
Ribuan siswa sekolah menengah pertama (SMP) di seluruh Indonesia kini tengah dihadapkan pada fase krusial persiapan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026, yang telah memasuki masa pendaftaran sejak 19 Januari hingga 28 Februari 2026. Dengan pelaksanaan TKA jenjang SMP dijadwalkan pada 6-16 April 2026, ketersediaan link simulasi soal TKA SMP mata pelajaran Matematika menjadi sorotan utama bagi peserta didik, guru, dan orang tua dalam mengukur dan meningkatkan kompetensi numerik. Berbagai platform, baik dari pemerintah maupun swasta, mulai menyediakan akses ke latihan soal ini sebagai upaya mendalam mempersiapkan siswa menghadapi asesmen yang berfokus pada pemahaman dan penalaran, bukan sekadar hafalan.
Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang SMP/MTs, yang diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2025 tentang Tes Kemampuan Akademik, merupakan kegiatan pengukuran capaian akademik murid pada mata pelajaran tertentu, yaitu Matematika dan Bahasa Indonesia. Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Toni Toharudin, menegaskan bahwa TKA tidak dimaksudkan sebagai penentu kelulusan, melainkan sebagai sarana untuk memperoleh potret kemampuan akademik murid secara adil dan objektif. Hasil TKA diharapkan dapat dimanfaatkan oleh satuan pendidikan dan pemerintah daerah untuk memperbaiki proses pembelajaran.
Untuk mata pelajaran Matematika, TKA berfungsi mengukur sejauh mana kemampuan siswa dalam memahami fakta, konsep, prinsip, dan prosedur matematika, serta kemampuan mereka dalam menerapkan pengetahuan matematika untuk menyelesaikan masalah. Muatan materi TKA Matematika merujuk pada elemen kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka, mencakup bilangan, aljabar, geometri dan pengukuran, serta data dan peluang. Soal-soal TKA dirancang bukan hanya untuk menguji hafalan, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dan kecepatan dalam mengolah informasi.
Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Kemendikbudristek menyediakan laman "Ayo Coba TKA" serta "Ruang Murid" pada platform Rumah Pendidikan sebagai sumber resmi bagi siswa untuk berlatih dan mengenal bentuk soal TKA. Selain itu, berbagai platform belajar daring seperti Ruangguru dan Brain Academy juga menawarkan contoh soal prediksi TKA SMP Matematika dan tryout untuk membantu siswa mempersiapkan diri. Simulasi ujian daring ini menjadi krusial untuk membiasakan siswa dengan format soal (seperti pilihan ganda sederhana, pilihan ganda kompleks dengan jawaban lebih dari satu, atau soal benar/salah) serta kondisi ujian berbasis komputer. Manfaatnya meliputi adaptasi terhadap perangkat digital, pemahaman bentuk soal, peningkatan rasa percaya diri, serta akurasi dalam menjawab.
Namun, tantangan dalam literasi numerasi di Indonesia masih signifikan. Data Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan bahwa hanya 18 persen siswa Indonesia yang mencapai level 2 pada matematika, yang berarti 82 persen siswa usia 15 tahun masih belum mencapai kecakapan dasar dalam matematika. Proporsi ini jauh lebih tinggi dari rata-rata negara OECD yang sebesar 69 persen, menandakan pengetahuan di bidang matematika Indonesia masih relatif sangat rendah. Angka ini menempatkan Indonesia di peringkat rendah secara global dalam literasi numerasi. Konteks ini menegaskan urgensi simulasi dan latihan soal TKA Matematika sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan kompetensi siswa.
Pelaksanaan ujian daring, termasuk simulasi TKA, tidak lepas dari potensi kendala teknis seperti koneksi internet yang tidak stabil atau perangkat yang bermasalah. Beberapa sekolah, seperti SMPN 25 Bandar Lampung, dilaporkan masih menunggu arahan teknis menyeluruh dari dinas pendidikan terkait pelaksanaan TKA. Kendati demikian, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika telah dilibatkan dalam pelatihan penyusunan bank soal TKA. Kesiapan infrastruktur dan pelatihan yang memadai bagi guru dan siswa menjadi kunci keberhasilan implementasi asesmen berbasis digital ini.
Dampak jangka panjang dari TKA, dan khususnya simulasi soal daring, adalah potensi peningkatan literasi numerasi siswa secara nasional. Dengan mengidentifikasi area kelemahan melalui latihan dan umpan balik instan, siswa dapat fokus pada perbaikan. Bagi pemerintah, data TKA akan menjadi cermin kondisi riil pembelajaran di masyarakat, memfasilitasi intervensi pendidikan yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan, sesuai dengan kebutuhan murid dan satuan pendidikan. Upaya sistematis melalui simulasi ini tidak hanya mempersiapkan siswa menghadapi ujian, tetapi juga secara fundamental membangun kemampuan esensial yang dibutuhkan untuk tantangan pendidikan ke jenjang selanjutnya dan kehidupan sehari-hari.