Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Terungkap! Psikolog Bedah Fenomena Burnout Milenial dan Gen Z

2025-12-30 | 04:47 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-29T21:47:23Z
Ruang Iklan

Terungkap! Psikolog Bedah Fenomena Burnout Milenial dan Gen Z

Fenomena kelelahan kerja kronis, atau burnout, secara signifikan menghantui generasi muda, dengan lebih dari 52% karyawan secara global melaporkan mengalaminya dan Generasi Z tercatat sebagai kelompok paling rentan dengan 91% di antaranya kerap menghadapi tantangan kesehatan mental dan 35% mengalami depresi berdasarkan laporan SHRM 2025 Insights: Workplace Mental Health. Kondisi ini, yang Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akui sebagai sindrom akibat stres kerja kronis yang tidak dikelola efektif sejak 2019, menimbulkan perdebatan di kalangan psikolog mengenai apakah generasi Milenial dan Gen Z benar-benar lebih rentan atau hanya mengalami manifestasi tekanan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.

Burnout, yang didefinisikan oleh peneliti Christina Maslach sejak 1980-an, mencakup kelelahan emosional, depersonalisasi atau sikap sinis terhadap pekerjaan, serta penurunan rasa pencapaian pribadi. Meskipun demikian, Dr. Sumaryono, pakar Psikologi Industri dan Organisasi dari Fakultas Psikologi UGM, menyatakan bahwa bukan berarti generasi Milenial dan Gen Z lebih rentan secara inheren, melainkan perbedaan utama terletak pada pengalaman dan daya lenting (resiliensi) mereka dalam menghadapi tekanan. Menurutnya, anak muda masih dalam proses belajar mengelola tekanan dan membangun strategi koping, sehingga keluhan seperti pusing atau lelah kerap salah dilabeli sebagai burnout, padahal secara psikologis masih tergolong stres biasa. Burnout, kata Sumaryono, adalah kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental yang sangat intens serta muncul rasa tidak berdaya yang mendalam.

Salah satu pemicu utama yang diidentifikasi para ahli adalah paparan intensif terhadap media sosial. Generasi Milenial dan Gen Z, yang tumbuh di era digital, merupakan pengguna utama platform seperti Instagram, TikTok, dan X. Data dari IDN Research Institute menunjukkan bahwa media sosial berdampak negatif terhadap kepercayaan diri mereka, dengan Gen Z lebih rentan mengalami penurunan kepercayaan diri. Survei McKinsey yang melibatkan 41.960 responden dari 26 negara juga menemukan bahwa Gen Z menghabiskan waktu paling lama di media sosial, diikuti Milenial, yang durasinya secara signifikan berpengaruh terhadap kesehatan mental mereka. Sekitar 60% Gen Z merasa media sosial berdampak negatif pada kesehatan mental mereka, dengan algoritma yang menampilkan konten perfeksionis memperburuk self-esteem dan memicu Fear of Missing Out (FOMO) serta perbandingan sosial yang tidak sehat.

Selain tekanan digital, tuntutan ekonomi dan karier juga menjadi faktor pemicu stres signifikan. Banyak generasi muda merasa tekanan besar untuk segera mandiri secara finansial setelah lulus, mencari pekerjaan dengan gaji baik meskipun mungkin tidak sesuai harapan atau membutuhkan kerja keras tinggi. Penelitian Deloitte Global Millennial and Gen Z Survey (2023) menunjukkan lebih dari 46% Gen Z merasa stres sepanjang waktu, dengan penyebab utama pekerjaan, keuangan, dan masa depan. Ketidakpastian prospek kerja/karier menempati posisi teratas sebagai penyebab stres bagi sekitar 50% Gen Z dan 41% Milenial. Fenomena "sandwich generation" di Indonesia, di mana dewasa muda menanggung kebutuhan anak dan orang tua, turut menambah beban ekonomi dan emosional.

Lingkungan kerja dan tuntutan akademik yang tinggi juga memperparah kondisi. Budaya "hustle culture" yang menuntut produktivitas dan jam kerja panjang tanpa henti, serta ekspektasi kinerja yang terus meningkat, membuat individu kehilangan waktu istirahat dan merasa kurang mendapat kendali atas tugasnya. Batas antara rumah dan kantor yang kabur akibat sistem kerja daring, khususnya saat pandemi, mengubah rumah dari ruang pemulihan menjadi perpanjangan kantor. Dalam konteks akademik, beban tugas, ujian, dan aktivitas ekstrakurikuler yang kompetitif sering kali memicu kelelahan fisik dan mental pada mahasiswa.

Dampak dari burnout tidak hanya terbatas pada individu, melainkan meluas ke berbagai aspek kehidupan. Konsekuensi burnout meliputi gangguan tidur, kecemasan, depresi, bahkan penyakit fisik seperti hipertensi. Penurunan motivasi, kesulitan fokus, dan penurunan performa kerja atau akademik menjadi hal yang umum, berdampak pada produktivitas. Secara sosial, individu yang mengalami burnout cenderung menarik diri dari pergaulan, merasa terlalu lelah untuk berinteraksi, yang berujung pada kesepian dan isolasi.

Untuk mengatasi krisis ini, psikolog menyarankan pendekatan multi-aspek. Psikolog Sumaryono dari UGM merekomendasikan strategi CHANGE: memandang hidup sebagai tantangan (Challenge), menjaga harapan (Hope), beradaptasi dengan mengelola prioritas (Adaptation), membangun jejaring dukungan (Network), serta bertumbuh menuju kinerja optimal (Growth and Excellence). Selain itu, meningkatkan kesadaran dan edukasi tentang kesehatan mental melalui kampanye nasional dan integrasi pendidikan mental di sekolah dan kampus dianggap krusial. Perusahaan juga diharapkan lebih peduli terhadap kesehatan mental karyawan melalui program well-being atau fleksibilitas kerja, serta mengembangkan Psychological Check-Up (PCU) untuk mengenali tingkat stres dan kondisi psikologis secara ilmiah, yang kemudian dapat ditindaklanjuti dengan konseling profesional atau pelatihan ketahanan mental. Kesadaran akan dampak negatif media sosial dan pendidikan tentang penggunaan bijak juga menjadi langkah penting untuk membantu generasi muda memanfaatkan platform ini secara positif dan meminimalkan risiko terhadap kesehatan mental mereka.

Secara historis, definisi burnout telah berkembang sejak diidentifikasi oleh psikolog Herbert Freudenberger pada tahun 1970-an, namun konteks digital dan sosial ekonomi saat ini memberikan dimensi baru pada tantangannya, terutama bagi generasi yang tumbuh dengan ekspektasi tinggi dan informasi tanpa batas. Mengatasi burnout di kalangan generasi muda memerlukan perubahan ekosistem yang lebih manusiawi, di mana ambisi tidak mengorbankan kesehatan mental, sekaligus pembekalan individu dengan daya lenting dan mekanisme koping yang efektif.