain itu, diperlukan penyerahan dokumen digital pasfoto terbaru (maksimal enam bulan terakhir). Operator sekolah akan melakukan pendaftaran calon peserta TKA, lalu akan diterbitkan Daftar Nominasi Sementara (DNS) untuk diverifikasi dan divalidasi oleh sekolah dan calon peserta. Jika ada data yang salah, perbaikan dapat dilakukan melalui mekanisme Verval PD atau laman verifikasi Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) Kemendikdasmen. Setelah Daftar Nominasi Tetap (DNT) terbit, siswa akan menerima kartu peserta TKA dan kartu login yang harus disiapkan sebelum hari pertama pelaksanaan tes.
Implikasi jangka panjang dari TKA ini diharapkan dapat menciptakan sistem seleksi nasional yang lebih adil dan meritokratis. Hasil TKA akan menjadi salah satu syarat penting dalam proses seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, baik SMP, SMA, maupun perguruan tinggi melalui jalur prestasi, serta dapat digunakan sebagai pertimbangan beasiswa. Abdul Mu'ti menegaskan bahwa TKA membuka ruang bagi murid dari sekolah manapun untuk berprestasi setinggi-tingginya dan bahkan dapat menjadi salah satu jalur yang memudahkan seleksi masuk perguruan tinggi tanpa tes. Ini merefleksikan upaya pemerintah dalam menggeser paradigma evaluasi pendidikan dari sekadar alat seleksi menjadi instrumen refleksi dan perbaikan pembelajaran yang berorientasi pada masa depan siswa. Upaya peningkatan kualitas guru dan metode pembelajaran yang membangun nalar kritis siswa juga menjadi krusial untuk menghadapi karakteristik soal TKA yang tidak sekadar hafalan.