Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Gen Z dan Sulitnya Mendapat Kerja: Mengurai Peran Krusial Identifikasi Skill

2025-11-29 | 11:35 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-29T04:35:02Z
Ruang Iklan

Gen Z dan Sulitnya Mendapat Kerja: Mengurai Peran Krusial Identifikasi Skill

Fenomena Generasi Z (Gen Z) yang kesulitan menembus pasar kerja semakin menjadi sorotan, dengan salah satu penyebab utamanya adalah kesulitan dalam menentukan dan menyesuaikan keterampilan yang dimiliki dengan kebutuhan industri. Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) per Februari 2025, Gen Z di Indonesia yang berusia 15-24 tahun menyumbang angka pengangguran tertinggi mencapai 16,16 persen, jauh di atas tingkat pengangguran usia 25-29 tahun yang hanya 3,04 persen.

Salah satu akar masalah ini adalah ketidakpastian Gen Z dalam mengidentifikasi keterampilan diri mereka. Sebuah survei di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa 40 persen Gen Z mengaku kesulitan menentukan keterampilan yang mereka miliki dan bagaimana keterampilan tersebut cocok dengan posisi kerja yang dibutuhkan. Hal ini mengakibatkan banyak lamaran kerja yang diajukan minim tanggapan, sehingga berpotensi menurunkan optimisme para pencari kerja muda ini.

Kesenjangan keterampilan, terutama dalam soft skill, menjadi hambatan signifikan lainnya. Meskipun Gen Z dikenal sebagai generasi yang melek teknologi dan adaptif terhadap digitalisasi, banyak perusahaan menilai mereka masih kurang dalam keterampilan interpersonal. Laporan Forbes menyebutkan bahwa manajer merasakan kekurangan paling signifikan pada Gen Z adalah keterampilan interpersonal atau soft skill. Keterampilan yang sering dianggap kurang meliputi komunikasi, pemecahan masalah, kreativitas, kolaborasi, kemampuan beradaptasi, resolusi konflik, dan kepemimpinan. Padahal, di era kerja hibrida dan jarak jauh saat ini, kecerdasan emosional, adaptabilitas, dan kemampuan komunikasi yang efektif sangat penting.

Dunia kerja juga terus berubah dengan cepat, dipengaruhi oleh kemajuan kecerdasan buatan (AI) dan transformasi digital. Banyak pekerjaan kini menuntut keterampilan berbasis AI, yang seringkali belum dikuasai oleh Gen Z yang baru lulus. Transformasi ini mengubah struktur pekerjaan, mengurangi kebutuhan di sektor-sektor tradisional, dan menuntut adaptasi cepat terhadap teknologi baru. Perusahaan cenderung mencari talenta yang tidak hanya menguasai keterampilan teknis, tetapi juga memiliki soft skill yang kuat untuk beradaptasi, berkolaborasi, dan berinovasi.

Selain masalah keterampilan, beberapa faktor lain turut memperparah kesulitan Gen Z. Pasar kerja yang sangat kompetitif, terutama untuk posisi entry-level, di mana jumlah lulusan baru terus meningkat sementara lowongan tidak bertambah secara proporsional. Kurangnya pengalaman kerja yang relevan juga menjadi kendala, karena banyak pemberi kerja mengutamakan kandidat dengan pengalaman yang lebih matang. Selain itu, Gen Z seringkali memiliki ekspektasi tinggi terhadap gaji, fleksibilitas, dan keseimbangan kehidupan kerja, yang kadang tidak realistis untuk posisi entry-level. Mereka bahkan cenderung lebih memilih menganggur daripada tidak bahagia dengan pekerjaan yang tidak mereka sukai. Persepsi perusahaan juga menjadi tantangan, di mana beberapa perusahaan dilaporkan enggan mempekerjakan Gen Z karena anggapan kurangnya etika kerja atau persiapan.

Untuk mengatasi tantangan ini, Gen Z perlu proaktif dalam mengembangkan keterampilan yang relevan, terutama soft skill. Survei menunjukkan bahwa hampir 25 persen Gen Z berencana mempelajari keterampilan baru. Penting bagi mereka untuk tidak hanya fokus pada keterampilan teknis, tetapi juga mengasah empati, komunikasi efektif, etika kerja, dan fleksibilitas. Pendidikan formal juga perlu menyesuaikan kurikulumnya agar lebih relevan dengan kebutuhan pasar kerja, termasuk penguatan soft skill dan pengembangan karakter. Sementara itu, perusahaan dituntut untuk menata ulang jalur karier dan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan serta konektivitas di tengah era kepemimpinan mandiri dan AI, guna menarik dan mempertahankan talenta muda yang berbakat.