Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Tempe: Jurus Pamungkas Indonesia Menuju Ibu Kota Budaya Dunia

2025-12-19 | 22:21 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-19T15:21:32Z
Ruang Iklan

Tempe: Jurus Pamungkas Indonesia Menuju Ibu Kota Budaya Dunia

Indonesia tengah memantapkan langkahnya menuju posisi Ibu Kota Kebudayaan Dunia, sebuah ambisi yang gencar disuarakan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Dengan kekayaan budaya yang berlimpah, mencakup lebih dari 1.300 kelompok etnis dan beragam ekspresi budaya, Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi pusat peradaban kebudayaan global. Menteri Fadli Zon menegaskan bahwa budaya merupakan kekuatan lunak (soft power) yang luar biasa dan harta nasional yang tak ternilai, sejajar dengan sumber daya alam.

Dalam konteks diplomasi budaya, tempe, makanan fermentasi tradisional yang sederhana, kini menjadi "senjata" strategis Indonesia di kancah internasional. Sejak tahun 1970-an, diaspora Indonesia mulai memperkenalkan tempe di Belanda dan Amerika, dengan puncaknya pada tahun 1983 ketika Prof. Winarno dan tim Institut Pertanian Bogor (IPB) membawa tempe ke konferensi pangan dunia. Sejak saat itu, tempe tidak hanya dikenal sebagai makanan rakyat, tetapi juga sebagai produk kebudayaan bernilai universal.

Pemerintah Indonesia secara resmi telah mengajukan tempe untuk diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO. Pengajuan ini, yang secara formal disetujui oleh Kementerian Kebudayaan pada Maret 2025, bertujuan utama untuk melestarikan dan merawat tradisi budaya yang telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Indonesia, bukan semata-mata mencari pengakuan internasional. Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha menyatakan bahwa tempe saat ini tengah dikaji oleh UNESCO dan diharapkan dapat disahkan pada tahun 2026 sebagai warisan budaya takbenda ke-17 dari Indonesia. Pengajuan ini menyoroti tempe sebagai warisan berbasis pengetahuan, meliputi proses fermentasi, nilai gizi, dan praktik sosial yang menyertainya, yang sejalan dengan tren global mengenai makanan sehat, pola makan bersih, dan veganisme.

Tempe kini rutin hadir dalam perhelatan diplomasi kuliner di luar negeri, disajikan dalam berbagai menu seperti tempe goreng, tempe bacem, hingga kreasi modern seperti burger tempe di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di berbagai negara. Kementerian Luar Negeri melalui program "Indonesian Culinary Diplomacy" secara aktif mempromosikan tempe di berbagai kegiatan, termasuk Expo Pangan Dunia dan pameran budaya ASEAN. Respon positif dari masyarakat asing menunjukkan bahwa tempe dianggap unik, lezat, dan bergizi tinggi. Pengakuan UNESCO diharapkan akan semakin memperkuat posisi tempe sebagai kekuatan lunak Indonesia dalam percaturan global, menyusul ikon kuliner negara lain seperti sushi dari Jepang atau kimchi dari Korea. Lebih dari itu, tempe juga diusung sebagai simbol keberlanjutan dan makanan sehat rendah emisi karbon, sejalan dengan isu lingkungan internasional.

Selain tempe, upaya diplomasi budaya Indonesia juga diperkuat melalui berbagai inisiatif lain. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menyelenggarakan Program Residensi Pemajuan Kebudayaan 2024 yang melibatkan pelaku budaya dari 18 negara untuk memperluas jejaring internasional. Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) juga menjadi jembatan penting untuk pertukaran budaya, dengan target pemerintah menjadikan Bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa resmi UNESCO. Terakhir, Indonesia memprakarsai Deklarasi Inisiatif Budaya Bali 2025 melalui acara Culture, Heritage, Art, Narrative, Diplomacy, and Innovation (CHANDI) 2025, di mana 35 negara sepakat untuk memperkuat diplomasi budaya, menegaskan peran sentral budaya dalam membentuk masa depan yang damai dan berkelanjutan. Keseluruhan inisiatif ini menunjukkan keseriusan Indonesia dalam menempatkan budayanya sebagai aset utama di panggung dunia.