Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Siklon Aneh Biang Hujan Ekstrem Sumatera, Ini Kata Ahli

2025-12-02 | 16:15 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-02T09:15:54Z
Ruang Iklan

Siklon Aneh Biang Hujan Ekstrem Sumatera, Ini Kata Ahli

Pakar cuaca telah menyoroti pergerakan tak lazim Siklon Tropis Senyar sebagai penyebab utama di balik hujan ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah Sumatra baru-baru ini. Fenomena hidrometeorologi ini telah memicu banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, menimbulkan korban jiwa dan kerugian material.

Menurut Prof. Dr. techn. Marzuki, seorang pakar cuaca sekaligus dosen Universitas Andalas, siklon secara teori jarang terbentuk di daerah khatulistiwa seperti Sumatra Barat dan Sumatra Utara karena tidak terpenuhinya gaya Coriolis, sebuah gaya semu yang timbul akibat rotasi Bumi. Gaya Coriolis ini bernilai nol di garis khatulistiwa, sehingga fenomena rotasi fluida seperti siklon jarang terbentuk di wilayah tersebut. Namun, Siklon Tropis Senyar menunjukkan pergerakan yang berbeda.

Siklon ini terbentuk di Selat Malaka, sebuah lautan sempit, padahal umumnya siklon tropis terbentuk di lautan luas. Selain itu, Senyar terbentuk pada lintang kurang dari 5 derajat, sementara siklon biasanya muncul di lintang di atas 5 derajat di mana gaya Coriolis cukup kuat. Yang lebih tidak lazim, siklon ini bergerak mendekati khatulistiwa, bukan menjauhinya, sebuah anomali yang dinilai tidak normal oleh Prof. Marzuki. Meskipun pergerakannya lemah, dampaknya di Pulau Sumatra sangat dahsyat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa Siklon Tropis Senyar, yang berevolusi dari Bibit Siklon 95B di Selat Malaka timur Aceh pada 26 November 2025, menjadi pemicu utama hujan sangat lebat hingga ekstrem tersebut. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia sebenarnya bukan daerah yang rawan siklon. Namun, anomali atmosfer, cuaca, dan seruakan dingin menyebabkan Siklon Senyar di Selat Malaka. Ditambah lagi, suhu Selat Malaka yang hangat meningkatkan suplai uap air, memicu terbentuknya awan konvektif yang masif. Faisal menambahkan bahwa Siklon Senyar bahkan bertabrakan dengan Siklon Koto, menjebak hujan lebat di antara daratan Sumatra dan Semenanjung Malaysia selama dua hingga tiga hari. Curah hujan di beberapa titik, seperti Pos Langsa di Aceh, tercatat mencapai 380 mm dalam sehari, yang setara dengan curah hujan satu bulan penuh. Di Kabupaten Bireuen, curah hujan bahkan mencapai 411 mm per hari.

BMKG telah mengeluarkan peringatan dini mengenai Siklon Tropis Senyar delapan hari sebelum proses pembentukannya, dan mengulang peringatan tersebut empat serta dua hari sebelumnya kepada pemerintah daerah terkait. BMKG juga menekankan bahwa fenomena seperti Siklon Tropis Senyar ini tergolong tidak umum di perairan Selat Malaka, apalagi sampai melintasi daratan. Pakar Meteorologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Edvin Aldrian, menyatakan bahwa BMKG sudah memprediksi siklon ini akan terjadi, namun tidak menyangka dampaknya akan jauh lebih buruk dari perkiraan.

Selain faktor cuaca ekstrem, Hatma Suryatmojo, peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS Universitas Gadjah Mada (UGM), menduga adanya deforestasi masif di balik banjir bandang yang melanda Sumatra. Menurutnya, kerusakan ekosistem hutan di hulu daerah aliran sungai (DAS) menghilangkan daya dukung ekosistem untuk meredam curah hujan tinggi, memperparah dampak bencana.

Meskipun Siklon Tropis Senyar telah melemah menjadi Depresi Tropis, dampak lanjutan dari cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi. BMKG terus memantau dinamika atmosfer dan kini tengah melakukan operasi modifikasi cuaca di tiga posko wilayah Sumatra untuk mengurangi potensi bencana. Indonesia diingatkan untuk bersiaga terhadap ancaman siklon tropis yang ke depannya tidak lagi bisa dianggap sebagai kejadian tidak lazim.