
Persaingan ketat untuk menembus gerbang Institut Teknologi Bandung (ITB) menuntut persiapan yang matang dari para siswa sekolah menengah atas (SMA). Dalam konteks ini, penggunaan media sosial yang berlebihan, terutama platform seperti TikTok dan Instagram, dinilai dapat menjadi penghambat serius bagi ambisi tersebut.
ITB secara konsisten menjadi salah satu perguruan tinggi negeri paling diminati di Indonesia, dengan tingkat persaingan yang sangat tinggi. Beberapa fakultas/sekolah di ITB menunjukkan tingkat keketatan penerimaan yang ekstrem. Sebagai contoh, pada Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2024, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Komputasi (STEI-K) hanya menerima sekitar 3% dari total pendaftar, disusul oleh Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Kampus Ganesha (FTTM-G) dan Sekolah Bisnis dan Manajemen Kampus Ganesha (SBM-G) dengan keketatan 4%. Secara keseluruhan, pada SNBT 2025, ITB hanya menerima sekitar 20% dari total peminat, yang mencapai sekitar 34.000 peserta. Sementara itu, pada SNBP 2025, ITB menerima 1.911 mahasiswa baru, dengan peminat terbanyak dari Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan serta Sekolah Teknik Elektro dan Informatika - Komputasi.
Institut Teknologi Bandung mencari calon mahasiswa dengan kemampuan akademik yang tinggi. Jalur penerimaan meliputi Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) yang melibatkan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), serta Seleksi Mandiri (SM-ITB) yang mempertimbangkan nilai UTBK, nilai rapor, dan ujian seleksi akademik daring. Bahkan mulai tahun 2026, ITB juga akan membuka jalur Seleksi Siswa Unggul (SSU) yang memungkinkan siswa berprestasi di bidang olimpiade atau keagamaan dapat diterima tanpa tes.
Rektor ITB periode 2025-2030, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, yang dilantik pada 20 Januari 2025, menggantikan Prof. Reini Wirahadikusumah, Ph.D., menegaskan visi ITB sebagai universitas generasi keempat yang mengintegrasikan pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, kewirausahaan, dan inovasi multidisiplin.
Penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara intensitas penggunaan media sosial dengan kemampuan konsentrasi dan prestasi akademik siswa. Platform berbasis video pendek seperti TikTok dan Instagram, khususnya, memiliki korelasi negatif yang lebih kuat terhadap fokus belajar dibandingkan platform lainnya. Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat mengalihkan perhatian dari tugas akademik, mengurangi waktu belajar, menurunkan konsentrasi, menyebabkan kualitas tidur yang buruk, dan menghambat produktivitas. Walaupun media sosial juga bisa memberikan dampak positif jika digunakan secara bijak untuk tujuan edukasi, seperti mengakses sumber belajar dan meningkatkan kolaborasi, penggunaannya harus dibatasi dan terarah.
Mengingat ketatnya persaingan, persiapan yang efektif sangat krusial. Waktu ideal untuk mulai mempersiapkan UTBK adalah sejak kelas 11 SMA, agar terbiasa dengan materi dan pola soal. Sekretaris Jenderal Ikatan Alumni ITB, Arya Sinulingga, menyarankan para calon mahasiswa untuk memiliki pemikiran positif dan yakin akan diterima di ITB. Selain itu, kiat sukses termasuk memperbanyak latihan soal, mengikuti tryout, dan mengatur waktu dengan baik. Waktu-waktu efektif untuk belajar meliputi jam 07:00-11:00 untuk memahami konsep baru, 13:00-15:00 untuk berlatih soal, 16:00-18:00 untuk meninjau materi, dan 19:00-21:00 untuk pembahasan dan evaluasi. Penting bagi siswa untuk menyingkirkan distraksi dan membuat daftar rincian tugas serta target belajar untuk mengelola waktu antara tugas sekolah dan persiapan masuk perguruan tinggi. Dengan demikian, mengurangi penggunaan media sosial yang tidak relevan dan mengalokasikan waktu untuk belajar dengan disiplin menjadi pesan penting bagi siswa SMA yang bercita-cita melanjutkan pendidikan di ITB.