
Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) secara eksplisit menempatkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersanding dengan dua tokoh proklamator dan teknokrat bangsa, Presiden Soekarno dan B.J. Habibie, dalam sebuah pernyataan di kampus tersebut pada 13 Desember 2025, menandai pengakuan signifikan dari institusi pendidikan tinggi terkemuka terhadap kontribusi Purbaya. Penyejajaran ini terjadi di tengah periode krusial Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto, di mana Purbaya memegang kendali atas kebijakan fiskal nasional sejak dilantik pada 8 September 2025.
Pernyataan Rektor ITB tersebut menyoroti jejak alumni ITB yang telah memberikan sumbangsih besar bagi pembangunan Indonesia. Soekarno, proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia, adalah alumni Teknik Sipil ITB yang lulus pada tahun 1926. Sementara itu, B.J. Habibie, presiden ketiga sekaligus Bapak Teknologi Indonesia, memulai studinya di Teknik Mesin ITB pada tahun 1954 sebelum melanjutkan pendidikan di Jerman. Keduanya secara konsisten diakui sebagai ikon kepemimpinan dan inovasi yang lahir dari rahim Kampus Ganesha. Dalam konteks ini, menyebut nama Purbaya bersama mereka mengindikasikan apresiasi mendalam ITB terhadap peran sang Menteri Keuangan saat ini.
Purbaya Yudhi Sadewa sendiri merupakan alumnus Teknik Elektro ITB angkatan 1983 (EL 83). Setelah merampungkan pendidikan sarjana di ITB, ia melanjutkan studi pascasarjana hingga meraih gelar Master of Science (MSc) dan Doktor di bidang Ilmu Ekonomi dari Purdue University, Amerika Serikat. Rekam jejaknya sebelum menjabat Menteri Keuangan mencakup posisi strategis sebagai Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dari tahun 2020 hingga 2025, di mana ia berperan penting dalam menjaga stabilitas sistem perbankan selama pandemi. Ia juga pernah menduduki berbagai posisi di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kantor Staf Presiden, hingga Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Sebagai Menteri Keuangan, Purbaya telah mengambil sejumlah langkah signifikan. Pada akhir 2025, ia menjadi sorotan karena memperkenalkan kebijakan fiskal yang lebih transparan dan efisien, termasuk pemotongan dana transfer ke pemerintah daerah untuk tahun 2026 karena dugaan penyelewengan dan salah kelola, sebuah kebijakan yang memicu protes dari 18 gubernur. Purbaya juga menekankan percepatan investasi sebagai kunci pertumbuhan ekonomi dan memprioritaskan pembangunan infrastruktur melalui APBN untuk proyek-proyek berdaya ungkit besar.
Penyejajaran Purbaya dengan Soekarno dan Habibie oleh Rektor ITB bukan sekadar sanjungan, melainkan sebuah pernyataan simbolis yang kuat dari sebuah institusi akademik. Hal ini menempatkan ekspektasi tinggi terhadap kontribusi Purbaya di panggung nasional, terutama dalam menjaga stabilitas fiskal dan mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah tantangan global yang kompleks. Ini juga merefleksikan tradisi ITB dalam mengidentifikasi dan mengapresiasi alumninya yang dianggap mampu mewujudkan visi kebangsaan melalui keahlian dan kepemimpinan di berbagai sektor, melanjutkan estafet peran intelektual dalam pembangunan bangsa.