:strip_icc()/kly-media-production/medias/2300065/original/023860100_1533266876-wni-di-saudi-berbondong-bondong-daftar-jadi-petugas-badal-haji-1808027_3x2.jpg)
Skema Murur Haji yang diterapkan pada penyelenggaraan ibadah haji 2025 dinilai berhasil secara signifikan dalam meningkatkan keteraturan dan kelancaran pergerakan jemaah. Keberhasilan ini mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan kelanjutan skema tersebut pada musim haji 2026.
Skema Murur diperkenalkan sebagai nomenklatur baru oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar untuk penyelenggaraan ibadah haji 2025, khususnya sebagai solusi atas tantangan bermalam (mabit) di Muzdalifah. Dalam pelaksanaannya, jemaah tidak perlu turun dari bus dan bermalam secara fisik di area Muzdalifah. Kendaraan yang berhenti cukup lama akibat kemacetan dianalogikan sebagai bentuk mabit yang sah, terutama bagi jemaah lanjut usia (lansia) dan disabilitas yang memiliki keterbatasan mobilitas. Kebijakan ini dianggap sah secara fikih dan bertujuan menjadikan ibadah haji lebih ramah lansia. Secara sistematis, skema ini telah diterapkan pada musim haji 2024 (1445 H) dan kemudian diperkuat serta diterapkan kembali secara resmi pada 2025 (1446 H).
Evaluasi awal terhadap implementasi Skema Murur Haji 2025 menunjukkan hasil yang sangat positif. Banyak jemaah merasakan perjalanan yang lebih lancar dan tidak terlalu padat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Otoritas penyelenggara haji mencatat pola pergerakan yang jauh lebih stabil, dengan pengurangan kepadatan di beberapa titik vital, yang dianggap sebagai bukti keberhasilan teknis yang signifikan. Penurunan kepadatan jemaah di jalur menuju Jamarat juga teridentifikasi, dan petugas di lapangan melaporkan koordinasi antar rombongan berjalan lebih rapi. Indeks Kepuasan Jemaah Haji (IKJHI) tahun 2025 mencapai 88,64, masuk kategori "sangat memuaskan".
Selain Murur, Kementerian Agama juga memperkenalkan skema Tanazul, yang bertujuan mengurangi kepadatan jemaah saat mabit di Mina. Melalui Tanazul, jemaah yang menginap di hotel dekat area Jamarat dapat kembali ke hotel mereka tanpa harus menempati tenda di Mina. Skema ini bersifat opsional dan pada 2025 diperkirakan sekitar 37.497 jemaah lansia atau berisiko tinggi mengikuti Tanazul.
Melihat capaian pada 2025, pemerintah saat ini tengah mempertimbangkan dengan serius untuk melanjutkan Skema Murur Haji pada 2026. Pertimbangan ini didasari oleh data lapangan, masukan dari jemaah haji, dan efektivitas pengaturan arus menuju lokasi-lokasi utama ibadah. Meskipun demikian, keputusan resmi masih menunggu hasil evaluasi lintas sektor yang komprehensif. Aspek keamanan tetap menjadi prioritas utama sebelum skema ini diputuskan untuk diterapkan kembali, dan masukan publik juga menjadi bagian penting dalam pembahasan.
Wakil Menteri Haji Dahnil Anzar Simanjuntak menyatakan bahwa strategi Murur akan tetap dilanjutkan dengan memberikan prioritas kepada jemaah lanjut usia, disabilitas, dan para pendampingnya pada tahun 2026. Kementerian Haji juga tengah menyiapkan skema Murur dan Tanazul untuk 50.000 calon haji prioritas. Evaluasi detail tetap akan dilakukan agar rencana tahun depan lebih matang, dengan harapan skema ini dapat terus memberikan pengalaman ibadah yang lebih tertata dan aman di masa mendatang. Kementerian Agama di tingkat provinsi, seperti Jawa Timur, juga telah mulai menyusun skema kuota haji 2026 berdasarkan data 2025 sebagai dasar penghitungan awal. Kementerian Haji juga telah menerbitkan rencana perjalanan haji 2026.