Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Mengapa Skor TKA Bahasa Inggris dan Matematika Anjlok? Ini Analisis Lengkap Penyebabnya

2025-12-22 | 19:37 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-22T12:37:01Z
Ruang Iklan

Mengapa Skor TKA Bahasa Inggris dan Matematika Anjlok? Ini Analisis Lengkap Penyebabnya

Rata-rata nilai Tes Kompetensi Akademik (TKA) jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) pada mata pelajaran Matematika tahun 2025 menunjukkan penurunan signifikan, bahkan disebut "jeblok" oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti. Penurunan ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kualitas pendidikan dasar dan menengah, serta kesiapan siswa menghadapi jenjang pendidikan tinggi. Meskipun hasil Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) 2024 sempat menunjukkan rerata nilai siswa Kurikulum Merdeka lebih tinggi dibanding Kurikulum 2013, tren penurunan kualitas pada sesi-sesi ujian akhir di 2024 dan 2025, termasuk untuk Literasi Bahasa Inggris dan Penalaran Matematika, mengindikasikan masalah sistemik yang lebih dalam.

Data dari Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 telah lama menjadi cerminan bahwa kompetensi numerasi siswa Indonesia berada pada titik rendah. Skor matematika Indonesia hanya mencapai 366, menurun dari 379 pada tahun 2018, menempatkan Indonesia pada peringkat ke-70 dari 81 negara yang dievaluasi. Hanya 18% siswa yang mencapai level kecakapan minimal matematika, jauh di bawah rata-rata skor negara-negara OECD sebesar 472 poin. Angka ini mengindikasikan bahwa masalah penurunan nilai TKA Matematika pada tahun 2025 bukan sekadar anomali, melainkan bagian dari pola konsisten rendahnya kemampuan numerasi di tingkat nasional.

Beberapa faktor kunci diidentifikasi sebagai penyebab jebloknya nilai TKA, terutama Matematika, dan penurunan kualitas performa pada komponen literasi Bahasa Inggris dalam UTBK SNBT. Pertama, Mendikdasmen Abdul Mu'ti menyoroti mutu buku ajar yang lemah dan strategi pembelajaran guru yang belum memadai. Fokus pengajaran yang cenderung pada penghafalan rumus, alih-alih pemahaman konsep, menyebabkan siswa tidak terbiasa berpikir kritis dan minat belajar mereka rendah. Pembelajaran satu arah dan penyelesaian soal secara otomatis tanpa eksplorasi atau diskusi berkontribusi pada ketidaksiapan siswa menghadapi soal TKA yang menekankan pemecahan masalah dan penalaran.

Kedua, Sekretaris Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) Bekti Cahyo Hidayanto mengungkapkan, data pelaksanaan UTBK SNBT 2024 dan 2025 menunjukkan bahwa nilai peserta cenderung semakin menurun pada sesi-sesi ujian terakhir. Penurunan ini diduga kuat disebabkan oleh kebiasaan peserta yang terlalu bergantung pada soal-soal sesi sebelumnya yang beredar di media sosial. Bekti menegaskan bahwa soal-soal disusun berbeda untuk setiap sesi, meskipun memiliki kemiripan konsep. Ketergantungan pada hafalan ini justru menggerus daya juang dan kemampuan analisis siswa. Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Toni Toharudin juga menambahkan bahwa rendahnya nilai TKA 2025 disebabkan siswa tidak terlatih secara mental.

Selain itu, dampak jangka panjang dari "learning loss" akibat pandemi COVID-19 pada periode 2020-2022 tidak bisa diabaikan sebagai faktor fundamental. Pembelajaran jarak jauh yang berlangsung hampir dua tahun dikhawatirkan menyebabkan berkurangnya pengetahuan dan keterampilan akademis siswa. Meskipun evaluasi pada 2023 menunjukkan efektivitas pembelajaran belum kembali seperti pra-pandemi, namun dampaknya diperkirakan masih terasa, berisiko terhadap menurunnya kompetensi belajar siswa dan jatuhnya nilai akademis.

Penurunan rerata nilai TKA, khususnya pada Matematika dan komponen literasi lainnya, memiliki implikasi serius terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Kemampuan numerasi dan literasi merupakan fondasi penting bagi kesuksesan di perguruan tinggi dan dunia kerja. Kualitas pendidikan yang stagnan atau bahkan menurun dapat menghambat daya saing bangsa di kancah global. Pemerintah melalui Kemendikbudristek perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi capaian ini, mulai dari bahan ajar, metodologi pengajaran, hingga kesiapan siswa dan infrastruktur pendukung, untuk memastikan generasi muda memiliki bekal kompetensi yang memadai.