Fenomena dakwah digital yang dipelopori oleh Ustaz Hanan Attaki, dengan "kata-kata mutiara" yang berpusat pada tema-tema seperti Allah, cinta, dan jodoh, telah mengukuhkan posisinya sebagai salah satu figur paling berpengaruh di kalangan generasi muda Muslim Indonesia. Lahir di Aceh pada 31 Desember 1981, Hanan Attaki menempuh pendidikan di Universitas Al Azhar, Kairo, jurusan Tafsir Al-Qur'an, sebelum kembali ke Indonesia dan mendirikan Shift Pemuda Hijrah pada 2015, sebuah gerakan yang menyasar anak muda dari berbagai komunitas. Pendekatan dakwahnya yang santai, menggunakan bahasa kekinian, serta membahas isu-isu relevan seperti kegelisahan hidup, motivasi hijrah, cinta, dan patah hati, terbukti efektif menjangkau audiens milenial dan Gen Z yang akrab dengan media sosial.
Transformasi dakwah dari mimbar tradisional ke ranah digital melalui platform seperti YouTube, Instagram, dan TikTok telah menjadi kunci keberhasilan Ustaz Hanan Attaki. Sebuah studi kuantitatif dalam Naafi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa menunjukkan bahwa gaya penyampaian dakwahnya di TikTok memberikan pengaruh signifikan sebesar 86% terhadap motivasi diri remaja dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Konten-kontennya, seringkali dikemas dalam video singkat berdurasi satu menit yang dikenal sebagai "one minute booster", menawarkan nasihat dan kutipan inspiratif yang mudah dicerna dan dibagikan. Popularitas ini juga didukung oleh kolaborasinya dengan berbagai artis dan influencer Indonesia, yang memperluas jangkauan pesannya. Akun Instagram pribadinya, misalnya, memiliki jutaan pengikut, yang menunjukkan skala audiens yang berhasil dijangkau melalui strategi dakwah adaptif ini.
Kendati demikian, perjalanan dakwah Ustaz Hanan Attaki tidak lepas dari kontroversi. Beberapa pengajiannya pernah dibubarkan dan ditolak di sejumlah daerah di Jawa Timur, termasuk Gresik, Jember, Situbondo, Bondowoso, Sidoarjo, Sumenep, dan Pamekasan, dengan tudingan terkait dugaan afiliasi dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan kekeliruan dalam penggunaan diksi terhadap tokoh-tokoh Islam. Ustaz Hanan Attaki sendiri telah membantah tudingan menghina istri Nabi Muhammad SAW, Aisyah, dengan menyatakan bahwa diksi "cewek gaul" dan penyebutan berat badan Aisyah adalah upaya menyesuaikan bahasa dengan konteks anak muda tanpa niat menghina. Pada Mei 2023, ia secara resmi dibaiat menjadi warga Nahdlatul Ulama (NU), berjanji untuk menyiarkan ajaran Ahlussunah wal Jamaah dan mengajak jutaan pengikutnya di media sosial untuk mendengarkan ajaran NU, sebuah langkah yang dianggap meredakan ketegangan dan mengintegrasikannya ke dalam arus utama organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Gaya dakwah Hanan Attaki yang berfokus pada solusi atas "kegalauan" anak muda, seperti cinta, jodoh, dan tujuan hidup, menciptakan koneksi emosional yang kuat dengan audiensnya. Kutipan-kutipan inspiratifnya sering membahas pentingnya kesabaran, rasa syukur, mendekatkan diri kepada Allah, dan perbaikan diri secara terus-menerus. Para ahli sosiologi agama mencatat bahwa transformasi dakwah di era digital membawa tantangan dan peluang, di mana penyebaran informasi yang tidak terverifikasi dan komersialisasi dakwah menjadi isu yang perlu diwaspadai. Namun, mereka juga mengakui bahwa pendekatan yang relevan dan adaptif dengan karakteristik audiens digital dapat secara efektif memperkuat nilai-nilai keislaman di kalangan generasi muda. Dengan memanfaatkan teknologi digital secara bijak, dakwah dapat menjadi alat yang efektif untuk menyebarkan ajaran Islam secara luas dan inklusif, meningkatkan literasi Islam di tengah perkembangan zaman. Strategi ini diharapkan dapat terus memberikan wawasan bagi para pendakwah untuk mengembangkan metode yang lebih menarik dan relevan, meningkatkan pemahaman dan praktik ajaran Islam di kalangan mereka.