Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Mendikdasmen Usulkan PR Resensi Buku: Benarkah Formula Ampuh Bentuk Siswa Kritis?

2025-11-28 | 07:02 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-28T00:02:50Z
Ruang Iklan

Mendikdasmen Usulkan PR Resensi Buku: Benarkah Formula Ampuh Bentuk Siswa Kritis?

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, baru-baru ini menyuarakan usulan agar para guru memberikan pekerjaan rumah (PR) berupa resensi buku kepada siswa. Usulan ini bertujuan untuk memperkuat budaya literasi dan mendorong kemampuan berpikir kritis di kalangan pelajar. Abdul Mu'ti, yang menjabat sebagai Mendikdasmen sejak 21 Oktober 2024, menegaskan bahwa budaya literasi adalah fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia yang unggul.

Menurut Mendikdasmen, peningkatan kualitas pendidikan tidak dapat dipisahkan dari penguatan budaya literasi, dan bangsa Indonesia tidak akan maju tanpa budaya membaca dan menulis yang kuat. Ia berharap setiap sekolah akan membiasakan siswa membaca satu atau dua buku dan kemudian membuat resensinya. Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, karena menulis resensi menuntut mereka untuk memahami isi buku secara mendalam, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan, serta menyusun tanggapan berdasarkan sudut pandang yang logis.

Para pakar pendidikan menyambut baik usulan ini dan melihatnya sebagai langkah positif untuk melatih analisis siswa. Menulis resensi tidak hanya sekadar meringkas isi buku, tetapi juga mengharuskan siswa untuk mengevaluasi dan mengapresiasi sebuah karya secara argumentatif. Kemampuan berpikir kritis sendiri merupakan salah satu kompetensi utama dalam pendidikan modern, di mana siswa dituntut untuk tidak hanya membaca, tetapi juga memahami, menganalisis, dan mengevaluasi informasi dengan cermat. Penelitian menunjukkan bahwa siswa yang terbiasa membaca secara kritis cenderung mampu menyusun resensi yang lebih berbobot.

Namun, implementasi kebijakan ini membutuhkan ekosistem pendukung yang kuat. Pakar pendidikan Sri Lestari dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) menyebut bahwa keberhasilan kebijakan ini sangat bergantung pada ketersediaan perpustakaan yang memadai, guru yang literat, kurikulum yang terintegrasi, dan penguatan kemampuan dasar siswa. Selain itu, kemampuan literasi guru juga perlu dilatih melalui workshop penulisan resensi atau insentif publikasi, mengingat banyak guru menghadapi beban administrasi dan jam mengajar yang padat.

Untuk merealisasikan program PR resensi buku ini, pemerintah berencana untuk membuat Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan kebijakan daerah lebih fleksibel. Hal ini diharapkan dapat mendukung sekolah dalam menyediakan fasilitas dan program yang menunjang budaya literasi, sehingga tujuan utama untuk mencetak generasi yang kritis dan literat dapat tercapai.