Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Rahasia Anak Jago Matematika: Studi Soroti Peran Vital Dukungan Ortu

2026-01-15 | 06:44 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-14T23:44:52Z
Ruang Iklan

Rahasia Anak Jago Matematika: Studi Soroti Peran Vital Dukungan Ortu

Analisis mendalam terhadap data pendidikan global dan nasional secara konsisten menyoroti peran krusial dukungan kedua orang tua dalam membentuk kompetensi matematika anak, sebuah faktor yang seringkali lebih berpengaruh daripada latar belakang sosio-ekonomi semata. Temuan terbaru dari Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan bahwa siswa yang secara teratur makan malam bersama keluarga, diajak bicara, dan ditanya tentang hari sekolah mereka, meraih skor 16 hingga 28 poin lebih tinggi dalam matematika dibandingkan siswa yang tidak terlibat dalam aktivitas serupa setidaknya sekali atau dua kali seminggu. Korelasi ini tetap signifikan bahkan setelah memperhitungkan profil sosio-ekonomi siswa dan sekolah, mengindikasikan bahwa dukungan aktif dari orang tua memiliki dampak yang menentukan.

Indonesia, sebagai salah satu negara peserta PISA, menghadapi tantangan substansial dalam bidang matematika. Hasil PISA 2022 menempatkan kemampuan matematika pelajar Indonesia pada peringkat ke-6 dari 8 negara ASEAN yang berpartisipasi, dengan skor rata-rata 366 poin, yang masuk dalam kategori level 1a. Artinya, secara umum, pelajar Indonesia mampu menjawab pertanyaan matematika sederhana dengan konteks jelas dan informasi lengkap, namun belum cakap berpikir kreatif untuk solusi masalah kompleks. Bahkan, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, pada Konsolidasi Nasional (Konsolnas) Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2025 mengungkapkan bahwa 82 persen siswa usia 15 tahun di Indonesia memiliki kemampuan matematika di bawah standar PISA, yakni di bawah level 2. Ini menandakan kegagalan siswa dalam mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Berbagai penelitian di Indonesia turut memperkuat temuan internasional ini. Sebuah studi kasus di MTs DDI Tinigi, Sulawesi Tengah, menyimpulkan bahwa peran orang tua sebagai motivator, fasilitator, dan pengawas sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar matematika siswa. Penelitian lain yang menggunakan metode Systematic Literature Review menegaskan bahwa keterlibatan orang tua memiliki pengaruh signifikan terhadap hasil belajar matematika siswa sekolah dasar. Dukungan orang tua tidak hanya terbatas pada bantuan instrumental seperti penyediaan fasilitas belajar, tetapi juga mencakup dukungan emosional, informasional, dan penghargaan. Orang tua dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang lebih stabil cenderung mampu memberikan dukungan yang lebih konsisten, yang pada gilirannya membantu anak mencapai hasil belajar yang lebih baik.

Keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak-anak terbukti memberikan banyak dampak positif bagi anak, termasuk menumbuhkan minat belajar dan mengurangi kecemasan terhadap matematika. Penelitian oleh Saputri dan Sundari (2022) menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua berkontribusi positif terhadap proses belajar siswa, baik dalam pembelajaran daring maupun luring, serta menumbuhkan motivasi intrinsik dan ekstrinsik siswa. Bentuk dukungan ini dapat berupa memberikan bimbingan, arahan, nasihat, mengawasi proses belajar, hingga memenuhi fasilitas belajar anak.

Namun, data PISA 2022 juga mencatat penurunan keterlibatan orang tua dalam pembelajaran siswa di sekolah secara global, dengan semakin sedikit orang tua yang secara mandiri berinisiatif berdiskusi dengan guru tentang kemajuan anak mereka. Kondisi ini memerlukan intervensi kebijakan yang lebih terarah. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menyoroti rendahnya nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) nasional, khususnya di matematika, sebagai cerminan kegagalan sistem pendidikan yang struktural, termasuk keterbatasan guru dan sarana prasarana sekolah.

Untuk masa depan, kolaborasi antara sekolah dan keluarga menjadi esensial. Studi menekankan pentingnya komunikasi efektif antara orang tua dan guru, serta penyediaan lingkungan belajar yang mendukung di rumah. Ini bukan hanya tentang memastikan anak menyelesaikan pekerjaan rumah, tetapi juga mendorong pemikiran kritis, penalaran logis, dan penerapan konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan yang berpusat pada keterlibatan aktif kedua orang tua akan menjadi fondasi kuat untuk meningkatkan literasi numerik generasi mendatang, mengatasi kesenjangan hasil belajar antar wilayah, dan pada akhirnya, berkontribusi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia secara nasional. Tanpa dukungan yang berkelanjutan dan terpadu dari kedua orang tua, upaya sekolah saja tidak akan cukup untuk mengatasi tantangan kompleks dalam peningkatan prestasi matematika siswa.