
Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) di bawah naungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara resmi membuka penerimaan mahasiswa baru jalur prestasi Gelombang 1 untuk tahun akademik 2026/2027. Pendaftaran yang telah dibuka sejak 22 Desember 2025 ini akan berlangsung hingga 29 Maret 2026, ditujukan untuk menjaring talenta unggul yang akan berkontribusi pada pengembangan teknologi nuklir nasional dan mendukung agenda energi bersih Indonesia.
Jalur prestasi ini menawarkan kuota sebanyak 50% dari total daya tampung mahasiswa baru Poltek Nuklir untuk tahun akademik 2026/2027, mencerminkan komitmen lembaga dalam menarik siswa berprestasi tinggi. Calon mahasiswa yang berminat harus merupakan siswa kelas XII atau kelas terakhir SMA/SMK/MA sederajat dari program eksakta pada tahun ajaran 2025/2026. Persyaratan pendaftaran meliputi surat rekomendasi dari kepala sekolah/madrasah, salinan rapor asli atau fotokopi rapor yang telah dilegalisasi dari semester 1 hingga 5 (untuk SMA/SMK/MA 3 tahun) atau semester 1 hingga 7 (untuk SMK 4 tahun). Selain itu, calon pendaftar wajib melampirkan sertifikat bukti prestasi tingkat kabupaten/kota, nasional, atau internasional, baik di bidang akademik (lomba sains/teknik) maupun non-akademik (olahraga, seni, atau sertifikat Hafidz Quran), serta sertifikat kepengurusan organisasi atau kompetensi jika ada. Dokumen motivasi singkat maksimal 200 kata juga menjadi bagian penting dari proses pendaftaran. Direktur Poltek Nuklir BRIN, Zainal Arief, menyatakan bahwa melalui jalur prestasi, siswa tidak lagi diwajibkan mengikuti ujian tertulis Tes Potensi Akademik (TPA) dan akan langsung menjalani tahap wawancara, sebuah mekanisme yang dirancang untuk mengapresiasi dan memfasilitasi bakat-bakat unggul.
Transformasi institusional Poltek Nuklir BRIN dari Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) pada Oktober 2021 menandai langkah strategis untuk memperkuat pendidikan vokasi di bidang kenukliran. Lembaga ini, yang berawal sebagai pendidikan vokasi pada tahun 1985 dan menjadi STTN pada 2001, kini bertekad menjadi pusat pendidikan vokasi teknologi nuklir terkemuka di Indonesia dan regional. Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, menegaskan pentingnya transformasi ini untuk memastikan lulusan Poltek Nuklir memenuhi standar global, khususnya yang ditetapkan oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). BRIN juga menargetkan peningkatan kapasitas mahasiswa menjadi 1.000 orang dari 400 sebelumnya, peningkatan akreditasi menjadi 'A', serta penambahan program studi dan penyelenggaraan program magister dan doktor terapan. Dukungan BRIN diwujudkan melalui kebijakan pembebasan biaya pendaftaran dan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi seluruh mahasiswa Poltek Nuklir, menekankan komitmen terhadap pemerataan akses pendidikan berkualitas.
Penerimaan mahasiswa baru ini sangat relevan dengan visi jangka panjang Indonesia dalam diversifikasi bauran energi nasional. Energi nuklir kini tidak lagi ditempatkan sebagai opsi terakhir, melainkan menjadi penyeimbang penting bersama energi baru dan terbarukan lainnya untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Badan Riset dan Inovasi Nasional telah menyerahkan berbagai naskah kebijakan kepada Dewan Energi Nasional (DEN) dan Kementerian ESDM, termasuk dukungan akademik untuk pembentukan Nuclear Energy Program Implementation Organization (NEPIO) dan rasionalisasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dalam peta jalan NZE. Kepala BRIN, Arif Satria, menyoroti bahwa tantangan utama dalam implementasi energi nuklir di Indonesia lebih bersifat sosial daripada teknologis, sehingga edukasi publik mengenai manfaat dan keamanan nuklir menjadi krusial.
Poltek Nuklir BRIN menawarkan tiga program studi Diploma IV, yaitu Teknokimia Nuklir, Elektronika Instrumentasi, dan Elektro Mekanika, yang dirancang untuk menghasilkan tenaga ahli siap pakai. Lulusan program Teknokimia Nuklir dipersiapkan sebagai perekayasa proses, ahli keselamatan dan proteksi radiasi, serta wirausahawan di bidang kimia nuklir. Program Elektronika Instrumentasi melahirkan ahli dalam rekayasa sistem instrumentasi dan kendali, pengembang teknologi nuklir, dan ahli keselamatan radiasi. Sementara itu, program Elektro Mekanika berfokus pada pembangunan, instalasi, aplikasi, operasi, dan perawatan sistem elektromekanik di industri nuklir.
Untuk meningkatkan daya saing lulusan, setiap mahasiswa Poltek Nuklir dibekali dengan fasilitas dua sertifikasi kompetensi, dengan tambahan satu sertifikasi bagi mahasiswa berprestasi. Sertifikasi ini mencakup Petugas Proteksi Radiasi (PPR) Industri 1, PPR Medis 1, Ultrasonic Testing (UT) level 2, Operator Radiografi (OR), K3 Umum, dan Analis Pengolah Limbah B3. Data menunjukkan bahwa lebih dari separuh lulusan Poltek Nuklir terserap di sektor industri, menunjukkan prospek kerja yang cerah dan tidak adanya ikatan dinas, memberikan kebebasan bagi alumni untuk memilih jalur karier sesuai minat dan kompetensi. Fasilitas laboratorium yang lengkap, termasuk laboratorium kimia dasar, kimia radiasi, proteksi radiasi, instrumentasi kendali, dan non-destructive test, mendukung pengalaman belajar praktis mahasiswa. Dengan demikian, penerimaan mahasiswa jalur prestasi ini tidak hanya membuka peluang pendidikan tinggi, tetapi juga memperkuat fondasi sumber daya manusia yang esensial bagi masa depan energi dan inovasi nuklir Indonesia.