
Survei terbaru Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) yang bekerja sama dengan Alvara Strategic Research pada akhir 2025 mengungkapkan bahwa Generasi Z menunjukkan tingkat toleransi beragama yang lebih tinggi dibandingkan generasi Milenial, Generasi X, dan Baby Boomers. Temuan ini menandai dinamika penting dalam lanskap sosial-keagamaan Indonesia, memberikan sinyal optimisme sekaligus menyoroti kompleksitas interaksi antar-generasi di tengah keberagaman.
Survei Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam Tahun 2025 tersebut melibatkan 1.208 responden Muslim di 34 provinsi dengan metode multistage random sampling dan wawancara tatap muka langsung, menghasilkan margin of error 2,89 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Data menunjukkan Gen-Z, yang umumnya lahir antara tahun 1997 hingga 2012, meraih skor indeks 80,03 pada indikator sikap tidak membubarkan kegiatan keagamaan pihak lain. Angka ini melampaui Milenial (78,77), Generasi X (78,97), dan Baby Boomers (78,81). Secara keseluruhan, dalam indeks pengamalan toleransi yang mencakup penerimaan terhadap ibadah agama lain, sikap tidak mencela, tidak melakukan persekusi, dan tidak menyebarkan ujaran kebencian, Gen-Z mencatatkan skor 79,65, lebih tinggi dari Milenial (79,07) dan Baby Boomers (78,63), meskipun sedikit di bawah Generasi X (79,67).
Lilik Purwandi, Peneliti Alvara Strategic Research, menyoroti "kedewasaan sikap yang luar biasa" Gen-Z dalam menghargai perbedaan, menyebut mereka sebagai "generasi yang paling menolak praktik persekusi atau pembubaran kegiatan keagamaan pihak lain". Karakteristik ini, menurut sejumlah ahli, berakar pada pengalaman Gen-Z tumbuh di era digital dan masyarakat multikultural yang intens. Paparan informasi global dan interaksi melalui media sosial memungkinkan mereka berinteraksi dengan berbagai latar belakang agama, suku, bahkan kewarganegaraan, membentuk "otot toleransi" yang lebih lentur terhadap hal-hal baru. Mereka cenderung memiliki nilai universalisme, bersikap terbuka, imparsial, tidak menghakimi, dan adaptif, serta peduli pada keadilan dan persamaan hak untuk semua. Lingkungan pendidikan, termasuk kampus yang semakin beragam, juga berkontribusi dalam membentuk pandangan inklusif ini.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, Arsad Hidayat, menyambut baik hasil survei ini sebagai capaian yang menggembirakan dan menegaskan bahwa laporan ini idealnya menjadi acuan bagi para pengambil kebijakan untuk merumuskan langkah strategis dalam meningkatkan kualitas kehidupan beragama di tanah air. Menurutnya, temuan ini selaras dengan visi Asta Cita Pemerintah, khususnya dalam penguatan sumber daya manusia dan kerukunan sosial. Penekanan pada moderasi beragama oleh Kemenag juga dinilai relevan, mengingat Gen-Z cenderung lebih kritis terhadap narasi ekstrem dan cepat menangkap pesan perdamaian yang dikemas secara kreatif.
Namun, meskipun tren toleransi Gen-Z menunjukkan arah positif yang signifikan, tantangan tetap ada. Penelitian lain menunjukkan bahwa di tengah inklusivitas umum, masih terdapat kecenderungan eksklusivitas dalam ranah beragama yang lebih spesifik. Selain itu, Gen-Z masih rentan terhadap penyebaran hoaks, ujaran kebencian, stereotip, dan diskriminasi di platform digital, serta pengaruh lingkungan konservatif. Membangun literasi digital yang kuat menjadi krusial agar media sosial tetap menjadi alat konstruktif dalam mempromosikan toleransi.
Dengan posisi strategis Gen-Z sebagai motor penggerak menuju Indonesia Emas 2045, modal toleransi yang tinggi ini menjadi aset berharga bagi kohesi sosial dan stabilitas nasional. Masa depan kerukunan beragama di Indonesia akan sangat bergantung pada bagaimana capaian positif ini dapat terus dikawal dan diperkuat melalui pendidikan karakter, dialog antaragama yang berkelanjutan, serta dukungan dari berbagai pihak untuk mewujudkan masyarakat yang lebih inklusif dan harmonis.