Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Kemenag: 95,1% Lulusan PTKIN Moncer di Dunia Kerja

2025-12-29 | 01:35 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-28T18:35:43Z
Ruang Iklan

Kemenag: 95,1% Lulusan PTKIN Moncer di Dunia Kerja

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) Amien Suyitno baru-baru ini menyatakan bahwa tingkat serapan kerja alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) mencapai 95,1 persen, melampaui capaian perguruan tinggi umum. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sesi Diskusi Panel Rakernas Kemenag 2025 di Gading Serpong, Tangerang Selatan, pada pertengahan Desember 2025. Angka ini, berdasarkan riset Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), lebih tinggi dibandingkan tingkat serapan kerja alumni perguruan tinggi umum yang tercatat 94,5 persen.

Pencapaian 95,1 persen serapan kerja alumni PTKIN mengindikasikan efektivitas institusi pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama dalam membekali lulusannya dengan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja. Amien Suyitno menambahkan, kualitas pendidikan Islam terus menunjukkan tren positif, ditandai dengan 734 program studi di lingkungan PTKIN yang telah berstatus unggul, di mana 19 di antaranya bahkan terakreditasi internasional. Peningkatan jumlah jurnal ilmiah bereputasi internasional yang terindeks Scopus juga menjadi indikator standar mutu global yang kini dimiliki PTKIN, menegaskan bahwa kualitas tersebut bukan lagi monopoli kampus-kampus umum.

PTKIN, yang meliputi Universitas Islam Negeri (UIN), Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), memiliki kekhasan dalam mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum secara seimbang. Pendekatan kurikulum ini membedakan PTKIN dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang cenderung memiliki kurikulum umum yang lebih beragam. Integrasi keilmuan ini, menurut Menteri Agama Nasaruddin Umar, menjadi kekuatan utama PTKIN dalam menjawab tantangan zaman, tidak hanya mencetak sarjana agama, tetapi juga melahirkan intelektual yang memahami realitas sosial, sains, dan kemanusiaan.

Tingginya serapan kerja alumni PTKIN ini juga tidak terlepas dari strategi penguatan mutu pendidikan yang dilakukan Kemenag, termasuk melalui klasterisasi madrasah seperti Madrasah Aliyah Insan Cendekia (MA IC) yang diarahkan pada penguatan akademik dan internasionalisasi. Rektor IAIN Langsa, Prof. Dr. H. Ismail Fahmi Nasution, M.A., dalam kesempatan berbeda, menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menyuarakan kebenaran dan menjadi alat kebaikan, yang secara implisit mendukung relevansi lulusan dalam berbagai sektor.

Survei pelacakan alumni atau tracer study memainkan peran krusial dalam keberhasilan ini. Tracer study adalah metode yang digunakan perguruan tinggi untuk memperoleh umpan balik dari alumni guna mengevaluasi kualitas dan sistem pendidikan, serta memetakan kebutuhan dunia usaha dan industri agar kesenjangan antara kompetensi lulusan dan tuntutan kerja dapat diperkecil. Beberapa PTKIN bahkan telah mengimplementasikan sistem smart tracer study berbasis one gate system untuk memfasilitasi hubungan antara alumni dengan institusi dan melacak perkembangan karier mereka. Hasil tracer study ini tidak hanya bermanfaat untuk perbaikan kurikulum, tetapi juga menjadi penunjang penting dalam akreditasi program studi.

Menteri Agama Nasaruddin Umar secara spesifik telah memperingatkan perguruan tinggi agar tidak mencetak lulusan secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kondisi di lapangan kerja. Hal ini menekankan bahwa capaian serapan kerja yang tinggi bukan hanya angka, melainkan refleksi dari upaya berkelanjutan PTKIN dalam menyesuaikan diri dengan dinamika pasar kerja. Kemenag optimistis pendidikan Islam akan semakin berperan dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang unggul dan berdaya saing. Langkah-langkah inovatif, termasuk dalam merespons kebutuhan sumber daya manusia ke depan, dinilai penting agar kualitas pendidikan tetap terjaga. Seluruh upaya pembenahan pendidikan tinggi memerlukan perencanaan, analisis, dan kebijakan yang berkelanjutan agar perguruan tinggi mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya berkualitas akademis tetapi juga relevan dengan kebutuhan bangsa.