Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Rahasia Produktivitas Islami: 70 Kutipan Bijak tentang Waktu

2026-01-23 | 22:47 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-23T15:47:17Z
Ruang Iklan

Rahasia Produktivitas Islami: 70 Kutipan Bijak tentang Waktu

Penghargaan terhadap waktu, sebuah konsep sentral dalam ajaran Islam yang diulas dalam puluhan teks suci dan tradisi kenabian, kini semakin relevan di tengah masyarakat Muslim kontemporer yang berupaya menyeimbangkan tuntutan duniawi dengan aspirasi spiritual dan pembangunan. Waktu, yang secara eksplisit disumpahi dalam Al-Quran Surah Al-Asr dan berulang kali ditekankan dalam Hadits sebagai nikmat yang seringkali disia-siakan, dipandang bukan sekadar deretan jam dan menit, melainkan aset tak tergantikan dan modal utama kehidupan manusia di dunia. Konsep ini menuntut setiap Muslim untuk mengelola setiap detiknya sebagai amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban, guna meraih keberkahan di dunia dan kesuksesan di akhirat.

Sejak masa awal Islam, para ulama dan cendekiawan telah menggarisbawahi urgensi memanfaatkan waktu secara bijaksana. Imam Syafi'i, salah satu cendekiawan Muslim terkemuka, menggambarkan waktu sebagai pedang: "Waktu laksana pedang, jika engkau tidak menggunakannya maka ia yang malah akan menebasmu." Pernyataan ini mencerminkan pemahaman mendalam bahwa waktu yang terbuang tidak akan pernah kembali, menjadikannya modal yang lebih berharga daripada harta benda. Nabi Muhammad SAW sendiri mengingatkan bahwa "Dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu di dalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang", sebuah peringatan keras terhadap kelalaian dalam mengelola karunia ilahi ini. Manajemen waktu dalam Islam didefinisikan sebagai proses mengatur dan mengalokasikan waktu secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan hidup yang selaras dengan syariat, mencakup ibadah, kegiatan duniawi, dan pengembangan pribadi.

Dalam konteks modern, implikasi dari filosofi waktu ini menjadi semakin nyata. Dr. Utik Bidayati S.E., M.M., Wakil Rektor Bidang Keuangan, Kehartabendaan, dan Administrasi Umum Universitas Ahmad Dahlan, menegaskan bahwa manajemen dalam Islam bukanlah hal asing, melainkan proses mengelola banyak hal, termasuk waktu, untuk mendapatkan manfaat semaksimal mungkin. Beliau mengutip Surah Al-Asr sebagai pengingat bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, menekankan bahwa waktu sangat terbatas dan penyesalan kerap muncul karena tidak mengambil manfaat darinya. Hal ini relevan dengan tantangan yang dihadapi oleh banyak negara mayoritas Muslim. Misalnya, meskipun Indonesia memiliki populasi Muslim terbesar di dunia, negara ini masih menempati peringkat ke-10 dalam industri halal global, dengan 12,6% produk makanan halalnya diimpor. Kesenjangan ini mengindikasikan bahwa potensi sumber daya, termasuk waktu dan produktivitas, belum dimanfaatkan secara optimal untuk mendorong pembangunan ekonomi dan daya saing.

Para ahli juga menyoroti bagaimana pemborosan waktu, seperti berlama-lama dalam percakapan yang tidak bermanfaat atau penggunaan media sosial yang berlebihan, bertentangan dengan ajaran Islam yang menganjurkan pengisian waktu dengan kegiatan produktif seperti membaca Al-Quran, mendengarkan ceramah agama, atau kegiatan sosial yang bermanfaat. Oleh karena itu, merevitalisasi pemahaman dan praktik manajemen waktu Islami dapat menjadi fondasi krusial bagi peningkatan kualitas individu dan kemajuan kolektif. Konsep bahwa waktu adalah pahala, rezeki, dan kesempatan untuk membekali diri dengan ketaatan akan menjadi dorongan spiritual yang kuat bagi umat Muslim untuk lebih bersemangat dalam memanfaatkannya. Implementasi ajaran ini memerlukan disiplin dalam menyusun aktivitas harian, dimulai dari shalat tepat waktu yang memberikan struktur pada hari, hingga menjauhi pemborosan. Dengan demikian, penghayatan terhadap pentingnya waktu dalam Islam bukan hanya sekadar retorika spiritual, melainkan sebuah kerangka kerja pragmatis yang memiliki dampak langsung terhadap produktivitas, pembangunan sosial, dan pencapaian kebahagiaan sejati.