Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Pakar UB Ungkap 3 Strategi Jitu Redam Bullying Terbukti Berhasil

2025-11-28 | 14:04 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-28T07:04:52Z
Ruang Iklan

Pakar UB Ungkap 3 Strategi Jitu Redam Bullying Terbukti Berhasil

Perilaku perundungan atau bullying yang terus terjadi di berbagai institusi pendidikan menjadi perhatian serius masyarakat. Psikolog Universitas Brawijaya (UB), Ulifa Rahma, SPsi, MPsi, menyoroti bahwa maraknya kasus bullying mengindikasikan bahwa lingkungan sekolah dan kampus belum sepenuhnya menjadi ruang aman bagi para pelajar. Menurut Ulifa, fenomena perundungan merupakan kombinasi dari faktor individu, keluarga, sekolah, layanan kesehatan mental, dan kebijakan publik. Jika tidak ditangani secara tepat, perundungan dapat menyebabkan trauma berat, bahkan dalam kasus ekstrem dapat memicu bunuh diri atau tindakan balas dendam. Masa remaja merupakan periode rentan di mana terjadi pembentukan identitas, sensitivitas tinggi terhadap tekanan sosial, dan regulasi emosi yang belum matang, sehingga perundungan dapat meninggalkan dampak yang lebih dalam.

Penanganan kasus bullying, menurut Ulifa, harus dilakukan pada dua level sekaligus: melalui pendekatan trauma-informed dan Psychological First Aid (PFA), serta intervensi sistemik untuk mencegah kejadian berulang. Ini termasuk penerapan kebijakan sekolah yang kuat, pendidikan karakter, dan program antibullying yang berbasis bukti. Ulifa menegaskan bahwa penanganan harus menyeluruh dan berbasis bukti; korban perlu mendapatkan dukungan emosional, perlindungan, dan layanan psikologis untuk mencegah trauma berkepanjangan. Sementara itu, pelaku harus diberikan konsekuensi yang jelas, disertai pendampingan untuk membangun empati dan kemampuan mengelola emosi.

Untuk menekan angka bullying, Ulifa Rahma merekomendasikan tiga program yang terbukti efektif bila diterapkan secara konsisten. Ketiga program tersebut adalah Olweus Bullying Prevention Program (OBPP), KiVa Anti-Bullying Program, dan Social Emotional Learning (SEL).

Olweus Bullying Prevention Program (OBPP) menekankan pada aturan sekolah yang tegas serta pengawasan lingkungan yang ketat. Program ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman dan positif melalui intervensi pada tingkat sekolah, kelas, dan individu.

KiVa Anti-Bullying Program berfokus pada pendidikan empati serta pengembangan sistem pelaporan yang aman bagi korban. Program ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran siswa tentang dampak bullying dan melatih mereka untuk tidak menjadi pengamat pasif, melainkan berani bertindak untuk membantu korban.

Sementara itu, Social Emotional Learning (SEL) membantu anak dalam mengenali emosi, mengelola konflik, dan membangun hubungan sosial yang sehat. SEL mengajarkan keterampilan sosial dan emosional yang penting bagi siswa untuk berinteraksi secara positif, mengurangi perilaku agresif, dan meningkatkan kesejahteraan mereka.

Selain implementasi program-program ini, sekolah juga dianjurkan untuk menerapkan kebijakan antibullying yang jelas, melakukan pengawasan di area-area rawan, melatih guru dalam penanganan bullying, serta menyediakan jalur pelaporan yang aman dan mudah diakses bagi siswa. Di tingkat masyarakat, penting untuk membangun budaya tanpa kekerasan dan meningkatkan literasi kesehatan mental agar anak merasa aman untuk berbicara, melapor, dan meminta pertolongan ketika mengalami perundungan.