
Sejumlah perguruan tinggi di Indonesia menunjukkan kepedulian terhadap mahasiswanya yang terdampak bencana banjir di berbagai wilayah Sumatera dengan membebaskan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Langkah ini diambil untuk meringankan beban ekonomi dan psikologis mahasiswa agar mereka dapat melanjutkan pendidikan tanpa terhambat kondisi darurat keluarga.
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menjadi salah satu kampus yang cepat tanggap dalam memberikan bantuan. UPI telah memastikan kondisi mahasiswanya yang berasal dari daerah terdampak banjir Sumatera dan memberikan dukungan awal. Pihak UPI juga membebaskan UKT bagi mahasiswa terdampak banjir Sumatera, dengan data yang masih terus dikumpulkan. Sebuah kasus khusus menyebutkan UPI membebaskan UKT hingga lulus bagi seorang mahasiswa yang terdampak parah, bahkan menawarkan fasilitas asrama untuk memastikan lingkungan yang aman selama pemulihan.
Selanjutnya, Universitas Diponegoro (Undip) juga turut serta membebaskan pembayaran UKT bagi mahasiswanya yang keluarganya terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera. Hingga saat ini, Undip telah mendata 95 mahasiswa dari berbagai jenjang dan fakultas yang akan menerima bantuan, dan proses pendataan masih terus berlangsung. Selain pembebasan UKT, Undip juga menyediakan mekanisme bantuan lain yang meliputi pemberian biaya hidup dan fasilitas pembelajaran. Undip juga aktif menggalang dana dan bahkan mempersiapkan pengiriman teknologi desalinasi air siap minum ke lokasi terdampak bencana.
Tidak ketinggalan, Universitas Negeri Makassar (UNM) mengambil kebijakan serupa dengan memberikan pembebasan UKT bagi mahasiswa yang keluarganya terdampak bencana alam di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Kebijakan ini juga mencakup bantuan biaya hidup selama satu semester awal bagi mahasiswa terdampak. Plh Rektor UNM, Prof. Farida Patittingi, menyatakan bahwa UNM segera melakukan pendataan terhadap mahasiswa yang terdampak, dan pendataan sementara menunjukkan sekitar empat mahasiswa dari Sumatera Utara dan Aceh telah teridentifikasi sebagai penerima bantuan. Program ini bertujuan untuk meringankan beban ekonomi dan psikologis mahasiswa agar mereka dapat tetap fokus menjalani proses perkuliahan.
Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Sumatera telah memicu berbagai respons kemanusiaan, termasuk dari sektor pendidikan tinggi. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) sendiri telah merumuskan rencana aksi pemulihan, termasuk pembebasan UKT selama satu hingga dua semester bagi mahasiswa yang terdampak atau berasal dari keluarga terdampak bencana, yang dijadwalkan akan mulai berjalan pada Januari 2026 menggunakan anggaran tahun tersebut. Langkah-langkah ini mencerminkan komitmen perguruan tinggi untuk memastikan keberlanjutan pendidikan mahasiswa di tengah tantangan bencana alam.