Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

UGM Bongkar Dampak Buruk Ultra Processed Food, Desak Larangan di Menu MBG

2026-01-09 | 23:47 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-09T16:47:45Z
Ruang Iklan

UGM Bongkar Dampak Buruk Ultra Processed Food, Desak Larangan di Menu MBG

Dosen Departemen Gizi Fakultas Kedokteran, Keperawatan, dan Kesehatan Masyarakat Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, S.Gz., Dietisien, MPH, mendesak penghentian penggunaan makanan ultra-proses (Ultra-Processed Food/UPF) dalam menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan setahun. Pernyataan yang dilontarkan pada Kamis (8/1/2026) dan Jumat (9/1/2026) ini menyoroti bahwa pemberian UPF kepada anak-anak sekolah berisiko menjadi "bom waktu" penyakit kronis dalam 10 hingga 15 tahun ke depan, serta bertentangan dengan kampanye Kementerian Kesehatan untuk mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL).

Program MBG, yang dikenal sebagai program makan siang sekolah, diluncurkan dengan tujuan mulia untuk meningkatkan status gizi anak-anak Indonesia dan menekan angka stunting, sebagai investasi kesehatan jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045. Namun, implementasinya menuai kritik seiring dengan temuan penggunaan UPF yang tinggi natrium, gula tambahan, dan lemak. Catatan kritis serupa sebelumnya juga telah disampaikan oleh kelompok masyarakat sipil dan akademisi pada Maret 2025, yang menyayangkan keputusan Badan Gizi Nasional (BGN) saat itu untuk memasukkan produk pangan ultra-proses dalam menu MBG selama Ramadan. Bahkan, BGN sendiri melalui Surat Edaran Nomor 8 Tahun 2025 per 19 Desember 2025, telah menegaskan bahwa MBG tidak boleh menyajikan makanan ultra-proses sebagai menu utama, meskipun beberapa Satuan Penyelenggara Pemenuhan Gizi (SPPG) masih ditemukan melakukannya.

Mirza Hapsari Titis Penggalih menjelaskan bahwa dampak buruk UPF tidak langsung terlihat, namun secara kumulatif dapat memicu berbagai penyakit kronis di kemudian hari. Konsumsi UPF berlebihan juga berkorelasi erat dengan peningkatan risiko gizi lebih dan obesitas pada anak sekolah. Sebuah penelitian menunjukkan, 48,3% anak mengonsumsi UPF empat kali atau lebih dalam seminggu, dan 21,7% di antaranya tergolong obesitas, dengan risiko obesitas 3,2 kali lebih tinggi bagi mereka yang mengonsumsi UPF secara sering. Selain itu, UPF dapat menyebabkan peradangan pada saluran pencernaan yang mengganggu penyerapan nutrisi penting untuk tumbuh kembang anak.

Aspek lain yang menjadi sorotan adalah pendekatan seragam dalam penyediaan menu MBG yang mengabaikan kekayaan pangan lokal dan konteks budaya daerah. Mirza menegaskan bahwa kebutuhan gizi anak di Papua tidak dapat disamakan dengan anak di Jawa atau Sumatra karena perbedaan bahan pangan pokok dan kultur konsumsi. Penyeragaman menu dengan UPF dinilai tidak sesuai dengan konteks lokal dan berpotensi mengurangi manfaat program.

Mirza juga menyoroti kasus keracunan massal yang kerap terjadi dalam pelaksanaan MBG, yang mengindikasikan lemahnya pengawasan dalam setiap proses penyiapan dan distribusi makanan. Anak sekolah, bersama ibu hamil, termasuk kelompok berisiko tinggi dalam penyelenggaraan makanan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan, sehingga penanganannya tidak dapat dilakukan secara sembarangan.

Untuk perbaikan program, Mirza merekomendasikan tiga langkah utama. Pertama, penegakan ketat keamanan pangan dengan memberikan efek jera bagi pihak yang bertanggung jawab atas kelalaian. Kedua, perlunya pendampingan ilmiah oleh perguruan tinggi dan kerja sama lintas sektor untuk memantau dampak MBG terhadap status kesehatan, indikator kebugaran, serta data antropometri anak. Ketiga, kebijakan MBG harus fleksibel dan terbuka terhadap kajian ilmiah, sehingga dapat segera direspons dan diperbaiki jika ditemukan bukti yang menunjukkan perlunya perubahan. Ia juga mengusulkan agar masing-masing sekolah diberikan tanggung jawab lebih besar dalam penyediaan makan siang, karena dinilai lebih mampu mengawasi dan menyesuaikan dengan bahan pangan lokal, sehingga meminimalkan risiko kesalahan distribusi dan keracunan. Keberhasilan program MBG sebagai investasi gizi jangka panjang baru dapat terlihat setelah satu siklus pendidikan, sekitar 10 hingga 15 tahun mendatang. Oleh karena itu, langkah-langkah korektif saat ini dianggap krusial untuk memastikan program ini benar-benar mencetak generasi sehat alih-alih mewariskan beban kesehatan di masa depan.