
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) telah memobilisasi puluhan perguruan tinggi dari seluruh Indonesia untuk menyalurkan bantuan dan mendukung upaya pemulihan pasca-bencana banjir bandang serta tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang melanda pada penghujung November 2025. Tragedi hidrometeorologi ini telah mengakibatkan setidaknya 1.112 orang meninggal, 176 orang hilang, dan lebih dari 7.000 orang terluka, menjadikannya salah satu bencana alam paling mematikan di Indonesia sejak 2018.
Respons Kemdiktisaintek, di bawah arahan kebijakan "Diktisaintek Berdampak", mengonsolidasikan 28 Perguruan Tinggi Posko dan 11 Perguruan Tinggi Pendukung. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menekankan bahwa perguruan tinggi bukan sekadar pusat ilmu pengetahuan, melainkan juga kekuatan kemanusiaan yang harus mengerahkan akademisi, peneliti, dan mahasiswa di lapangan. Sinergi ini bertujuan memastikan seluruh sumber daya perguruan tinggi bergerak cepat, terkoordinasi, dan tepat sasaran, berkoordinasi erat dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Sosial.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, menjelaskan bahwa program tanggap darurat bencana ini difokuskan pada delapan pilar utama, meliputi distribusi logistik, layanan kesehatan dan gizi, pendampingan psikososial, rehabilitasi sanitasi dan penyediaan air bersih, pendidikan darurat, pemulihan ekonomi, dukungan administrasi publik, serta mitigasi dan edukasi kebencanaan. Kemdiktisaintek juga menyediakan dana khusus hingga Rp500 juta per proposal, dengan setiap perguruan tinggi dapat mengajukan hingga lima proposal, untuk mengakomodasi kebutuhan lapangan. Bantuan juga mencakup penyediaan teknologi filtrasi air, desalinasi, dan sanitasi portabel.
Dampak bencana ini sangat masif, merusak 158.096 rumah, 1.900 fasilitas umum, serta 875 fasilitas pendidikan. Lebih dari 3,3 juta jiwa terdampak langsung, dan sekitar 1 juta orang terpaksa mengungsi. Kerugian ekonomi ditaksir mencapai Rp86,9 triliun atau setara 5,23 miliar dolar AS. Hingga 6 Desember 2025, Kemdiktisaintek mencatat 60 perguruan tinggi terdampak di seluruh Sumatra, dengan 6.437 sivitas akademika mengalami dampak langsung, menyebabkan terhentinya kegiatan belajar mengajar akibat akses terputus, kerusakan fasilitas, dan pengungsian.
Sejumlah perguruan tinggi telah menunjukkan peran vitalnya di garis depan. Universitas Syiah Kuala (USK) di Banda Aceh membuka dapur umum dan menggalang donasi, sementara Universitas Malikussaleh (Unimal) di Aceh Utara mengubah auditoriumnya menjadi tempat pengungsian. Tim relawan dari Universitas Teuku Umar (UTU) menembus daerah paling parah terdampak banjir di Beutong Ateuh Banggala untuk mendirikan dapur umum dan menyalurkan bantuan. Universitas Samudra (Unsam) di Langsa menampung 315 pengungsi dan menyediakan logistik serta dapur umum.
Di Sumatera Utara, Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UM Tapsel) memberikan pendampingan psikososial. Universitas Sumatera Utara (USU) membuka posko "USU Peduli" yang menyalurkan logistik, tim medis, dan bantuan keuangan ke berbagai wilayah terdampak. Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Medan Area turut membantu evakuasi longsor di Sibolga. Sementara itu, Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) bergerak langsung ke Langkat untuk layanan kesehatan.
Di Sumatera Barat, Universitas Negeri Padang (UNP) menjadi mitra kolaborasi utama, memfasilitasi penerimaan tim perguruan tinggi lain, serta menyediakan layanan trauma healing dan pendampingan psikososial. UNP juga dikenal sebagai satu-satunya universitas yang menerapkan Zona Aman Tsunami (Blue Line Tsunami Safe Zone) di Indonesia, yang diharapkan menjadi rujukan bagi daerah lain. Institut Pertanian Bogor (IPB) mengerahkan tim relawan tanggap bencana ke Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, dengan fokus penyediaan pangan darurat, termasuk 18.000 bungkus nasi steril siap makan dan 13.500 paket pangan khusus balita, berkolaborasi dengan USK, USU, dan Universitas Andalas (Unand).
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menyatakan bahwa kerja sama yang solid antara perguruan tinggi dan pemerintah merupakan faktor penting untuk mempercepat penanganan korban bencana. Kemdiktisaintek menargetkan tahap tanggap darurat bencana ini tuntas pada 31 Desember 2025, dengan tahap pemulihan akan dilanjutkan pada tahun 2026. Perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam respons darurat, tetapi juga krusial dalam membangun kesiapsiagaan jangka panjang dan mitigasi bencana melalui riset dan edukasi, mengingat tingginya kerentanan ekologis Sumatra akibat degradasi hutan.