Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Rahasia Planet Lenyap Ditelan Bintang Raksasa Terkuak Tuntas oleh Astronom

2025-12-25 | 03:26 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-24T20:26:21Z
Ruang Iklan

Rahasia Planet Lenyap Ditelan Bintang Raksasa Terkuak Tuntas oleh Astronom

Sebuah planet berukuran Jupiter, yang dikenal sebagai ZTF SLRN-2020, ditemukan telah ditelan oleh bintang induknya sekitar 12.000 hingga 15.000 tahun cahaya dari Bumi di konstelasi Aquila. Peristiwa dramatis ini, pertama kali terdeteksi pada Mei 2020 oleh Fasilitas Transient Zwicky (ZTF) di Observatorium Palomar Caltech, dan kemudian dianalisis mendalam oleh Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) pada tahun 2025, telah memberikan wawasan krusial tentang takdir akhir sistem keplanetan. Studi awal pada tahun 2023 menyimpulkan bahwa planet itu ditelan oleh bintang yang menua yang mengembang menjadi raksasa merah. Namun, pengamatan terbaru dari JWST pada 2025 telah merevisi pemahaman tersebut, menunjukkan bahwa keruntuhan orbit planet yang terjadi secara bertahap akibat interaksi gravitasi adalah penyebab utama kehancurannya, bukan semata-mata ekspansi bintang.

Penemuan awal ZTF SLRN-2020 pada tahun 2020 menunjukkan sebuah bintang yang tiba-tiba menjadi lebih dari 100 kali lebih terang hanya dalam waktu 10 hari, sebelum meredup dengan cepat. Kilatan panas-putih ini kemudian diikuti oleh sinyal yang lebih dingin dan bertahan lebih lama. Kombinasi unik ini mendorong para ilmuwan untuk menyimpulkan adanya peristiwa penelanan planet. "Kami menyaksikan tahap akhir dari penelanan itu," ujar Kishalay De, seorang postdoc di Kavli Institute for Astrophysics and Space Research MIT dan penulis utama studi tahun 2023 yang diterbitkan di Nature. De, yang saat itu adalah mahasiswa pascasarjana di Caltech, menaksir planet yang binasa tersebut kemungkinan adalah dunia seukuran Jupiter yang panas, yang kemudian berputar mendekat dan ditarik ke dalam atmosfer bintang yang sekarat, lalu akhirnya ke intinya. Proses ini diyakini menyebabkan bintang mengembang dan mencerah lebih dari seratus kali lipat, sementara material dari planet yang hancur dan gas dari bintang membentuk awan debu dingin yang terdeteksi dalam inframerah.

Namun, analisis lanjutan pada tahun 2025 menggunakan instrumen Mid-Infrared Instrument (MIRI) dan Near-Infrared Spectrograph (NIRSpec) milik James Webb Space Telescope, di bawah kepemimpinan Ryan Lau dari NSF NOIRLab, mengungkapkan "kejutan yang tidak terduga". Pengamatan baru ini menantang hipotesis awal bahwa bintang tersebut membengkak untuk menelan planet seperti raksasa merah. Sebaliknya, data Webb menunjukkan bahwa orbit planet menyusut seiring waktu, secara perlahan menarik planet lebih dekat menuju kehancurannya hingga sepenuhnya ditelan. "Data baru menunjukkan bahwa planet dapat dihancurkan jauh sebelum akhir masa hidup bintang induknya karena interaksi gravitasi yang kuat di antara keduanya," kata De, menyoroti implikasi signifikan dari temuan Webb. Ryan Lau menambahkan, "Karena ini adalah peristiwa yang sangat baru, kami tidak tahu persis apa yang harus diharapkan ketika kami memutuskan untuk mengarahkan teleskop ini ke arahnya. Dengan pandangan resolusi tinggi dalam inframerah, kami memperoleh wawasan berharga tentang nasib akhir sistem keplanetan, mungkin termasuk milik kita sendiri."

Peristiwa ZTF SLRN-2020 telah diklasifikasikan sebagai "nova merah subluminous" (SLRN), sebuah kategori kejadian yang kurang terang dibandingkan nova merah biasa namun tetap menunjukkan pelepasan energi yang signifikan. Temuan ini sangat penting karena memperkaya pemahaman kita tentang evolusi bintang dan planet. Secara tradisional, diasumsikan bahwa planet akan ditelan ketika bintangnya memasuki fase raksasa merah, mengembang secara drastis setelah kehabisan bahan bakar hidrogen di intinya. Namun, kasus ZTF SLRN-2020, terutama dengan interpretasi terbaru dari JWST, menunjukkan mekanisme kehancuran planet yang lebih kompleks dan dapat terjadi lebih awal dalam siklus hidup bintang. Edward Bryant, seorang astronom dari University of Warwick, mencatat bahwa planet-planet memang "semakin langka" seiring bertambahnya usia bintang, sebuah observasi yang kini dapat dijelaskan lebih jauh oleh keruntuhan orbit yang dipicu oleh interaksi gravitasi.

Implikasi dari penemuan ini tidak hanya terbatas pada pemahaman eksoplanet. "Kami melihat masa depan Bumi," tutur De, merujuk pada takdir serupa yang menanti tata surya kita sendiri. Sekitar 5 miliar tahun dari sekarang, Matahari diproyeksikan akan kehabisan hidrogen, mengembang menjadi raksasa merah, dan menelan Merkurius, Venus, serta kemungkinan besar Bumi. Observasi ZTF SLRN-2020, dengan detail yang semakin jelas berkat JWST, memberikan gambaran nyata tentang bagaimana kehancuran planet dapat terjadi, baik melalui ekspansi bintang maupun, yang kini lebih mungkin, melalui spiral maut yang disebabkan oleh interaksi gravitasi. Penemuan ini menawarkan "mata rantai yang hilang" dalam evolusi sistem keplanetan dan memungkinkan para ilmuwan untuk membangun prediksi yang lebih akurat tentang akhir alam semesta lokal kita. Ini juga membuka arah baru bagi penelitian untuk memahami bagaimana bintang dan planet berevolusi bersama, serta membantu menginterpretasikan populasi planet yang bertahan hidup yang saat ini ditemukan di sekitar bintang-bintang lain yang berdekatan.